Oleh : Husnizar Hood
Sebenarnya sejak dua hari yang lalu saya sudah berencana mengajak Mahmud untuk bertemu, terkadang kalau bertemu dengan kawan baik saya itu ada saja banyak hal yang tiba-tiba membuat pikiran saya ini terbuka, selalu begitu, biasanya selalu ada cerita baru yang dibawa oleh kawan saya itu ketika kita kami bertemu.
Jangan hanya melihat dia dari latar belakang pendidikannya saja mentang-mentang dia tak bersekolah tinggi seperti kita-kita ini lalu kita seperti tak menganggap dia, jangan karena dia hanya orang biasa dan kita orang yang sedang berkuasa kita jadikqn dia hanya pelengkap penderita.
Mahmud kawan saya itu berbeda, pengalaman hidupnya yang membuat saya hormat kepqdanya dan saya selalu merasa harus bertemu dengannya, apalagi ketika saya mendengar analisa-analisanya yang tajam dan keluar dari mulutnya lalu dirangkainya dengan kalimat yang terstruktur dan kemudian pandangannya yang jauh melampaui apa yang sedang kita pikirkan hari ini, itulah kelebihannya Mahmud.
Isteri saya saja pernah diam-diam mengaguminya, beberapa kali dia pernah ikut kami berbincang isteri saya tampak lebih banyak tercengang.
Tahu akan hal itu saya agak mengernyitkan kening saya di depan Mahmud sebab isteri saya bilang Mahmud itu seperti seorang kawan yang datang dari masa depan, hmmm…ini agak berlebihan, dalam pikir saya.
Seperti sekarang yang sedang riuh rendah di dunia nyata dan juga di dunia maya ada seoramg anggota DPR yang berhormat bilang kalau masyarakat yang minta DPR itu dibubarkan adalah mereka masyarakat yang berpikir tolol, malahan bukan hanya tolol saja tapi tololnya punya tingkatan, yaitu tolol sedunia.
“Wah, susah-susah timnas kita mau masuk ke piala dunia ini malah dengan cepat masuk tolol sedunia”, cerita Mahmud dengan saya sambil tertawa.
Memang kisah tolol ini kawan saya Mahmud menanggapinya dengan santai saja sebab sudah lama dia bilang dengan saya, kalau kita berada diatas jangan terlalu banyak lihat ke puncak sakit leher kita nanti, lihatlah ke bawah karena itu kita lebih banyak disuruh menunduk hingga bersujud. Aduh mak, berat yang disampaikan Mahmud ini.
Makna tolol itu ; bebal, bego, beloh, berat kepala, bodoh, bongak, dongok, dungu, goblok, otak udang, pandir, sayapun baru tahu ternyata sebanyak itu persamaan atau makna kata tolol itu, ada juga “bengak” yang selalu kita dengar di sekitaran kita di kampung kita ini.
“Kenapa banyak persamaanya itu Tok? karena orang tolol itu ada yang tolol berat dan ada yang tolol menengah, ada juga yang tolol ringan dan kenapa banyak sebutannya karena mereka yang berkuasa memang suka menuduh orang lain itu tolol sebelum mereka di tololkan”, ucap Mahmud lagi.
Saya diam saja tapi dalam hati saya menjawab, apa yang disampaikan Mahmud itu memang benar, jika posisi saya dan Mahmud sebagai kawan selalu saya dan dia saling membengak-bengakkan atau mentolol-tololkan itu kami anggap biasa-biasa saja dan bagi kami itu semua hanya candaan tapi jangan sekali kita yang yang berada di atas dan berkuasa coba-coba mentololkan orang lain, niscaya kita yang akan ditololkan oleh banyak orang.
Tapi di tempat orang yang mentololkan itu tak semuanya juga hebat, banyak juga yang tolol disana, kita tahu dan kita kenal hanya nasib baik dan duit banyak serta tak peduli halal haram yang penting hantam itulah maka akhirnya mereka sampai di dunia pertololan itu.
“Asal dia kerja baik, berusaha membangun daerahnya dan selalu dengar keluhan warganya, tak sombong pula, tawadhu, walaupun agak pendiam tak banyak terdengar suaranya kita ikhlaskan dia menjadi pewakilan kita”, tanya saya pada Mahmud.
Kawan saya itu tak menjawab dia sepertinya sedang sibuk membalas ada chat yang masuk, wajahnya tiba-tiba berubah pucat, air mukanya menjadi sedih seperti ada berita duka yang datang kepadanya dan ah, ternyata benar, sama seperti yang saya terima, kawan itu terlindas, ia pergi meninggalkan kita dengan duka yang akan lama membekas.
“Al fatihah”, desis Mahmud. Seorang saudara kita yang berprofesi Ojek Online atau Ojol itu wafat sebagai pejuang.
Dalam sunyi itu saya teringat dengan yang Mahmud sampaikan kadang memang ketika kita diatas atau ketika kita ada kekuasaan jangan terlalu melihat ke atas, lihatlah ke bawah. Kendaraan taktis itu di atas dan kendaraan taktis berlapis baja itu adalah kekuasaan tak boleh kita bawa sesuka hati kita hingga membuat orang lain terhina dan apalagi ada nyawa yang melayang dan kini, apa yang kalian miliki juga hilang.
Banyaklah bertemu kawan, banyaklah mendengar cerita orang lain, dunia hari ini telah mengkotak-kotakkan kita di ruang yang kian hari terasa kian sempit dan penuh hanya seluas layar handphone kita itu saja luasnya, semuanya terjadi dengan cepat secepat kita menscroll layar maka kita sudah berpindah lagi ke tempat dan suasana yang berbeda.
Disitu kita mulai merasa lebih tahu dari yang orang lain tahu dan merasa lebih bisa dari mereka dan mulai menganggap orang lain tolol semua, kita merasa kitalah yang paling pantas juara ketika kita kalah kita marah-marah.
“Mentang-mentang dia kepala dinas dia pikir dialah orang tang paling teratas dan paling pantas padahal yang dia buat itu tak berkelas, ngurus seni itu jangan juga jadi tolol Tok, eh bengak, ada seni untuk diri sendiri sendiri ada seni untuk sebuah apresiasi dan ada juga seni untuk komoditas industri, nah sekarang tanya dengan diri kita sendiri sedang berada dipanggung manakah kita berdiri?”, begitu Mahmud mulai membengak-bengakkan saya tapi karena kami sudah berkawan lama bagi kami itu hal yang biasa, bahkan itu malahan bisa dikatakan sebagai pertanda saling mengingatkan.
“Makanya kalau punya kawan ajak mereka berbual jangan asik menggentel anggaran saja mentang-mentang sedang berkuasa, karena kekuasaan itu ada batasnya, sama dengan menggentel itu kalau lama-lama digentel terpekik juga dia akhirnya”, saya bingung ini suara datang dari mana??




