Saya lihat kawan saya Mahmud wajahnya berseri-seri dibandingkan beberapa hari kemarin. Saya maklumlah kalau sekarang dia seperti itu,kata orang Melayu “Dah pecah bisulnya”, mungkin itu yang ia rasakan sekarang, anak bungsunya dah selesai melangsungkan pernikahan kemarin, saking sibuknya, membalas WA saya dia tak sempat, Tunai sudah segala janji”, sempat pula dia berpuisi.
Pagi ini makanya saya ajak dia ngopi, ditempat yang baru, bukan ditempat biasa kami bertemu, kami ngopi di depan sebuah SMA tapi entah kenapa kawan saya sejak duduk dia tersenyum-senyum bahagia ketika mendengar lagu yang sedang di putar dari SMA itu, soundnya bagus, suaranya jelas, saya tahu lagu itu hanya saya tak tahu judulnya sementara bukan Mahmud namanya kalau ia tak tahu, “Bimbang Serumpun Kasih Terbuang”, ucapnya sambil ia bernyanyi-nyanyi kecil sendiri.
Lagu itu mendayu-dayu, merasuk dalam jiwa, mungkin karena ini sebuah SMA dalam pikir saya, kalau saja ini SMK mungkin lagunya agak lain, seperti yang heboh nun jauh di negeri sana ada anak SMK yang ketahuan merokok ditampar gurunya tapi malah gurunya yang dilaporkan ke polisi dan kawan-kawan yang lainnya malah mogok belajar 2 hari konon menunjukkan solidaritas, minta dilengserkan kepala sekolahnya.
“Sekarang di setiap jam 10 pagi disemua sekolah dan semua instansi wajib diputar lagu kebangsaan Tok, dan lagu-lagu yang meningkakan nasionalisme”, begitu ucap Mahmud kepada saya.
Oh, ya baru saya ingat, maklumlah dah lama tak sekolah dah dah lama juga tak bekerja jadi tak tau tentang lagu nasionalisme setiap jam 10 itu.
Tapi memutar lagu “Bimbang Serumpun Kasih Terbuang” itu agak pelik juga, jauh dari nasionalisme, kalau yang memutarnya guru kita anggap saja dia lagi galau tapi kalau yang memutarnya murid mungkin dia lagi curhat.
“Mungkin karena hari ini Hari Kebudayaan Nasional Mud makanya mereka memutar lagu itu”, ucap saya kepada Mahmud. Kawan saya itu menoleh dengan cepat ke arah saya, saya tahu dia pasti ingin bertanya apa huhungannya lagu negeri jiran kita itu dengan kebudayaan nasional kita.
“Cobalah buka youtube cari lagu seuai judul yang saya katakan itu”, ucap Mahmud lagi.
17 Oktober 2025 ini telah ditetapkan sebagai Hari Budaya Nasional, hari ini juga hari kelahiran bapak Presiden kita Prabowo Subianto, mungkin ditempat lain dirayakan dengan meriah tapi di kampung kita nampaknya sunyi sepi hanya kebetulan bersamaan dengan hari jadi kota otonom Tanjungpinang.
“Saya lihat tadi ada banyak orang berbaju melayu berduyun-duyun macam ada pesta nikah kawin saja”, balas Mahmud dengan santai. “Awak tak diundang Tok?”, tanyanya pulak.
Saya menggelengkan kepala, siapa juga kita ini, tak ada juga jasa kita dengan kota yang menjadi jantung negeri Melayu ini, kalaupun ada jasa kita dulu-dulu itu mungkin memang masuk dalam ambung tapi tak masuk hitung.
Setiap pagi kota ini jalannya padat bahkan lalu lintasnya harus direkayasa dari mulai jam 6.30 sampai dengan jam 08.00, itu berarti penduduknya dinamis tapi kenapa ekonominya bergerak lamban, daya belinya lemah, sampai ada yang mengirim pesan bertanya “Usaha kuliner di Tanjunhpinang awalnya saja ramai setelah sebulan mulai sepi”.
Mahmud kawan saya itu hanya menaikkan alis matanya saja, dia sempat bercerita di awal pertemuan kami tadi kalau hari ini ada Mi Gagoan mulai dibuka di Tanjungpinang semoga maju, laris dan jadi pilihan dan itu semua membuat ekonomi Tanjungpinang bergerak lagi.
Menjadikan negeri ini pariwisatanya maju tak bisa hanya pemerintah saja yanh bekerja, pariwisata itu sistim dan pihak swasta dan pelaku pariwisata yang lebih berperan, pemerintah hanya memfasilitasi saja.
Dunia pariwisata pun melemah makanya kata Mahmud kawan saya, Kalau sistim belum terbentuk kita jual nama saja dulu, agak orang tahi, kemudian orang ingin tahu dan nanti orang datang.
“Jual semua kelebihan yang kita punya, sekecil apapun dan dikemas dengan baik dan indah”, begitu ungkapan Mahmud.
“Bimbang Serumpun Kasih Terbuang”, sudah menghilang yang tinggal hanya bimbang negeri ini yang akan terbuang karena itu saya dan Mahmud terus berikhtiar, membawa nama negeri ke tengah gelanggang walaupun tak dipeduli orang.
Oleh: Husnizar Hood








