SPANYOL DAN JALAN SUNYI MENUJU BINTANG KEDUA
Oleh: Adhe Bakong
Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 yang penuh kejutan, satu tim terus melangkah dengan tenang namun pasti. Bukan tim yang paling banyak mencetak gol, bukan pula tim yang paling gemerlap oleh sorotan individu. Tim itu adalah Spanyol.
La Roja datang ke Amerika Utara tanpa gegap gempita berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan kekuatan yang menakutkan. Hingga babak perempat final, Spanyol menjadi satu-satunya tim yang belum kebobolan satu gol pun. Mereka menutup fase grup sebagai juara Grup H, menyingkirkan Austria dengan skor 3-0 di babak 32 besar, lalu menumbangkan Portugal 1-0 pada babak 16 besar.
Catatan tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah gambaran tentang sebuah tim yang telah menemukan keseimbangan antara keindahan permainan dan efektivitas hasil.
Era tiki-taka yang pernah membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 memang telah berlalu. Namun warisannya masih hidup. Bedanya, kini permainan Spanyol lebih matang dan pragmatis. Mereka tidak lagi terobsesi menguasai bola semata, melainkan tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan.
Di bawah arahan Luis de la Fuente, Spanyol menjelma menjadi mesin kolektif yang sulit dibongkar. Rodri menjadi jangkar yang menenangkan lini tengah. Pedri mengatur ritme permainan. Lamine Yamal menghadirkan kreativitas dan keberanian khas anak muda. Sementara Mikel Merino membuktikan dirinya mampu menjadi pembeda saat mencetak gol kemenangan atas Portugal.
Namun jalan menuju gelar tidak pernah mudah.
Di perempat final, Spanyol akan berhadapan dengan Belgia yang sedang menikmati salah satu periode terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Tim asuhan Rudi Garcia datang dengan modal kemenangan meyakinkan 4-1 atas Amerika Serikat serta catatan tak terkalahkan dalam 18 pertandingan terakhir.
Meski demikian, secara permainan dan konsistensi, Spanyol masih layak ditempatkan sebagai favorit. Rekam jejak pertemuan juga berpihak kepada La Roja. Dari 23 pertemuan, Spanyol memenangkan 12 laga dan hanya lima kali kalah dari Belgia.
Bahkan sejumlah analisis statistik menempatkan peluang Spanyol lebih besar untuk melaju ke semifinal. Salah satu model prediksi memberi peluang sekitar 64 persen bagi Spanyol untuk menyingkirkan Belgia.
Jika mampu melewati Belgia, tantangan berikutnya kemungkinan adalah Prancis. Di atas kertas, duel melawan Les Bleus bisa menjadi final yang datang terlalu cepat. Namun melihat performa sejauh ini, Spanyol memiliki modal yang cukup untuk menghadapi siapa pun.
Kekuatan terbesar Spanyol bukan terletak pada satu nama besar. Mereka tidak bergantung pada seorang megabintang. Justru kolektivitas itulah yang membuat mereka berbahaya. Ketika satu pemain mati kutu, pemain lain muncul sebagai solusi.
Piala Dunia sering kali dimenangkan bukan oleh tim yang paling spektakuler, melainkan oleh tim yang paling stabil. Dan sejauh turnamen berlangsung, tidak ada tim yang lebih stabil dibanding Spanyol.
Masih terlalu dini untuk memastikan siapa yang akan mengangkat trofi pada 19 Juli nanti. Argentina masih hidup. Prancis masih menakutkan. Inggris dan Belgia juga memiliki peluang. Namun jika melihat performa, organisasi permainan, serta kekuatan mental yang ditunjukkan hingga saat ini, Spanyol memiliki alasan kuat untuk bermimpi menambahkan bintang kedua di atas lambang federasi mereka.
La Roja belum menjadi juara. Tetapi dari seluruh tim yang tersisa, mereka tampak paling siap untuk menjadi yang terakhir berdiri.
(Adhe Bakong)






