LINGGA – Di tanah pusaka Melayu yang masyhur dengan sejarah dan adatnya, kehidupan hari ini berjalan dalam nada prihatin. Laut masih memberi ikan, hutan masih berdiri, namun lapangan kerja kian menyempit. Banyak anak negeri menggantungkan hidup pada harapan yang belum juga berlabuh.
Di Pulau Singkep, harapan itu sempat tumbuh ketika PT Tianshan Alumina datang membawa janji investasi. Namun tiga tahun berlalu, kepastian tak kunjung tiba. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar soal bisnis, melainkan soal perut, dapur, dan masa depan generasi.
Di tengah keadaan itu, nama Tumenggung Lingga Sri Maharaja Raja Kesultanan Riau–Lingga, Ir. H. Tengku Nazwar, MM., MBA, mengemuka sebagai salah satu figur yang berdiri di garis depan perjuangan. Sebagai zuriat Kesultanan, ia memandang persoalan rakyat bukan dari kejauhan, tetapi dari rasa tanggung jawab adat dan moral.
“Bagi kami orang Melayu, memimpin itu bukan soal gelar, tapi soal memikul amanah. Kalau rakyat susah, pemimpinnya tak boleh berpangku tangan,” ujar Tengku Nazwar.
Selain peran adat, ia juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lingga, sebuah posisi yang ia gunakan untuk membuka jalan komunikasi antara daerah dan pusat.
Menurut Tengku Nazwar, keberadaan PT Tianshan Alumina telah menumbuhkan ekspektasi besar di tengah masyarakat. Banyak warga telah berharap mendapat pekerjaan, bahkan menjadikan perusahaan tersebut sebagai sandaran hidup.
“Tiga tahun itu bukan waktu yang singkat. Di balik angka itu ada keluarga yang menunggu, ada anak yang butuh sekolah, ada dapur yang harus tetap berasap. Inilah yang ingin kami suarakan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Lingga tidak menuntut berlebihan, melainkan meminta kejelasan agar tidak terus hidup dalam ketidakpastian.
Suara itu menguat dalam rapat akbar terbuka di Gedung Nasional Dabo Singkep, Minggu, 21 Desember 2025. Gedung tersebut dipenuhi berbagai elemen masyarakat,tokoh adat, pemuda, buruh, nelayan, dan ibu rumah tangga yang datang membawa satu kehendak: masa depan yang lebih pasti.
Dalam forum tersebut, Tengku Nazwar didapuk sebagai salah satu inisiator yang dipercaya membawa aspirasi masyarakat Lingga ke tingkat pusat.
“Apa yang kami bawa nanti bukan suara pribadi, tapi suara orang banyak. Ini titipan rakyat Lingga yang harus kami sampaikan dengan jujur dan tegas,” ucapnya kepada media ini.
Dalam waktu dekat, Tengku Nazwar bersama rombongan akan mendampingi Pemerintah Kabupaten Lingga untuk melakukan audiensi dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Pertemuan ini diharapkan menjadi ruang dialog untuk membahas keberlanjutan investasi PT Tianshan Alumina.
“Kami ingin ada kepastian—lanjut atau tidak. Kalau lanjut, bagaimana skemanya untuk rakyat. Kalau tidak, daerah harus diberi ruang mencari jalan lain. Yang tidak boleh adalah rakyat terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian,” tegas Tengku Nazwar.
Di Tanah Melayu, orang tua-tua berpesan: janji adalah hutang, dan hutang wajib dibayar. Masyarakat Lingga kini menaruh harap agar ikhtiar ini tidak sekadar menjadi perjalanan seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan jawaban.
Dan di antara gelombang laut Singkep yang tak pernah lelah memukul pantai, suara rakyat itu kini ikut berlayar—dititipkan kepada mereka yang berani berdiri, menjaga janji di tanah pusaka.
(Adhe Bakong)






