LINGGA – Malam itu, tidak ada seragam yang lebih penting daripada jersey sepak bola.
Tidak ada jabatan yang lebih tinggi daripada status sebagai penonton.
Dan tidak ada sekat yang lebih kuat daripada kecintaan pada permainan yang sama.
Di Kedai Kopi Merdeka, Dabo Singkep, yang dikenal sebagai basecamp Argentina, puluhan orang berkumpul menyaksikan laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir.
Di sana hadir Kapolres Lingga, ,AKBP Dr. Pahala Martua Nababan, S.H., S.I.K., M.H., para Pejabat Utama (PJU) Polres Lingga, anggota kepolisian, masyarakat, serta rekan-rekan media dari IJTI dan PWI.
Biasanya mereka bertemu dalam suasana kerja.
Dalam konferensi pers.
Dalam peliputan.
Dalam kegiatan pelayanan masyarakat.
Namun malam itu berbeda.
Malam itu mereka duduk di meja yang sama, menikmati kopi yang sama, dan menyimpan harapan yang sama.
Argentina menang.
Itulah harapan yang diam-diam mengikat seluruh isi Kedai Kopi Merdeka malam itu.
Pertandingan dimulai dengan optimisme.
Tetapi optimisme itu perlahan berubah menjadi kecemasan ketika Mesir mencetak gol demi gol ke gawang Argentina.
Skor 2-0 membuat suasana mendadak berubah.
Obrolan berkurang.
Tawa menghilang.
Semua mata tertuju ke layar.
Apalagi ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti.
Di sudut meja, Bung Yudha dari Tribun Batam yang mengenakan jersey Argentina tampak tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Wajahnya tegang. Sesekali ia memegang kepala, lalu kembali menatap layar televisi.
Banyak yang mulai khawatir.
Tetapi tidak ada yang beranjak pulang.
Semua tetap bertahan.
Menunggu.
Berharap.
Percaya.
Di tengah suasana yang dipenuhi kecemasan itu, Kapolres Lingga yang duduk tidak jauh dari saya tiba-tiba menoleh.
Dengan senyum khasnya, ia berkata pelan.
“Tenang Bang Adhe, akan kita balas.”
Saya hanya tersenyum lalu mengangguk.
Saat itu, kalimat tersebut terdengar seperti secercah harapan di tengah gelapnya malam.
Tak ada yang tahu bahwa beberapa saat kemudian kalimat itu akan menemukan jawabannya.

Ketika Cristian Romero mencetak gol pertama Argentina, suasana mulai berubah.
Tepuk tangan terdengar.
Semangat kembali hidup.
Para anggota Polres yang sebelumnya tegang mulai berdiri dari kursinya.
Rekan-rekan wartawan kembali bersorak memberi dukungan.
Kedai Kopi Merdeka yang sempat sunyi perlahan kembali bernyawa.
Lalu datanglah momen yang mengubah semuanya.
Lionel Messi mencetak gol penyama kedudukan.
Dalam hitungan detik, seluruh isi kedai meledak dalam kegembiraan.
Polisi bersorak.
Wartawan bersorak.
Para penonton bersorak.
Tak ada lagi perbedaan profesi.
Tak ada lagi batas jabatan.
Yang ada hanya luapan emosi dari orang-orang yang menyaksikan harapan kembali hidup.
Di tengah gemuruh itu, tokoh muda Singkep, Erwan Bachrani, mendekat dan berbisik kepada saya.
“Argentina memang bermental juara.”
Saya mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, keyakinan terasa lebih besar daripada keraguan.
Ketika Enzo Fernández mencetak gol kemenangan pada masa injury time, Kedai Kopi Merdeka benar-benar berubah menjadi lautan kegembiraan.
Tepuk tangan bergemuruh.
Kegirangan terjadi di mana-mana.
Anggota Polres saling menyalami.
Wartawan bertepuk tangan bersama.
Para penonton pun ikut larut dalam euforia.
Tak ada yang peduli siapa polisi, siapa wartawan, dan siapa tamu yang baru dikenal beberapa jam sebelumnya.
Sepak bola telah melakukan apa yang sering gagal dilakukan banyak hal lainnya.
Menyatukan manusia dalam kegembiraan yang sama.
Saya kembali menoleh ke arah Kapolres.
Beliau tersenyum.
Dan saya teringat kembali kalimat yang diucapkannya ketika Argentina tertinggal dua gol.
“Tenang Bang Adhe, akan kita balas.”
Malam itu Argentina memang membalasnya.
Tetapi lebih dari itu, malam tersebut menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan 3-2.
Ia menghadirkan kebersamaan.
Di tengah secangkir kopi, sorak-sorai pertandingan, dan drama kebangkitan Lionel Messi, polisi, wartawan, dan masyarakat duduk dalam satu ruang yang sama, merasakan emosi yang sama, dan merayakan kebahagiaan yang sama.
Dan mungkin itulah kemenangan terbesar yang kami bawa pulang dari Kedai Kopi Merdeka malam itu.
(Adhe Bakong)






