Ketika Merdeka Hanya Singgah di Tiang Bendera
Oleh – Adhe Bakong
Sebentar lagi Agustus.
Negeri ini akan kembali bersolek.
Merah putih menjuntai di tepi jalan. Gapura dicat ulang. Spanduk-spanduk patriotik dipasang. Pidato tentang kemerdekaan disiapkan. Pekik “Merdeka!” akan kembali menggema dari istana hingga pelosok desa.
Namun ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab oleh republik ini:
Apakah kemerdekaan hanya hidup sebagai simbol, atau benar-benar menjadi kenyataan?
Delapan puluh satu tahun lalu, bangsa ini memutus rantai penjajahan. Tetapi delapan puluh satu tahun kemudian, rakyat masih menyaksikan rantai-rantai lain tumbuh dalam bentuk yang berbeda.
Rantai kemiskinan.
Rantai ketimpangan.
Rantai ketidakadilan.
Rantai kekuasaan yang terkadang lebih kuat daripada hukum itu sendiri.
Kita merdeka di atas kertas.
Kita merdeka dalam pidato.
Kita merdeka dalam upacara.
Tetapi tidak sedikit rakyat yang masih merasa asing terhadap makna kemerdekaan itu sendiri.
Sebab kemerdekaan yang sejati bukanlah tentang seberapa banyak bendera yang berkibar.
Melainkan tentang seberapa banyak rakyat yang dapat hidup dengan layak.
Bukan tentang seberapa meriah perayaan.
Melainkan tentang seberapa adil negara memperlakukan seluruh warganya.
Sebentar lagi Agustus.
Para pejabat akan berbicara tentang keberhasilan pembangunan.
Tentang pertumbuhan ekonomi.
Tentang investasi.
Tentang capaian demi capaian.
Namun di balik deretan angka yang tampak indah itu, masih ada rakyat yang bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
Masih ada petani yang bekerja di tanah yang subur, tetapi hidup dalam ketidakpastian.
Masih ada nelayan yang berlayar di laut yang kaya, tetapi pulang dengan penghasilan yang tak menentu.
Masih ada anak-anak yang bermimpi setinggi langit, tetapi terhalang oleh kenyataan yang begitu rendah.
Ironisnya, semakin tua usia republik ini, semakin sering kemerdekaan diperingati sebagai ritual, bukan sebagai evaluasi.
Kita sibuk menghitung usia bangsa.
Tetapi lupa menghitung berapa banyak rakyat yang tertinggal.
Kita bangga menyebut diri sebagai negara merdeka.
Tetapi enggan bertanya mengapa keadilan masih terasa mahal bagi sebagian orang.
Mengapa hukum terkadang tampak tajam kepada yang lemah, tetapi lunak kepada yang kuat.
Mengapa kekayaan negeri yang melimpah belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan bersama.
Sebentar lagi Agustus.
Lagu kebangsaan akan kembali dinyanyikan dengan khidmat.
Bendera akan kembali dinaikkan dengan hormat.
Pidato-pidato akan kembali dibacakan dengan penuh semangat.
Tetapi kemerdekaan tidak membutuhkan tepuk tangan.
Kemerdekaan membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk mengakui bahwa masih ada yang salah.
Keberanian untuk memperbaiki yang rusak.
Keberanian untuk menempatkan rakyat di atas kepentingan politik dan kekuasaan.
Karena sesungguhnya, ancaman terbesar bagi republik ini bukanlah penjajahan dari luar.
Melainkan ketika bangsa ini merasa puas dengan simbol-simbol kemerdekaan, sementara esensinya perlahan menghilang dari kehidupan rakyat.
Maka ketika Agustus tiba dan pekik “Merdeka!” kembali mengguncang udara, barangkali kita perlu bertanya dengan lebih jujur:
Apakah yang sedang kita rayakan adalah kemerdekaan yang hidup di tengah rakyat?
Ataukah hanya kemerdekaan yang megah sebagai simbol, tetapi rapuh sebagai kenyataan?
Sebab sejarah tidak akan mengenang seberapa meriah perayaan kemerdekaan sebuah bangsa.
Sejarah hanya akan mencatat apakah kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh rakyatnya.
Atau sekadar menjadi gema yang indah di ujung lidah para penguasa.
(Adhe Bakong)






