TUNJUK AJAR DAN PETUAH MELAYU DALAM PANTUN
Oleh : Zulyadin Ibnu Djamal
(Pemerhati Sosial Budaya Lingga)
- Masyarakat Melayu sejak dulu menjadikan pantun sebagai media penyampaian nasihat. Ringkas, berirama, dan menyentuh. Di balik sampiran yang indah tentang alam, tersimpan isi yang menjadi “tunjuk ajar” untuk menata hidup. Lima pantun ini adalah cerminan nilai-nilai dasar orang Melayu: adil, berilmu, bertanggung jawab, setia, dan berbakti.
1. Makna Tanggung Jawab dalam Jabatan
Jika berada berilah andil
Jangan diri bersikap kerdil
Apa gunanya menjadi pengadil
Bila tidak bertindak adil
Pantun ini mengingatkan bahwa setiap kedudukan pasti ada amanah. “Berada” bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk memberi andil dan manfaat bagi orang banyak. Menjadi “pengadil” dilambangkan sebagai pemimpin, hakim, atau siapa saja yang memegang keputusan. Inti petuahnya jelas: jabatan tanpa keadilan adalah jabatan yang kehilangan makna. Orang Melayu menuntut pemimpin yang besar hati, bukan kerdil pemikiran dan tindakan.
2. Makna Keteladanan Seorang Guru
Harum mewangi kayu gaharu
Beserta dengan daun pandan
Apa gunanya menjadi guru
Bila tidak memberi teladan
Gaharu dan pandan dipilih karena sama-sama harum. Keharuman itu melambangkan perpaduan ilmu dan akhlak. Petuah ini menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan juga contoh bagi murid-muridnya. Jika perkataan tidak sejalan dengan perbuatan, maka ilmu kehilangan wibawanya. Dalam masyarakat Melayu, guru dihormati karena perannya membentuk generasi yang berilmu dan berbudi.
3. Makna Tanggung Jawab Seorang Suami
Burung punai di atas jerami
Anak tiung makan bersuap
Apa gunanya menjadi suami
Bila tidak bertanggung jawab
Sampiran tentang burung punai dan anak tiung menggambarkan kasih sayang serta pemeliharaan. Menjadi suami dalam pandangan Melayu bukan sekadar status, tetapi amanah untuk menafkahi, melindungi, membimbing, dan menjaga keluarga. Pantun ini menjadi peringatan bahwa rumah tangga tidak akan kokoh tanpa tanggung jawab dari seorang kepala keluarga.
4. Makna Kesetiaan Seorang Istri
Cuaca cerah di pagi hari
Banyak orang menuai padi
Apa gunanya menjadi istri
Bila tidak setia mengabdi
Menuai padi di pagi yang cerah menggambarkan kerja sama, ketekunan, dan hasil yang diperoleh melalui usaha bersama. Dalam pantun ini, istri digambarkan sebagai penopang rumah tangga. Makna “setia mengabdi” bukanlah ketundukan tanpa makna, melainkan kesungguhan dalam menjaga keluarga, mendampingi pasangan, serta memelihara kehormatan rumah tangga. Kesetiaan menjadi salah satu sendi utama dalam kehidupan keluarga Melayu.
5. Makna Kepatuhan dan Bakti Seorang Murid
Apa guna parang dan arit
Buat senjata pendekar sakti
Apa gunanya menjadi murid
Bila tidak patuh dan berbakti
Parang dan arit melambangkan kekuatan. Namun sehebat apa pun alat yang dimiliki, semuanya tidak berguna jika tidak digunakan dengan benar. Begitu pula ilmu pengetahuan. Dalam tunjuk ajar Melayu, adab didahulukan daripada ilmu. Murid yang cerdas tetapi tidak menghormati guru dan orang tua dianggap belum sempurna dalam menuntut ilmu. Kepatuhan dan bakti diyakini menjadi jalan memperoleh keberkahan ilmu.
Kelima pantun tersebut merangkai satu benang merah: setiap peran dalam kehidupan memiliki tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Berada harus memberi manfaat dan berlaku adil. Guru harus memberi teladan. Suami harus bertanggung jawab. Istri harus menjaga kesetiaan. Murid harus patuh dan berbakti.
Inilah hakikat tunjuk ajar Melayu. Ia tidak disampaikan dengan suara yang keras atau kata-kata yang menggurui, melainkan melalui bahasa yang santun, simbol-simbol alam yang indah, dan petuah yang mudah diingat. Pantun menjadi sarana pewarisan nilai yang hidup dari generasi ke generasi.
Melalui pantun, orang Melayu mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada gelar atau kedudukannya, melainkan pada kesungguhan menjalankan amanah dan perannya dalam kehidupan. Nilai-nilai itulah yang menjadikan pantun tetap relevan dan terus hidup di tengah masyarakat hingga hari ini.
(Zulyadin Ibnu Djamal)






