THORIUM SINGKEP: HARTA KARUN ENERGI DI UJUNG SELATAN KEPRI YANG MASIH MENUNGGU TAKDIR
Oleh: Adhe Bakong
– Pulau Singkep telah lama dikenal sebagai tanah timah.
Selama puluhan tahun, denyut ekonomi masyarakat bertumpu pada komoditas yang menjadikan nama Singkep dikenal hingga ke luar negeri. Namun ketika tambang-tambang tua mulai sunyi dan jejak kejayaan timah perlahan menjadi bagian dari sejarah, sedikit orang menyadari bahwa perut bumi Singkep mungkin masih menyimpan kekayaan yang jauh lebih strategis.
Namanya thorium.
Bagi sebagian masyarakat, istilah itu terdengar asing. Namun di kalangan ilmuwan dan perencana energi dunia, thorium merupakan salah satu unsur yang diyakini dapat memainkan peran penting dalam masa depan energi global.
Menariknya, jejak unsur tersebut ditemukan di Pulau Singkep.
Temuan itu bukan sekadar cerita dari warung kopi atau kabar yang beredar tanpa dasar. Ia tercatat dalam penelitian ilmiah yang dilakukan para peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), lembaga yang kini menjadi bagian dari BRIN.
Pada tahun 2016, dua peneliti BATAN, Ngadenin dan Adhika Junara Karunianto, menerbitkan hasil penelitian berjudul *Identifikasi Keterdapatan Mineral Radioaktif pada Granit Muncung Sebagai Tahap Awal untuk Penilaian Prospek Uranium dan Thorium di Pulau Singkep*. Penelitian tersebut berfokus pada kawasan Granit Muncung yang berada di Pulau Singkep.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Para peneliti menemukan keberadaan mineral radioaktif berupa monasit dan zirkon pada batuan granit, serta monasit, zirkon, dan senotim (xenotime) pada konsentrat dulang yang diambil dari wilayah penelitian. Mineral-mineral inilah yang dikenal sebagai pembawa utama thorium dan uranium.
Lebih menarik lagi, kandungan thorium dalam sampel konsentrat dulang tercatat berada pada kisaran 557 ppm hingga 13.200 ppm. Sementara kandungan uranium berkisar antara 30 ppm hingga 1.346 ppm. Angka tersebut dinilai cukup signifikan untuk ukuran penelitian awal.
Penelitian itu bahkan menyimpulkan bahwa kawasan di sekitar Granit Muncung tergolong prospektif untuk uranium dan thorium serta layak dikembangkan ke tahap eksplorasi yang lebih rinci.
Temuan tersebut sesungguhnya membuka sebuah pertanyaan besar:
Mengapa publik hampir tidak pernah mendengar kabar lanjutan tentang thorium Singkep?
Padahal, dalam satu dekade terakhir, dunia sedang mengalami perubahan besar dalam sektor energi dan teknologi.
Negara-negara maju berlomba mengamankan sumber daya strategis yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik, teknologi digital, industri pertahanan, hingga energi rendah karbon. Dalam perlombaan itu, logam tanah jarang dan mineral radioaktif menjadi komoditas yang semakin bernilai.
Thorium termasuk salah satu unsur yang kerap disebut dalam berbagai diskusi energi masa depan.
Berbeda dengan minyak bumi yang semakin berkurang, thorium dianggap memiliki potensi besar sebagai bahan bakar reaktor nuklir generasi baru. Sejumlah negara seperti India dan Tiongkok terus melakukan penelitian untuk memanfaatkan sumber daya tersebut.
Pulau Singkep memiliki satu keunggulan penting.
Thorium yang ditemukan di wilayah ini tidak berdiri sendiri. Ia berasosiasi dengan monasit, zirkon, dan mineral pembawa logam tanah jarang lainnya. Artinya, jika suatu saat dilakukan pengembangan lebih lanjut, nilai strategisnya tidak hanya terletak pada thorium, tetapi juga pada potensi mineral kritis yang dibutuhkan industri modern.
Namun hingga hari ini, status thorium Singkep masih berada pada tahap potensi geologi.
Belum ada pengumuman resmi mengenai cadangan thorium yang telah dihitung secara ekonomis. Belum ada pula proyek eksploitasi thorium skala industri yang berjalan di Kabupaten Lingga. Yang tersedia baru berupa hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan adanya indikasi kuat keterdapatan unsur tersebut.
Di sinilah letak paradoksnya.
Ketika dunia berbicara tentang energi masa depan, Singkep justru masih berkutat dengan berbagai persoalan pembangunan dasar yang dihadapi daerah kepulauan. Potensi strategis yang tersimpan di bawah tanah belum sepenuhnya masuk ke dalam percakapan publik maupun agenda pembangunan jangka panjang.
Padahal, jika hasil penelitian tersebut terbukti memiliki nilai ekonomi tinggi melalui eksplorasi lanjutan, maka dampaknya bisa sangat besar bagi Kabupaten Lingga maupun Kepulauan Riau.
Namun sejarah mengajarkan bahwa kekayaan alam tidak selalu identik dengan kesejahteraan.
Pulau Singkep sendiri memiliki pengalaman panjang sebagai daerah tambang. Masyarakat tentu memahami bahwa setiap aktivitas pertambangan selalu menghadirkan dua sisi mata uang: peluang ekonomi dan tantangan lingkungan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan semata-mata berapa banyak thorium yang tersimpan di Singkep.
Yang lebih penting adalah apakah daerah ini siap jika suatu hari menjadi bagian dari peta mineral strategis nasional?
Apakah masyarakat akan memperoleh manfaat yang adil?
Apakah lingkungan pesisir dan kawasan tangkapan air akan terlindungi?
Apakah generasi muda Lingga akan menjadi pelaku utama atau hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri?
Hingga kini, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut masih belum ditemukan.
Namun satu hal yang pasti, penelitian ilmiah yang dilakukan sejak 2016 telah meninggalkan jejak penting. Di balik bukit granit tua, bekas tambang yang mulai ditumbuhi semak, dan sejarah panjang industri timah, Pulau Singkep menyimpan sebuah kemungkinan besar.
Kemungkinan bahwa suatu hari nanti, pulau kecil di ujung selatan Kepulauan Riau ini tidak hanya dikenang sebagai tanah timah, tetapi juga sebagai salah satu wilayah yang menyimpan sumber daya strategis bagi masa depan energi Indonesia.
Dan seperti banyak kisah besar lainnya, semuanya berawal dari sebuah temuan ilmiah yang hingga hari ini masih menunggu babak berikutnya.**






