Seorang Anak Medan yang Menjunjung Langit Melayu: Jejak AKBP Dr Pahala Martua Nababan di Lingga
Oleh: Adhe Bakong
Di negeri yang pernah melahirkan Raja Ali Haji dan Gurindam Dua Belas, petuah lama masih berhembus seperti angin laut yang datang dari Selat Berhala.
”Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Bagi sebagian orang, petuah itu mungkin hanya rangkaian kata yang diwariskan orang-orang tua. Namun bagi AKBP dr. Pahala Martua Nababan, petuah itu seperti menemukan tempatnya sendiri selama ia mengabdi di Kabupaten Lingga.
Perwira Polri kelahiran Pematangsiantar, 23 Juli 1981 itu kini meninggalkan Bunda Tanah Melayu setelah mendapat amanah baru sebagai Wadirpolairud Polda Kepulauan Riau.
Namun sebelum langkahnya berlabuh di dermaga pengabdian yang baru, ada jejak yang ditinggalkannya di Lingga. Bukan hanya jejak jabatan, melainkan jejak penghormatan terhadap negeri yang pernah menerimanya sebagai tamu, lalu mengenalnya sebagai keluarga.
Lingga bukan tanah kelahirannya. Tetapi selama bertugas, ia berusaha memahami denyut kehidupan masyarakat yang hidup di antara laut, pulau-pulau kecil, serta adat yang diwariskan turun-temurun.
Ia memahami bahwa sebuah negeri tidak hanya dibangun oleh jalan, kantor, dan bangunan pemerintahan. Sebuah negeri juga berdiri di atas nilai, adat, dan petuah yang dijaga oleh masyarakatnya.
Barangkali karena itulah, masyarakat Lingga pernah menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.
Dalam sebuah apel, ia menganjurkan para Bhabinkamtibmas mengenakan tanjak Melayu.
Bagi orang Melayu, tanjak bukan sekadar lipatan kain yang bertengger di kepala. Di dalamnya tersimpan marwah, penghormatan, dan identitas.
Langkah itu sederhana. Namun bagi banyak orang, pesan yang dibawanya cukup jelas: menghormati budaya setempat bukanlah beban, melainkan kemuliaan.
Di sela-sela kesibukan sebagai Kapolres, lelaki yang akrab disapa Pahala itu juga kerap berbincang dengan kalangan media. Kadang di rumah dinas, kadang di Mapolres Lingga. Obrolan tidak selalu tentang angka kriminalitas atau penegakan hukum.
Sesekali pembicaraan berlayar jauh ke perairan sejarah dan kebudayaan Melayu.
Salah satu yang kerap menarik perhatiannya adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.
Menurutnya, gurindam itu bukan sekadar warisan sastra yang tersimpan dalam buku-buku tua. Di dalamnya terkandung petuah tentang adab, budi pekerti, dan hubungan sesama manusia yang tetap hidup meski zaman telah berganti.
Ia bahkan pernah menyebut Gurindam Dua Belas sebagai petuah yang ajaib. Sebab semakin dibaca, semakin banyak pelajaran yang ditemukan.
Di negeri yang pernah menjadi pusat kebudayaan Melayu itu, Pahala tampaknya tidak hanya menjalankan tugas sebagai seorang perwira polisi. Ia juga menjadi pembelajar yang tekun mendengar hikayat-hikayat lama yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam sebuah kesempatan, ia pernah berseloroh bahwa keberhasilannya menyelesaikan pendidikan doktor tidak lepas dari “tuah Negeri Bunda Tanah Melayu.”
Kalimat itu disampaikan dengan senyum dan tawa. Namun bagi orang Melayu, kata “Tuah” tidak pernah benar-benar kehilangan maknanya.
Tuah adalah keberkahan yang datang bersama ikhtiar. Ia tidak selalu tampak, tetapi selalu dipercaya ada.
Seperti kapal yang menuntaskan pelayaran, ia harus melanjutkan perjalanan ke perairan yang lain. Tetapi sebagaimana laut menyimpan jejak layar yang pernah melintas, demikian pula Lingga menyimpan kenangan tentang seorang perwira yang datang dari seberang dan memilih menghormati negeri tempat ia berpijak.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti, tanda pangkat akan bertambah, dan penugasan akan berpindah.
Namun adab yang baik akan tinggal lebih lama dalam ingatan manusia.
Dan mungkin, itulah yang akan dikenang sebagian masyarakat Lingga tentang AKBP dr. Pahala Martua Nababan: seorang pemimpin yang memahami bahwa marwah sebuah negeri tidak hanya dijaga dengan kewenangan, tetapi juga dengan penghormatan.
Sebagaimana petuah orang-orang tua Melayu, langit yang dijunjung dengan hormat akan selalu meninggalkan teduh dalam ingatan.
Sebab jabatan hanyalah persinggahan, sementara adab adalah bekal pulang.
Dan ketika kelak orang bertanya, siapa gerangan perwira yang pernah berlabuh di Lingga itu, mungkin jawabannya sederhana:
Ia datang membawa pangkat, tetapi pergi meninggalkan kenangan.






