LINGGA – Di negeri yang dilingkungi laut dan ditiup angin dari segala penjuru mata angin, usia delapan tahun bagi sebuah sekolah bukanlah sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan panjang meniti ombak, menanam harapan, dan merawat cita-cita anak negeri.
Begitulah yang tergambar pada peringatan Hari Jadi ke-8 SMA N 1 Kepulauan Posek, Senin (6/7/2026). Tak ada pesta yang berlebihan, tak pula gegap gempita yang melangit. Sebaliknya, sekolah yang berdiri di gugusan pulau itu memilih merayakan usianya dengan cara yang lebih membumi: menghadirkan manfaat bagi sesama melalui kegiatan sunatan massal.
Sejak pagi, Ruang UKS SMA N 1 Kepulauan Posek telah dipenuhi wajah-wajah kecil yang datang bersama orang tua mereka. Sebanyak 15 anak dari Desa Pulau Panjang, Desa Suak Buaya, dan Desa Posek berkumpul dalam suasana penuh harap. Di antara rasa gugup yang sesekali menyelinap, terselip pula kegembiraan karena mereka menjadi bagian dari sebuah ikhtiar kebajikan yang lahir dari semangat gotong royong.
Bak pepatah Melayu yang mengatakan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, kegiatan itu terwujud melalui kebersamaan antara SMA N 1 Kepulauan Posek dan UPTD Puskesmas Kepulauan Posek. Para tenaga kesehatan mengabdikan keahlian mereka, sementara sekolah dan masyarakat menyatukan niat untuk menghadirkan kemaslahatan bagi anak-anak kampung.
Tak hanya mendapatkan layanan khitan secara cuma-cuma, para peserta juga menerima bingkisan berupa sarung, songkok, tas, dan uang saku. Boleh jadi nilainya tak terukur dengan angka yang besar, namun di dalamnya tersimpan makna kepedulian yang jauh lebih berharga. Sebab dalam budaya Melayu, memberi bukanlah perkara banyak atau sedikit, melainkan tentang ketulusan hati dan keberkahan niat.

Kepala SMA N 1 Kepulauan Posek, Mariono, S.Pd., M.Pd., mengaku bersyukur atas dukungan berbagai pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.
”Alhamdulillah, kegiatan ini terlaksana berkat semangat kebersamaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur, tenaga kesehatan, panitia, dan masyarakat yang telah ikut membantu. Apa yang diberikan hari ini mungkin sederhana, tetapi kami berharap dapat membawa manfaat dan kebahagiaan bagi anak-anak serta keluarga mereka,” ujarnya.
Bagi Mariono, sekolah bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca, berhitung, atau menuntut ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, sekolah harus menjadi rumah bersama yang mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan tempat ia bertumbuh.
”Kami berharap SMA N 1 Kepulauan Posek terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan generasi muda, tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Sekolah harus tumbuh bersama masyarakat, karena dari masyarakatlah sekolah memperoleh kekuatan dan kepercayaan,” katanya.
Kehangatan kegiatan itu juga dirasakan para orang tua peserta. Salah seorang wali murid mengaku terharu melihat kepedulian yang ditunjukkan sekolah kepada masyarakat.
”Kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Program seperti ini sangat membantu masyarakat, terutama kami yang berada di wilayah kepulauan. Semoga sekolah ini terus maju dan selalu membawa manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
Usia delapan tahun mungkin masih terbilang muda bagi sebuah lembaga pendidikan. Namun di Kepulauan Posek, usia itu telah diajarkan untuk memberi. Sebab masyarakat Melayu sejak dahulu percaya, kemuliaan tidak lahir dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang dapat ia tinggalkan.
Dan pada hari jadinya yang kedelapan, SMA N 1 Kepulauan Posek seolah sedang meneguhkan pesan itu: bahwa ilmu yang baik bukan hanya tersimpan di dalam buku, melainkan juga hadir dalam kepedulian, gotong royong, dan tangan-tangan yang ringan membantu sesama.
Di tepi laut yang tenang dan pulau-pulau yang saling bertatapan, sekolah itu merayakan usianya dengan cara yang sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah tumbuh makna yang mendalam—bahwa pendidikan sejatinya adalah jalan untuk menebar manfaat bagi kehidupan.
(Adhe Bakong)






