Penulis: Hermanto Ansam
ANGIN pesisir Singkep tidak pernah gagal membawa aroma laut yang pekat ke daratan, namun bagi seorang pemuda bernama Ismail Kadir, angin itu justru membawa kegelisahan. Jauh sebelum publik mengenalnya sebagai Rida K Liamsi, tokoh pers paling berpengaruh di Sumatra, ia hanyalah seorang guru Sekolah Dasar (SD) yang terjebak diantara kewajiban mengabdi pada negara dan hasrat liar untuk menuliskan kebenaran.
Lahir di Bakong, Singkep, Sabtu, 17 Juli 1943, kehidupan masa mudanya dibentuk oleh kerasnya alam pesisir dan ketidakpastian ekonomi. Kehilangan sosok ayah sejak dini memaksanya mencicipi kerasnya dunia kerja. Mulai dari menjadi pelaut yang bergulat dengan ganasnya ombak, buruh di pelabuhan, hingga bekerja serabutan di perusahaan tambang timah. Di sela-sela kerasnya kehidupan itu, ia menemukan pelarian pada buku-buku usang di kedai milik Habib Al Idrus di Dabo.
Garis nasib sempat membawanya mengabdi sebagai seorang pendidik di Rejai. Sayangnya, himpitan ekonomi akibat merosotnya nilai gaji pada masa peralihan mata uang dolar ke rupiah kepulauan (KR) membuatnya frustasi. Ia sempat banting setir menjadi penjaga gawang andalan klub sepak bola Persatuan Sepakbola Sungai Buluh (PSSB). Namun, takdir kembali menariknya ke ruang kelas saat ia bertemu Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Riau, Encik Raja Khatijah.
“Sekarang ini sedang kurang guru, mau jadi guru lagi tidak?” tanya Encik Raja Khatijah kala itu dengan nada tegas namun penuh kepedulian.
Tawaran itu diterimanya. Ia ditempatkan di sebuah SD negeri di Tanjungpinang. Secara administratif, hidupnya aman sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, panggilan jiwanya untuk menulis tidak pernah bisa dipadamkan oleh sebatas papan tulis dan debu kapur. Ia mulai mengirimkan tulisan sastra ke berbagai media menggunakan nama pena Iskandar Leo, sebuah identitas fiktif yang melindunginya dari pantauan birokrasi.
Bermula dari Liputan Luar Pagar
Titik balik yang mengubah seluruh haluan hidupnya terjadi tahun 1971. Saat itu, Presiden Soeharto dan Ibu Negara berkunjung ke Tanjungpinang untuk meresmikan proyek air minum Sungai Pulai. Berada di tengah kerumunan warga biasa yang berdesakan, Ismail mencatat setiap detail suasana. Ia tidak menulis tentang pidato pejabat, melainkan menangkap antusiasme rakyat kecil, pedagang bakso, hingga siswa sekolah yang menonton dari kejauhan.
Laporan berjudul “Suara-suara dari Luar Pagar” itu dimuat di Surat Kabar Mingguan Pelita Buana. Gaya penceritaannya yang humanis dan menyentuh akar rumput langsung menarik perhatian. Pemimpin Redaksi Pelita Buana, Sinano Sitamena bahkan secara khusus memanggil dan meyakinkannya untuk meninggalkan zona nyaman.
“Jadi wartawan itu, bisa membuat kita berjalan dengan kepala tegak,” tegas Sinano memberikan motivasi yang terus terngiang di kepalanya.
Dorongan itu semakin kuat saat honorarium menulisnya ternyata jauh melampaui gajinya sebagai guru. Rasa penasaran membawanya bermain-main dengan takdir. Sebuah permainan iseng ala Jailangkung menggunakan tutup botol tinta Parker bersama istrinya bahkan seolah mengarahkan nasibnya ke huruf W yang ia yakini bermakna wartawan.
Lahirnya Identitas Rida K Liamsi
Ambisi terbesarnya adalah menembus Majalah Berita Mingguan (MBM) TEMPO di Jakarta, kiblat jurnalisme Indonesia saat itu. Namun, ia sadar betul bahwa statusnya sebagai guru SD negeri yang terikat aturan pemerintah adalah penghalang terbesar. Jika ketahuan bekerja sambilan sebagai wartawan, ia bisa dipecat secara tidak hormat.
Demi melindungi diri sekaligus mengejar mimpi, ia memutar otak. Ia meracik anagram dari namanya “Ismail” dan nama istrinya “Rida”. Dari permainan susunan huruf itulah lahir nama pena baru yang terdengar sangat puitis: Rida K Liamsi. Identitas ini sukses mengelabui atasannya di dinas pendidikan.
Dua laporan investigasi pertamanya tentang kerusakan Pulau Singkep akibat tambang timah dan nasib kapal perintis sukses dimuat TEMPO dalam kurun waktu satu minggu. Honorarium sebesar Rp20 ribu yang diterimanya setara dengan empat kali lipat gaji bulanannya sebagai pendidik.
Kualitas liputannya memancing Pemimpin Redaksi TEMPO, Goenawan Mohamad untuk mengundangnya langsung ke Jakarta pada tahun 1977. Pertemuan penting dalam perjalanan hidupnya itu menghadapkannya pada sebuah persimpangan yang sangat tajam. Ia harus memilih: tetap menjadi guru dengan gaji pas-pasan atau terjun penuh ke dunia jurnalistik yang menjanjikan kebebasan berekspresi.
“Sulit, Pak. Saya tak mau mengecewakan murid dan orang tua. Payah, bekerja setengah hati,” jelasnya saat akhirnya menyerahkan surat pengunduran diri secara resmi kepada Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Riau, Abdullah Said.
Sejak detik ia melangkah keluar dari kantor dinas pendidikan tersebut, identitas Ismail Kadir perlahan ditinggalkan. Rida K Liamsi resmi tercetak di kartu pers Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan mulai mengukir sejarah besar di kancah jurnalistik nasional. Ia membuktikan bahwa untuk berjalan dengan kepala tegak, seseorang terkadang harus berani membuang jubah kenyamanannya. ***
Tentang Penulis: Hermanto Ansam adalah murid Rida K Liamsi, pernah bekerja di Riau Pos Group sejak Januari 1993 hingga April 2013, sebelum akhirnya mendirikan GoRiau.com tahun 2013.






