DI BALIK ketegasannya sebagai seorang konglomerat media yang mengendalikan puluhan perusahaan di bawah bendera Jawa Pos National Network (JPNN), Rida K Liamsi sejatinya adalah seorang penyair yang tersesat di rimba bisnis. Naluri kesastraannya tidak pernah luntur, justru ia menggunakan kekuasaan medianya sebagai kendaraan utama untuk mempertahankan marwah dan identitas budaya Melayu.
Sejak Harian Riau Pos merajai pasar Sumatra pada pertengahan 1990-an, Rida secara radikal menolak konsep bahwa koran hanyalah komoditas bisnis murni pencetak laba. Ia sadar betul akan beban sejarah yang dipikul Riau. Daerah kepulauan ini adalah rahim yang melahirkan Bahasa Melayu, yang kelak diadopsi secara nasional menjadi Bahasa Indonesia.
Bagi Rida, pengakuan nasional tersebut meninggalkan utang batin. Bahasa Indonesia perlahan menggerus akar kultur Melayu aslinya akibat kuatnya intervensi modernisasi dan pergeseran politik. Untuk mencegah hilangnya jati diri tersebut, Rida mendedikasikan ruang halaman yang sangat luas di surat kabarnya khusus untuk rubrik sastra, esai budaya, dan puisi melalui sisipan Bunga Rampai setiap akhir pekan.
Lahirnya Yayasan dan Majalah Sagang
Langkah idealis ini kemudian diformalkan dengan mendirikan institusi kebudayaan bernama Yayasan Sagang. Rida sengaja menempatkan para jurnalis yang memiliki latar belakang seniman dan sastrawan sebagai tulang punggung utama penggerak yayasan tersebut. Mereka tidak hanya ditugaskan mengejar berita politik atau ekonomi, tetapi diwajibkan menggali dan merawat warisan budaya tak benda di bumi Lancang Kuning.
Pemilihan nama “Sagang” sendiri mencerminkan visi puitis sang Chairman. Rida menggali kata tersebut dari leksikon bahasa Melayu pesisir yang sehari-hari digunakan oleh para nelayan di Singkep, Lingga, dan semenanjung Malaysia.
Secara harfiah, sagang adalah sepotong kayu berukuran sangat kecil—berdiameter sekitar dua hingga tiga sentimeter—yang dipasang melintang pada penyokong tiang layar perahu. Fungsinya sangat vital: meredam guncangan angin barat yang turun menukik secara tiba-tiba, sehingga layar tidak robek dan perahu nelayan tetap seimbang mengarungi badai.
“Filosofinya, sagang merupakan simbol dari semangat untuk menjadi penyangga yang mendorong dan menggerakkan kreativitas budaya Melayu agar tidak karam dihantam gelombang zaman,” urai Rida menjelaskan filosofi mahakaryanya tersebut.
Mengangkat Derajat Seniman Lokal
Pada tahun 1996, bertepatan dengan perayaan ulang tahun kelima Harian Riau Pos, Yayasan Sagang secara resmi meluncurkan Anugerah Sagang. Inisiatif ini mendobrak kebiasaan pemerintah yang kala itu sangat abai terhadap kesejahteraan dan eksistensi para budayawan lokal. Apresiasi perdana langsung diberikan untuk menghormati dedikasi seniman teater legendaris Idrus Tintin serta karya emas dari KHA Kadir MZ.
Tahun demi tahun, radar pencarian Anugerah Sagang semakin luas dan tajam. Penghargaan ini menjadi standar tertinggi validasi budaya di Riau. Deretan nama besar seperti budayawan Suman Hs, peneliti sejarah UU Hamidy, hingga institusi pelestari adat seperti Yayasan Indra Sakti di Pulau Penyengat, silih berganti naik ke atas panggung kehormatan menerima trofi ini.
Tidak puas hanya bermain di ranah lokal, pada tahun 1999 Rida memperluas pengaruhnya dengan mencetuskan kategori Anugerah Serantau. Apresiasi bertaraf internasional ini khusus diberikan kepada entitas atau individu di luar wilayah administrasi Riau yang berjuang menjaga budaya Melayu. Salah satu penerima awalnya adalah Gabungan Penulis Nasional (Gapena) dari Malaysia, membuktikan bahwa hegemoni budaya Riau Pos sanggup melampaui batas teritorial negara.
Konsistensi Riau Pos menempatkan kebudayaan di atas kepentingan komersial ini memantik kekaguman luar biasa. Dukungan moral mengalir deras dari tokoh masyarakat hingga ke tingkat pemerintahan. Tokoh pers ini sukses meyakinkan deretan Gubernur Riau mulai dari Soeripto, Saleh Djasit, hingga Rusli Zainal, untuk menempatkan Anugerah Sagang sebagai agenda kebudayaan paling krusial. Lewat Sagang, Rida membuktikan bahwa pena seorang jurnalis tak sekadar mampu menggulingkan kebijakan korup, tetapi juga sanggup menjaga nyala api peradaban sebuah bangsa. ***
Tentang Penulis: Hermanto Ansam adalah murid Rida K Liamsi, pernah bekerja di Riau Pos Group sejak Januari 1993 hingga April 2013, sebelum akhirnya mendirikan GoRiau.com tahun 2013.






