Drama Cina

Husnizar Hood
banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Husnizar Hood

Pernah nonton drama cina di handphone anda? Ada tu aplikasinya tapi yang paling sering adalah dia lewat melintas-lintas di layar handphone kita berbentuk iklan, selalu yang selalu melintas itu tepat di adegan-adegan yang membuat penasaran, hati berdebar, seperti cerita seorang suami miskin yang ternyata dia adalah seorang CEO kaya raya yang lagi hilang ingatan, atau seorang kaisar muda yang menyamar untuk mencari cintan sejati dan banyak lagi cerita seru yang lain.

banner 325x300

“Pernahlah Tok, selalu saya jumpa iklan tu, begitu kita masuk panjang ceritanya cuma 1 menit, kalau kita nak tengok lagi disuruh pula kita berlangganan atau disuruh menonton iklan yang mereka tayangkan”, keluh Mahmud.

Saya tersenyum selintas saja, sebab sayapun pernah bernasib sama dengan Mahmud, makin diikuti cerita itu semakin banyak iklan yang ditayangkan, berjela-jela panjangnya.

Inipun gara-gara isteri saya juga entah dari mana sebab musababnya akhir-akhir ini setiap hari suara drama cina itu mengisi ruang kamar kami, nak saya tegur macam tak sedap hati, drama cina itu bagai jadi penghibur hati baginya, jadi pelepas penat sejak pagi lagi mulai dari membersihkan rumah sampai memasak dan kita suami-suami yang baik hati ini paling-paling hanya tinggal meradak.

Saya ceritakan kisah isteri saya itu kepada Mahmud, termasuk kisah kita ini hanya pandai meradak, Mahmud hampir tersedak sudah lama dia tak mendengar kata meradak tu, makan dengan lahap artinya.

Kisah drama cina ini memang hebat, saya pernah mendengar menteri keuangan kita yang koboi itu pernah bilang kalau beliau lagi stress kadang obat stressnya beliau nonton drama cina.

“Padahal cerita yang diangkatnya itu kadang cerita-cerita yang tak masuk akal dan terasa dibuat-buat dan selalu saja kita sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi entah kenapa kita tonton juga”, ujar Mahmud, ada setengah penyesalan di dalamnya kalau saya mendengat dari apa yang ia ucapkan.

Dalam hati saya, cina sekarang ini memang hebat, bukan hanya dari barang-barang produksinya saja atau pencapaian teknologinya, soal “mendongeng” dengan cerita anak miskin yang ternyata adalah anak orang kaya yang tertukar itupun kita rela mengikuti jalan cerita dan jalan pikiran mereka.

Bahkan disebuah podcast ada selebgram yang rumah tangganya diambang kehancuran sedang mencurahkan isi hatinya karena salah satu yang ia risaukan adalah suaminya lebih banyak melihat drama cina di layar handphonenya daripada melihat dirinya. hmmm

Kadang-kadang mendengar itu kening kita jadi berkerut panjang, takkanlah gara-gara drama cina rumah tanggan berantakan atau karena drama cina menteri keuangan “koboi” kita jadi drama baru bangsa ini.

“ini baru drama atau ini drama baru”, tanya saya pada Mahmud.

Kawan saya itu dengan lekas menjawab, “Hidup ini kan hanya sebuah permainan Tok, kadang dia isinya hanya senda gurau, panggung sandiwara seperti yang dinyanyikan Ahmad Albar, semua itu drama”, u ap Mahmud

Sekarang kita memang seperti sedang berada dalam sebuah drama baru walaupun isinya cerita-cerita lama, cerita-cerita yang sebenarnya kita sudah tahu dan kita sudah bisa menebak-nebak jawabannya tapi terus terpotong iklan atau kuota internet kita tiba-tiba lelet atau habis paket.

Drama itu kalau di kampung kita bernama “cerita melayu”, pernah dengar kiasan itu, cerita melayu itu tak jauh ceritanya tentang percintaan yang berurai airmata, perebutan harta warisan dan yang paling puncak adalah pengkhiatan dan berebut kekuasaan dan yang paling banyak adegannya makan.

Seperti drama korea yang selalu ada adegan orang menggosok gigi, entah apa maksudnya dan cobalah sesekali di perhatikan atau drama amerika yang selalu menyelipkan gambar bendera mereka, mungkin itu untuk meningkatkan rasa kebangsaan generasi mudanya.

Tapi cerita melayu atau drama melayu memang adegan makan paling banyak divisualkan.

Kawan saya Mahmud macam tak setuju dengan pendapat saya dia mulai menjelajah aku youtube miliknya mencoba mencari adegan seperti yang saya katakan dan saya lihat sesekali dia mengganguk-anggukkan kepala dengan senyum yang tertahan.

Lalu hari ini drama itu masih terus saja belum menemukan batas ceritanya, soal pemerintah yang seperti sedang terduduk atau tersandar karena mengalami masa-masa sulit dengan anggaran dan yang sempit.

“Waktu mereka senang lenang mereka tak pernah pulak bilang ke kita ya Tok?”, tanya Mahmud kepada saya.

“Mungkin macam drama itu juga Mud, katakanlah mereka sekarang dalam keadaan susah siapa tau nanti ternyata mereka adalah orang kaya, anak CEO perusahaan besar”, balas saya meniru cerita drama cina.

Mahmud tertawa, saya menahan tawa seperti saya juga sekarang sedang menahan nafas melihat drama-drama di sekeliling kita.

Ini cerita Mahmud, dia bilang ada seorang kawan yang selalu diingatkan banyak orang kalau dia berkawan dengan kami itu berbahaya, karena kami ini dianggap orang yang berbahaya. Lama kawan saya Mahmud berpikir apalah bahaya kami ini dan kawan itu juga sama berpikir apalah bahaya saya dan Mahmud ini.

Sampai satu kali, adalah kegiatan yang kami kerjakan bersama-sama tapi tiba-tiba kawan itu dengan selambe meninggalkan kami dan dia jalan sendiri, bukan main Mahmud menepuk kepalanya sendiri, “Ternyata dia yang berbahaya bukan kita!”.

Mirip dengan intrik-intrik drama cina terjadi juga dengan kami sampai Mahmud naik pitam dia bilang “Kami ini tak pernah mengusik orang tapi jangan coba mengusik kami”, saya sabar-sabarkan kawan itu.

Banyak pulak orang menyalahkan Mahmud tapi kawan saya itu mengikut apa yang saya katakan, diamkan saja, melawan drama cina ini berat dengan drama melayu apalagi drama india.

banner 325x300