DEKADE 1990-an mencatat sejarah kelam bagi industri literasi di Provinsi Riau. Daerah yang kaya akan sumber daya alam ini nyatanya merupakan tanah tandus bagi bisnis media cetak. Belum ada satupun koran harian yang sanggup bertahan hidup melampaui enam bulan, membuat Riau lekat dengan stigma “kuburan koran”. Namun, sebuah pertemuan di Surabaya sukses meruntuhkan kutukan tersebut selamanya.
Kisah ini bermula pada Maret 1990, saat Rida K Liamsi yang menjabat sebagai redaktur pelaksana Harian Suara Karya ditugaskan untuk mewawancarai Direktur Utama Jawa Pos, Dahlan Iskan. Niat awal untuk membahas kerusuhan suporter sepak bola Persebaya mendadak berubah arah ketika Dahlan memotong percakapan dan melontarkan sebuah tantangan yang dianggap gila pada masa itu.
“Sudahlah Rid, tak usah dipikirkan sepakbola itu. Sekarang bagaimana kalau kita bikin koran di Riau. Anda berani?” tantang Dahlan Iskan menatap lekat mata mantan rekannya tersebut.
Darah jurnalistik Rida mendidih. Tanpa ragu, ia menyanggupi tantangan tersebut, mematok satu syarat mutlak: ketersediaan mesin cetak dari Jawa Pos, mengingat Riau sama sekali tidak memiliki infrastruktur percetakan yang memadai. Setelah melakukan salat sunat istikharah dan meyakinkan istrinya, Rida mempertaruhkan segalanya. Kesepakatan bersejarah antara dirinya dan perwakilan Jawa Pos diteken pada Juni 1990, mengawali lahirnya Harian Riau Pos yang resmi terbit perdana pada 18 Januari 1991, bertepatan dengan pecahnya Perang Teluk I.
Gadai Emas dan Pertaruhan Nyawa
Banyak pihak mengira Riau Pos lahir dengan gelontoran modal raksasa dari Surabaya. Kenyataannya jauh dari itu. Modal awal perusahaan hanyalah Rp400 juta yang sebagian besar tersedot untuk infrastruktur dasar. Untuk menghidupkan mesin cetak setiap hari, manajemen dihadapkan pada mimpi buruk finansial yang sangat menyiksa.
Rida harus pontang-panting terbang ke Batam untuk meminjam kredit modal kerja sebesar Rp100 juta ke sebuah bank. Demi meyakinkan pihak kreditur, ia dan Dahlan Iskan bahkan harus menyewa mobil mewah dan membeli dasi baru agar terlihat seperti pengusaha bonafide. Saat arus kas perusahaan benar-benar mengering dan tidak mampu membeli stok kertas, Rida secara diam-diam harus menggadaikan kalung emas milik istrinya demi menyelamatkan edisi cetak keesokan harinya.
Ujian terberat justru datang dari ruang produksi. Mesin cetak bekas bermerek Harris V yang didatangkan dari Jawa sering kali mengalami kerusakan fatal di tengah malam. Dalam kondisi kritis ketiadaan suku cadang pengganti, sebuah aksi heroik dilakukan oleh pegawai PT Caltex Pacific Indonesia (CPI), Sugiono.
Demi menemukan besi penyambung (steiger) yang ukurannya pas untuk mesin cetak, Sugiono nekat melepas bajunya dan terjun menyelam ke dasar sungai yang saat itu dipenuhi dengan kotoran manusia dan sampah industri.
“Wes to, kita angkat saja. Biar nanti, pulang kita mandi,” kenang Rida menirukan ucapan Sugiono dengan mata berkaca-kaca, mengingat pengorbanan yang melampaui batas kewajaran tersebut.
Mitos Runtuh, Imperium Bangkit
Penderitaan operasional menjalar hingga ke kesejahteraan karyawan. Keengganan agen koran lokal untuk mendistribusikan produk baru ini membuat pemasukan mandek. Manajemen terpaksa menahan honor para wartawan dan staf. Di masa krisis itu, lahirlah istilah kelam “Gajian Tanggal 45 atau Tanggal 60” karena karyawan baru bisa menerima upah dua bulan kemudian. Para editor muda rela tidak pulang, tidur beralaskan tumpukan kertas di meja redaksi, menyusun huruf secara manual, dan memotong gambar (cropping) berbekal gunting dan lem.
Keringat dan air mata itu akhirnya membeku menjadi pondasi beton yang sangat kuat. Berkat keluwesan lobi Rida dan dukungan diam-diam dari Gubernur Riau, Soeripto, Riau Pos perlahan merebut hati masyarakat. Oplah yang awalnya hanya tertatih di angka 2.500 eksemplar, meledak melampaui 20.000 pada tahun kelima. Momentum Reformasi 1998 bahkan melambungkan sirkulasi mereka hingga mencetak rekor fantastis 50.000 eksemplar per hari.
Merayakan kemenangan ini, Riau Pos memajang billboard raksasa bergambar karikatur ikonik “Wak Atan” yang sedang membidik pesawat kertas dengan panah, sebuah deklarasi kemenangan absolut bahwa mitos “kuburan koran” di Riau telah resmi dihancurkan.
Keberhasilan ini menjadi batu loncatan. Rida terus berekspansi, mempelopori Sistem Cetak Jarak Jauh (SCJJ) untuk menembus pasar Tanjungpinang dan Batam, hingga akhirnya melahirkan Sijori Pos yang beroplah 100.000 eksemplar. Dari sebatas menyewa ruko sempit, Riau Pos Group menjelma menjadi raksasa yang membangun menara 12 lantai Graha Pena Riau, serta mengambil alih dominasi media massa di seluruh Sumatra dan jaringan Jawa Pos National Network (JPNN). ***
Tentang Penulis: Hermanto Ansam adalah murid Rida K Liamsi, pernah bekerja di Riau Pos Group sejak Januari 1993 hingga April 2013, sebelum akhirnya mendirikan GoRiau.com tahun 2013.






