Sebuah perjalanan panjang tidak hanya meninggalkan cerita bagi orang yang menjalaninya. Ada pula kesaksian dari mereka yang pernah bertemu, bekerja bersama, menyaksikan perjuangan, atau bersinggungan langsung dengan berbagai fase perjalanan tersebut.
Hal itulah yang dihadirkan dalam bagian Mereka Bicara: Suara-Suara yang Menjadi Saksi pada buku Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood.
Melalui testimoni sejumlah tokoh, sosok Huzrin Hood dilihat dari berbagai sudut pandang. Masing-masing memiliki ingatan, pengalaman, dan penilaian tersendiri tentang perjalanan hidup, perjuangan, serta pengabdian tokoh yang dikenal sebagai salah satu pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tersebut.
Pandangan mereka tidak sekadar menjadi pelengkap sebuah buku biografi. Lebih dari itu. Dari suara-suara itulah, pembaca diajak mengenal Huzrin Hood tidak hanya melalui cerita tentang dirinya, tetapi juga melalui pandangan orang-orang yang menjadi saksi perjalanan dan perjuangannya. Berikut ini satu persatu:
Datuk Sri Prof. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D.
Tidak semua orang mampu hadir sebagai penengah ketika perselisihan memuncak. Namun, bagi saya, Huzrin Hood adalah sosok yang memiliki kemampuan merangkul dan membuka jalan perdamaian. Setiap kali melakukan safari dakwah ke Kepulauan Riau, saya hampir selalu bertemu Datuk Huzrin Hood. Beliau selalu menyambut dengan senyum dan tawa lepas, tanpa keluhan dan seolah menjalani hidup tanpa beban. Hembusan napasnya adalah mahabbah (cinta) dan dakwah.
A.M. Hendropriyono, Mantan Kepala BIN
Saya mengenal Huzrin Hood sebagai sosok yang teguh memegang prinsip, berani memperjuangkan kebenaran, dan memiliki kepedulian besar terhadap masa depan Kepulauan Riau. Kecintaannya kepada daerah tidak sekadar diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga perjuangan agar masyarakat memperoleh pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan yang merata, dan masa depan yang lebih baik.
Muchdi PR, Mantan Danjen Kopassus dan Mantan Deputi V BIN
Satu hal yang saya hargai dari Huzrin adalah kesetiaan kepada persahabatan. Jabatan boleh berganti. Keadaan politik dapat berubah. Orang-orang dapat datang dan pergi. Tetapi persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tidak semestinya ikut berubah hanya karena keadaan.
Ansar Ahmad, Wakil Bupati/Plt. Bupati Kabupaten Kepulauan Riau (2001–2004), Bupati Bintan (2005–2015), dan Gubernur Kepulauan Riau (2021–sekarang).
Saya memahami betul bahwa di balik lahirnya provinsi ini terdapat perjuangan panjang, keberanian, dan pengorbanan banyak anak negeri. Salah satu sosok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah itu adalah H. Huzrin Hood. Ia bukan sekadar bagian dari cerita pembentukan Kepri, melainkan salah satu tokoh yang berada di garis depan dalam menyuarakan dan memperjuangkan cita-cita tersebut.
Saya berharap generasi muda mengetahui bahwa Kepri tidak lahir tanpa perjuangan. Ada orang-orang yang berani bermimpi, bersuara, dan berkorban demi masa depan daerahnya. Api perjuangan itu harus terus menyala.
Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH., MH., MM.
Mantan Wakil Gubernur Kepulauan Riau 2010–2015 dan Guru Besar Universitas Batam
Saya biasa menyapa H. Huzrin Hood dengan panggilan Mas Huzrin. Bagi saya, beliau bukan sekadar sahabat, tetapi juga saudara dan kakak yang saya hormati. Di luar urusan perjuangan dan politik, Mas Huzrin enak diajak berbincang, berdiskusi, dan memiliki selera humor yang tinggi. Persahabatan dan perjalanan perjuangan yang pernah kami lalui menjadi kenangan sekaligus pelajaran berharga. Sebab, seperti ungkapan yang selalu relevan dengan perjalanan hidupnya: Vita sine lucta non est vita — hidup tanpa perjuangan bukanlah hidup.
Dr. Drs. H. Suhajar Diantoro, M.Si.
Wakil Kepala BOPPJ (2025–sekarang), Sekjen Kemendagri (2022–2025)
Saya mengenal Bang Huzrin Hood bukan sekadar sebagai tokoh masyarakat atau mantan Bupati Kepulauan Riau, tetapi sebagai saudara, keluarga, sekaligus besan. Kami sama-sama berasal dari Kundur, tumbuh dalam lingkungan masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi nilai agama, adat, dan kekeluargaan. Ada kesamaan perjalanan di antara kami. Sama-sama meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan dan mengukir perjalanan hidup, dengan kesadaran bahwa keberhasilan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap daerah asal.
Tidak semua orang berani mengambil langkah ketika sebuah cita-cita belum tentu terwujud. Namun, Bang Huzrin memilih untuk berada di antara mereka yang memperjuangkannya.
Saleh Djasit
Mantan Gubernur Riau Periode 1998–2003, Ketua PWRI Provinsi Riau
Saya mengenal Huzrin Hood sebagai tokoh masyarakat Kepulauan Riau yang memiliki keberanian dan kegigihan dalam memperjuangkan aspirasi daerahnya, terutama pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Saat menjabat Gubernur Riau, saya memiliki pandangan agar rencana pemekaran dibicarakan lebih matang. Ketika itu, Pemerintah Provinsi Riau tengah mengusung visi Riau 2020 sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Karena itu, terdapat sejumlah pertimbangan terkait keberlanjutan visi tersebut apabila wilayah Kepulauan Riau menjadi provinsi tersendiri.
Meski memiliki perbedaan pandangan, saya tidak pernah menganggap aspirasi masyarakat Kepulauan Riau sebagai sesuatu yang harus dihalangi. Dalam proses tersebut, saya melihat Huzrin Hood sebagai salah satu tokoh yang gigih menyuarakan keinginan masyarakat, membangun komunikasi, dan memperjuangkan pembentukan provinsi baru.
Bagi saya, perbedaan pandangan tidak boleh menghapus penghargaan terhadap perjuangan seseorang. Huzrin Hood merupakan salah satu sosok penting dalam perjalanan panjang lahirnya Kepri.
Ismeth Abdullah
Mantan Gubernur Kepulauan Riau Periode 2005–2010, Gubernur Pertama Kepri, Anggota DPD RI (2024–sekarang)
Setiap kali ke Tanjungpinang, saya selalu menyempatkan diri bertemu dengan Huzrin Hood, baik di Gedung Daerah, kediaman bupati, maupun lebih sering di kedai kopi. Dari berbagai pertemuan dan diskusi itu, saya melihat tekad kuat Huzrin untuk mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau. Ia meyakini masyarakat Kepri berhak memiliki provinsi sendiri agar dapat tumbuh, maju, dan mencapai kemakmuran.
Saya kembali bertemu Huzrin pada minggu pertama Agustus 2026, dalam diskusi RUU Daerah Kepulauan di aula UMRAH. Saya kagum, di usia 70 tahun, gagasannya masih jernih dan tetap berfokus pada cita-cita meningkatkan kehidupan masyarakat di seluruh pulau, bukan hanya Batam.
Bagi Huzrin, Kepulauan Riau adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan diperjuangkan demi kesejahteraan masyarakatnya.
Nurdin Basirun
Mantan Bupati Karimun Periode 2006–2011 dan 2011–2016, Mantan Gubernur Kepulauan Riau 2016–2019
Persahabatan kami sudah terjalin jauh sebelum kami menduduki jabatan di pemerintahan. Karena itu, saya mengenal Huzrin bukan hanya sebagai seorang tokoh atau mantan kepala daerah, tetapi sebagai kawan yang sejak awal memiliki perhatian besar terhadap masa depan Kepulauan Riau. Saya melihat langsung bagaimana ia membawa harapan dan gagasan untuk memajukan daerah yang dicintainya. Bagi saya, kepedulian itu bukan sesuatu yang muncul setelah ia mendapat jabatan, melainkan sudah tumbuh sejak lama.
Sebagai kawan lama, saya melihat satu hal yang tetap melekat pada diri Huzrin: pikirannya tidak pernah jauh dari tanah kelahirannya.
HM Rusli Zainal
Mantan Gubernur Riau Periode 2003–2008 dan 2008–2013
Saya mengenal Huzrin Hood sebagai pemimpin yang gigih, merakyat, dan berani menghadapi tantangan. Bagi saya, Huzrin bukan hanya mantan bupati dan pejuang pemekaran, tetapi juga guru dan panutan. Meski tak lagi berada dalam kekuasaan, ia tetap hadir di tengah masyarakat. Ia terus berdakwah melalui Majelis Tabligh, menghidupkan budaya Melayu, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Saya melihat pengabdiannya tidak pernah bergantung pada jabatan. Huzrin adalah teladan. Teruslah menjadi guru dan panutan bagi masyarakat Kepulauan Riau.
Suryatati A Manan
Mantan Wali Kota Tanjungpinang Periode 2003–2008 dan 2008–2013
Hal mengesankan dari sosok Huzrin adalah kemampuannya berpidato. Ia piawai menyampaikan sambutan dengan gaya santai, diselingi humor, tetapi tetap sarat makna. Jejak perjuangan dan pengabdiannya menjadi bagian penting dari sejarah Kepulauan Riau yang akan selalu dikenang masyarakat.
Terima kasih atas perjuangan dan pengabdian untuk kampung halaman tercinta, Bumi Melayu Kepulauan Riau. Semoga Huzrin Hood senantiasa diberikan kesehatan dan pengorbanannya terus dikenang sepanjang masa.
Ahmad Dahlan
Mantan Wali Kota Batam Periode 2006-2011 dan 2011-2016
Visi ada. Berani ada. Segak ada. Pandai bercakap ada.
Handsome pun, bolehlah…Dan temberang?
Jangan ditanya lagi. Itu memang sudah termasuk modal pokok!
Rida K. Liamsi
Seniman dan Budayawan Kepulauan Riau
Saya pernah menyaksikan kedekatannya dengan Sultan Johor, yang sekarang menjadi Yang di-Pertuan Agong Malaysia. Hubungan mereka tampak begitu akrab, tanpa banyak protokol. Mereka dapat bercanda, berbincang, bahkan berswafoto seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling mengenal.
Saya juga pernah bercanda dengan Huzrin di Kedai Kopi Sekanak. “Tok, sudahlah. Tak usah lagi berambisi menjadi gubernur. Datuk kan sudah dianggap sebagai Bapak Pembangunan Kepulauan Riau. Itu jauh lebih hebat,” kata saya.
Huzrin tertawa dan tidak tersinggung. Bahkan beliau mengatakan bahwa saya termasuk orang yang berani berkata demikian kepadanya.
Tetapi kemudian jawabannya cukup serius: “Bapak pembangunan tanpa kuasa tak banyak artinya dalam memperjuangkan kemajuan Kepulauan Riau. Harus ada kuasa dan wewenang untuk membuat keputusan besar. Itu hanya bisa kalau saya jadi gubernur.”
Bagi Huzrin, kekuasaan bukan semata-mata tentang kedudukan, tetapi tentang kewenangan untuk mengambil keputusan dan melaksanakan gagasan yang diyakininya penting bagi daerah.
Saya mengagumi Huzrin sebagai tokoh Melayu yang visioner dan berani mengambil risiko.
Andi Anhar Chalid, Mantan Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Riau Periode 2001-2004
Saya mengenal Huzrin Hood sejak 1989. Menurut pandangan saya, Huzrin adalah sosok yang tidak pernah mudah menyerah ketika telah meyakini sebuah program dan cita-cita yang dianggap baik bagi masyarakat. Banyak hal yang diperjuangkannya membutuhkan waktu panjang, menghadapi berbagai hambatan, perbedaan pandangan, bahkan risiko yang tidak kecil. Namun, karakter Huzrin memang demikian: ketika sebuah gagasan sudah diyakini sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi daerah dan masyarakat, langkah akan terus dicari. Kadang melalui jalur politik, kadang melalui organisasi, kadang melalui pendekatan kemasyarakatan, dan kadang melalui jalan yang tidak banyak diketahui orang.
Drs. H. Wan Thamrin Hasyim
Mantan Bupati Rokan Hilir Periode 2001-2006
Dalam pandangan saya, Huzrin adalah sosok yang kuat memegang nilai agama, memiliki toleransi dalam pergaulan, teguh dalam pendirian, berani menyampaikan pandangan, tetapi tetap mampu bergaul dengan berbagai kalangan, baik aparat pemerintahan maupun tokoh-tokoh masyarakat.
Karena itu, kalau boleh saya menyampaikan harapan, orang yang menabur benih semestinya diberi kesempatan pula untuk melihat dan menikmati hasil panennya. Semua itu tentu tidak mungkin terjadi tanpa persatuan, kebersamaan, dan kemauan sebagian besar masyarakat.
Laksamana TNI (Purn.) Prof. Dr. Marsetio
Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) – Penasihat Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi – Dewan Pertimbangan Universitas Maritim Raja Ali Haji
Saya mengenal Huzrin Hood sebagai salah seorang tokoh Kepulauan Riau yang memiliki perhatian kuat terhadap persoalan kemaritiman. Bagi saya, hal ini penting, karena berbicara tentang Kepulauan Riau berarti berbicara tentang laut, pulau, pesisir, perbatasan, pelayaran, perdagangan, sumber daya laut, serta masyarakat yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupan.
Huzrin memahami bahwa pembangunan daerah kepulauan tidak dapat sepenuhnya menggunakan cara pandang daratan. Dalam hal ini, saya melihat Huzrin memiliki satu kekuatan yang khas: kemampuan menghubungkan sejarah dengan masa depan.
Ir. Sudirman Almoen, Sekretaris BP3KR
Tidak semua pengorbanan terlihat, tetapi beliau memiliki keberanian untuk terus bergerak ketika hasil belum terlihat. Datuk H. Huzrin Hood adalah sosok yang telah matang dan memiliki pengalaman panjang, baik di bidang eksekutif maupun legislatif. Karena itu, saya berharap ke depan beliau tetap diberikan kesempatan untuk mengabdikan diri lebih luas kepada masyarakat, baik sebagai wakil rakyat di DPR RI maupun, apabila mendapatkan kepercayaan masyarakat, untuk memimpin Provinsi Kepulauan Riau sebagai Gubernur atau Wakil Gubernur pada tahun 2029.
Ernaini binti Sulikan
Istri
Menjadi istri Huzrin Hood adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh warna. Ada bahagia yang tak ternilai, ada kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi ada pula air mata, kesabaran, kekhawatiran, dan doa-doa panjang yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Saya tahu bagaimana kerasnya ia memegang prinsip. Saya tahu bagaimana ia bisa begitu bersemangat ketika memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Dan saya juga tahu bahwa di balik keberanian itu ada beban yang harus ia pikul, ada risiko yang harus ia hadapi, dan ada keluarga yang terkadang harus ikut merasakan getirnya perjalanan tersebut.
Ada masa ketika saya bertanya dalam hati, “Mengapa harus sejauh ini perjuangannya?” Tetapi saya kemudian memahami bahwa bagi Bang Huzrin, memperjuangkan sesuatu bukan sekadar pilihan. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat dan daerah yang dicintainya.
Dr. Nelly Huzrin Hood, Anak Sulung
Sebagai anak sulung, saya merasakan dengan cara yang mungkin berbeda dari adik-adik. Ada perasaan bahwa sebagai anak pertama, saya tumbuh dengan menyaksikan lebih dekat bagaimana Papa membangun keluarga ini. Saya melihat bagaimana beliau bekerja, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan tetap berusaha berdiri tegak meskipun kehidupan tidak selalu memberikan jalan yang mudah.
Menjadi anak Papa adalah sebuah kehormatan, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai yang harus kami jaga. Warisan terbesar Papa adalah nama baik, keteladanan, dan nilai-nilai kehidupan yang beliau tanamkan kepada kami.
Terima kasih, Pa. Terima kasih karena telah menjadi tiang yang kokoh bagi keluarga ini. Terima kasih karena telah mengajarkan kami untuk tidak mudah menyerah. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa hidup harus dijalani dengan kerja keras dan tanggung jawab. Terima kasih karena telah menjadi contoh bahwa seorang laki-laki harus mampu berdiri tegak ketika keluarganya membutuhkan tempat untuk bersandar. Terima kasih karena telah memberikan cinta dengan cara yang mungkin sederhana, tetapi sangat dalam.
Herizal Hood, Abang
Kami lahir dari keluarga yang sama, tumbuh dalam lingkungan yang sama, merasakan kehidupan yang sama, dan melewati masa-masa yang tidak selalu mudah sebagai sebuah keluarga. Karena itu, ketika hari ini saya melihat perjalanan Huzrin sampai pada usia 70 tahun, yang muncul dalam ingatan saya bukan pertama-tama tentang jabatan atau kedudukannya.
Yang muncul adalah sosok seorang adik yang saya kenal sejak kecil.
Sejak muda, Huzrin sudah memperlihatkan karakter yang kuat. Ia bukan anak yang mudah mengikuti arus. Kalau sudah memiliki kemauan, ia akan berusaha mencari jalan untuk mewujudkannya. Kadang-kadang sifat seperti itu membuat kami sebagai saudara harus mengingatkan. Tetapi kemudian saya memahami bahwa sifat keras dalam dirinya itu ternyata menjadi modal penting dalam perjalanan hidupnya.
Sebagai seorang abang, ada kalanya saya merasa khawatir. Kita tentu ingin adik kita hidup tenang. Kita ingin ia mempunyai kehidupan yang baik. Kita ingin keluarganya aman. Tetapi Huzrin memilih jalan yang tidak selalu tenang. Ia memilih jalan perjuangan. Dan perjuangan selalu memiliki harga. Ada saat-saat ketika kami sebagai keluarga harus ikut merasakan dampaknya.
Herman Hood, Adik
Bagi saya, Huzrin Hood bukan hanya abang kandung. Ia adalah abang yang dalam perjalanan hidup tertentu juga menjadi kawan seperjuangan.
Kami lahir dari keluarga yang sama, tumbuh dalam lingkungan yang sama, tetapi kemudian dipertemukan dalam sebuah cita-cita yang jauh lebih besar daripada kepentingan keluarga kami sendiri: memperjuangkan lahirnya Provinsi Kepulauan Riau. Ketika perjuangan itu dimulai, kami tentu tidak pernah tahu bagaimana akhirnya. Yang kami miliki waktu itu hanyalah keyakinan bahwa masyarakat Kepulauan Riau memiliki aspirasi yang patut diperjuangkan.
Ada hal yang menarik dalam perjalanan kami. Di rumah, Huzrin adalah abang saya. Tetapi ketika memasuki ruang perjuangan, hubungan kami berubah menjadi hubungan sesama pejuang. Kami bisa berbeda pendapat. Kami bisa berdiskusi keras. Kami bisa memperdebatkan strategi. Tetapi setelah itu kami kembali kepada tujuan yang sama.
Saya kira justru karena kami bersaudara, kami memiliki keberanian untuk saling mengingatkan. Saya bisa mengatakan kepada Huzrin sesuatu yang mungkin tidak mudah dikatakan orang lain. Huzrin pun bisa mengingatkan saya. Itulah dinamika kami.
Sebagai adik, saya bangga. Sebagai kawan seperjuangan, saya menghormatinya. Sebagai bagian dari masyarakat Kepulauan Riau, saya bersyukur pernah ikut mengambil bagian.
Hardi Selamat Hood, Adik
Huzrin Hood adalah abang saya. Tetapi dalam perjalanan panjang kehidupan kami, hubungan kami tidak berhenti pada hubungan darah. Ada begitu banyak ruang yang kami isi bersama: ruang keluarga, ruang perjuangan, ruang pemikiran, ruang kegelisahan, bahkan ruang-ruang sunyi ketika sebuah gagasan belum menemukan bentuknya.
Saya sering berada di belakang layar. Tidak selalu terlihat, tidak selalu disebut, dan mungkin memang tidak perlu disebut. Sebab saya percaya, tidak semua orang yang ikut membangun sebuah perjuangan harus berdiri di panggung. Ada yang cukup memastikan bahwa lampu tetap menyala ketika orang lain sedang berbicara di atas panggung.
Dalam perjalanan pemikiran Huzrin, saya sering menjadi teman berdiskusi, tempat menguji gagasan, membaca kembali tulisan, mengkritisi keputusan, dan sesekali menjadi orang yang mengingatkan ketika sebuah langkah terasa terlalu jauh.
Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai penentu arah. Bang Huzrin tetaplah Bang Huzrin dengan keyakinan dan keberaniannya sendiri. Saya hanya berusaha menjadi cermin— agar ia dapat melihat kembali gagasannya dari sudut yang berbeda.
Sebagai adik, saya hanya ingin mengatakan satu hal: “Bang, perjalananmu mungkin belum selesai. Sebab selama masih ada yang diperjuangkan, selama masih ada yang harus dibela, selama masih ada cita-cita yang belum diwujudkan—berhenti bukanlah pilihan.”
Husnizar Hood, Adik
Bang Huzrin memang inspirasi, dalam politik saya banyak belajar dengannya, keberanian, kerja keras serta naluri politiknya selalu saja tajam, dia martir bagi kami dan juga keluarga mungkin juga bagi kawan-kawan seperjuangan di negeri ini.
Dan semoga seluruh langkah yang pernah ditempuh menjadi sejarah yang tidak hanya dikenang, tetapi juga menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang.
Hendri Kurniawan Hood, Adik
Karena saya adalah adik bungsunya, mungkin saya termasuk orang yang paling sering berada di dekatnya dalam perjalanan hidupnya.
Saya pernah mengatakan : “Sudahlah Bang” tapi Bang Huzrin berkata, “Belum selesai.” Saya kira kalau sejak awal ia mudah menyerah, banyak hal dalam perjalanan hidupnya mungkin tidak pernah terjadi.
Kalau suatu saat nanti orang bertanya siapa saya dalam perjalanan Huzrin Hood, saya akan menjawab dengan sederhana: “Saya adiknya. Saya pernah menjadi ajudannya— bukan karena jabatan, tetapi karena cinta seorang adik kepada abangnya.”
Itu saja sudah cukup membuat saya bangga. (Moel Akhyar)





