Jumhari Dorong Penyelamatan Tradisi Lisan Kepri Sebelum Terlambat

Jumhari, Kepala BPK Kepri.F-Istimewa
banner 120x600

TANJUNGPINANG — Kekayaan tradisi lisan Kepulauan Riau (Kepri) membutuhkan pendataan, dokumentasi, dan penelitian yang serius agar tidak hilang ditelan zaman. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kepri membuka ruang kerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) untuk menyelamatkan warisan budaya yang terancam punah.

Kepala BPK Kepri, Jumhari, menyatakan lembaganya terbuka untuk berkolaborasi dengan ATL dalam inventarisasi, dokumentasi, penelitian, dan penyelamatan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat maupun yang terancam hilang.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Workshop Warisan Budaya Tradisi Lisan yang diselenggarakan BPK Kepri di Tanjungpinang, Rabu (28/10/2026).

Upaya penyelamatan ini dinilai penting karena tradisi lisan tidak sekadar berupa cerita turun-temurun. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, nilai kehidupan, sejarah, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanpa pendataan dan dokumentasi yang memadai, pengetahuan tersebut berisiko hilang ketika para penutur atau maestro meninggal dunia sebelum sempat mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Persoalan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kepri yang memiliki kekayaan tradisi masyarakat kepulauan, mulai dari pengetahuan tentang kehidupan maritim, pengobatan tradisional, adat istiadat, kesenian, hingga cerita rakyat.

Workshop tersebut menghadirkan Ketua Umum ATL Pusat, Pudentia MPSS, Sekretaris ATL Kepri, Syafaruddin, serta Ketua Pembina ATL, Mukhlis PaEni, sebagai narasumber.

Syafaruddin menyoroti masih terbatasnya kajian akademis yang mendukung pendataan dan pelestarian objek budaya di daerah.

“Kelemahan kita saat ini adalah tidak adanya kajian-kajian akademis yang menunjang keberadaan objek budaya di daerah,” ungkapnya.

Menurut Syafaruddin, inventarisasi tradisi lisan harus dilakukan secara menyeluruh. Pendataan tidak cukup hanya mencatat nama atau bentuk tradisi, tetapi juga mencakup penutur, komunitas pendukung, konteks kemunculan, fungsi, nilai, serta perkembangannya dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, kerja sama dengan perguruan tinggi diperlukan agar dokumentasi tradisi lisan didukung penelitian akademis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Ketua Umum ATL Pusat, Pudentia MPSS, mengingatkan pentingnya program kerja yang terencana agar upaya pelestarian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Jika program bagus, hal lainnya akan mengikuti. Walaupun kita punya finansial, tetapi program tidak terencana dengan baik, maka juga akan sia-sia,” tegas Pudentia.

Pudentia juga memaparkan perjalanan ATL sejak didirikan pada 11 Desember 1993. Selama lebih dari tiga dekade, organisasi tersebut mengembangkan kajian dan pelestarian tradisi lisan hingga menjangkau tingkat internasional.
Di sisi lain, Mukhlis PaEni menekankan bahwa masyarakat Nusantara mewariskan pengetahuan tradisional yang terbentuk selama ratusan tahun. Pengetahuan itu mencakup hubungan manusia dengan alam, lingkungan, kehidupan sosial, hingga cara memenuhi kebutuhan hidup.

Persoalannya, masih banyak pengetahuan tradisional yang belum terdokumentasi secara memadai. Jika tidak segera diselamatkan, kekayaan tersebut berpotensi hilang bersama para pemilik pengetahuannya.

Pada hari yang sama, sebanyak 53 pengurus ATL Kepri, termasuk koordinator wilayah dari tujuh kabupaten/kota, dikukuhkan oleh Pudentia MPSS di Hotel Nite & Day Laguna, Tanjungpinang.

Ketua ATL Kepri terpilih, Abdul Kadir Ibrahim atau AKIB, mengajak seluruh pengurus memperkuat kerja sama dan aktif menggali tradisi lisan di daerah masing-masing.

Kolaborasi antara BPK Kepri, ATL, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas pemilik tradisi diharapkan menjadi langkah konkret untuk memastikan warisan lisan Kepri tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.