Dari Pulau Penyengat Bahasa dan Sejarah Mengikat

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungpinang. Pagi itu, langit pelantar 1 Pelabuhan Kuala Riau amat cerah menyuguhkan warna birpucat yang memantulkan cahaya ke permukaan laut. Udara berembus lembut, membawa aroma asin yang khas, seolah mengucapkan salam hangat selamat datang kepada kami guru-guru

pulau yang siap menyeberang. Bagi Sebagian orang, perjalanan ke sekolah bearti melintasi jalan beraspal, menghindari macet atau bahkan mengejar angkutan umum. Tapi tidak bagi saya dan kawan-kawan guru lainnya, hari ini tepat 5 tahun lebih saya bertugas di SMP Negeri 9Tanjunpinang, Penyengat sebagai seorang guru tunggal yang mengajar mata Pelajaran Bahasa indonesia. Perjalanan yang kami lalui bukan hanya perjalanan darat yang dirasakan oleh semua guru yang sedang bertugas setiap harinya, melainkan juga perjalanan menyusuri laut,

banner 325x300

Mendengarkan deru mesin pompong, dan tak jarang menerima percikan air laut di pipi. Perjalanan ini bukan sekedar rutinitas belaka. Ia adalah pembuka hari yang penuh makna, mengingatkan bahwa saya mengajar di tempat yang bukan sembarang pulau. Pulau Penyengat adalah nadi sejarah peradaaban Melayu, tempat di mana cerita masa lalu dan masa kini bertemu, tempat di mana Raja Ali Haji membuat Gurindam 12, tempat di mana Datuk Ibrahim menyusun pantun pertama kalinya dan tempat di mana setiap sudutnya ada jejak budaya, sastra, dan bahasa yang membentuk identitas. Dan di sanalah saya, mencoba mengikat semua itu dalam sebuah ruang kelas. Kelas Bahasa di Tengah Sejarah

Mengajar Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat punya keistimewaan tersendiri. Materi yang ada di buku pelajaran hanya berupa teks atau gambar, di sini saya bisa menunjukan secara langsung. Ketika saya mengajar teks deskripsi, saya tidak perlu memutar otak mencari ilustrasi atau menyebutkan tempat wisata atau bersejarah lainnya yang ada di Indonesia. Saya cukup mengajak murid keluar kelas, berjalan menuruni bukit dari Kampung Datok ke Kampung Jambat arah Mesjid Raya Sultan Riau yang berdiri megah dengan warna kuning keemasan.

“coba deskripsikan warnanya !” saya meminta kepada murid “warna kuningnya cerah, seperti sinar matahari pagi, pak.” Jawab seorang murid sambil tersenyum malu.

“bentuknya megah, tapi tetap sederhana.” sambung siswa lainnya.

Kalimat-kalimat sederhana itulah yang menjadi titik awal untuk mengenalkan teknik

deskripsi yang lebih kaya yaitu membangun imajinasi pembaca lewat pancaindra. Saya ingin anak-anak paham, pelajaran Bahasa Indonesia yang saja ajarkan bukan hanya soal aturan kaidah penulisan, tapi juga tentang rasa dan kepekaan.

Pada kesempatan lain, saat membahas teks cerita sejarah, saya tak perlu membuka video YouTube atau memperlihatkan foto lama tentang sejarah. Saya hanya cukup menunjuk

ke arah istana yang berdiri di ujung jalan. “itu bukan sekadar bangunan, itu saksi bisu

perjuangan dan kehidupan para sultan.” Saya menjelaskan. Mata siswa pun berbinar-binar

karena mereka melihat sendiri tokoh dan tempat yang dibicarakan. Mereka merasa dekat denga apa yang sedang diajarkan.

Tantangan yang Membentuk Karakter Namun, menjadi guru di pulau kecil juga bearti siap menghadapi tantangan yang tidak semua guru di kota merasakannya. Baik dari segi materi yakni kami membayar biaya ongkos pompong memakai uang pribadi tanpa ada subsidi atau bantuan tambahan dari pemerintah.

Maupun dari segi mental yaitu ada hari-hari ketika ombak lebih tinggi dari biasanya, dan

perjalanan ke sekolah menjadi sebuah ujian mental yang harus dihadapi. Ada pula hari-hari ketika sinyal internet hilang timbul begitu saja seperti ikan yang mencoba memakan umpan pancingannya tanpa terjerat. Alhasil rencana pembelajaran berbasis teknologi pun yang sudah disiapkan harus diubah seketika itu juga.

Di saat seperti itu, saya belajar untuk fleksibel. Materi yang awalnya direncanakan menggunakan slide bisa berubah menjadi diskusi kelompok atau permainan bahasa sederhana.

Memang benar kata para ahli seorang guru bisa membuat sekitar 1500 keputusan setiap harinya. Namun, saya percaya, keterbatasan bukan alasan untuk mengajar seadanya. Justru, dari keterbatasan itulah muncul kreativitas yang tumbuh begitu saja.

Siswa pun ikut belajar hal yang sama. Mereka melihat gurunya datang setiap hari, sebelum menyapa mereka, guru-guru mereka terlebih dahulu sudah menyapa ombak dan angin yang ada di laut sana. Mereka juga menyaksikan bagaimana pelajaran tetap berjalan walau proyektor tak bisa digunakan. Saya berharap, tanpa saya sadari, itu menanamkan pesan bahwa pendidikan adalah komitmen, bukan sekedar formalitas.

Bahasa yang menghidupkan Budaya Mengajar Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat bearti juga menjaga bahasa daerah dan warisan budaya. Banyak siswa masih akrab dengan bahasa Melayu dalam percakapan sehari-

hari. Saya tidak melarang itu, bahkan sesekali memintanya untuk tetap digunakan dalam kelas sebagai bahan perbandingan. Misalnya, ketika membahas kosakata serapan atau perbedaan dialek, bahasa Melayu menjadi jembatan yang memperkaya wawasan mereka.

“Pak, kalau ‘indah’ dalam bahasa Melayu, sama tak artinya?” tanya seorang siswa.

“sama artinya, tapi rasa katanya bisa berbeda nak.” Saya menjawab, sambil menjelaskan bahwa setiap kata punya nuansanya tersendiri.

Di sini, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga identitas. Saya ingin murid-murid saya bangga dengan bahasa ibunya, karena mereka harus tau dari Pulau Penyengat inilah akar cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini. Saya juga berharap mereka mahir menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karena di era 5.0 ini, kekuatan bahasa adalah salah satu benteng budaya. Interaksi yang Tak Terbatas Ruang Kelas Mengajar di pulau kecil membuat hubungan guru dan siswa terasa lebih personal. Di luar sekolah, kami sering bertemu di jalan, di dermaga, atau di warung kecil. Kadang mereka membawa kabar tentang tugas sekolah, kadang hanya sapaan singkat, tapi semuanya memperkuat ikatan.

Di hari-hari tertentu, saya juga ikut kegiatan Masyarakat, seperti gotong royong membersihkan lingkungan atau menghadiri acara adat seperti Mandi Syafar. Di momen itu, saya bukan lagi sekedar guru Bahasa Indonesia, tapi bagian dari komunitas. Ini memberi saya kesempatan untuk melihat siswa dalam konteks kehidupan nyata, bukan hanya di balik meja belajar. Sejarah yang Menjadi Guru Pulau Penyengat bukan hanya lokasi mengajar; ia adalah guru kedua bagi saya dan siswa. Dari sejarahnya, kami belajar tentang kebijaksanaan, keberanian, dan seni sastra. Dari masyarakatnya, kami belajar tentang gotong royong dan kebersamaan. Dari lautnya, kami belajar tentang ketabahan dan keikhlasan.

Saya sering mengajak siswa merenung: “Kalau sultan dan tokoh sastra dulu bisa menulis karya besar dengan keterbatasan teknologi, kenapa kita yang punya semua fasilitas modern tidak bisa bekarya?” pertanyaan itu biasanya membuat mereka terdiam sejenak,sebelum mulai memikirkan ide baru. Ditambah lagi jika saya berkata “Pulau Penyengat ini pulau bertuah nak, jangankan menjadi orang hebat, menjadi pahlawan saja sudah terbukti di pulau ini.” Pernyataan itu membuat mereka kembali bersemangat untuk belajar agar lebih baik.

Guru Hari Ini di Pulau Penyengat

Menjadi guru hari ini berarti harus adaptif terhadap perubahan zaman. Kurikulum berubah, teknologi berkembang, dan tantangan sosial semakin kompleks. Tapi bagi saya, esensi guru tetap sama: mendidik dengan hati, menginspirasi dengan teladan, dan memberi bekal agar siswa mampu menghadapi masa depan.

Di Pulau Penyengat, tugas itu terasa lebih dekat dengan akar budaya. Saya tidak hanya

mengajarkan struktur kalimat subjek, predikat, objek dan keterangan (SPOK) atau jenis-jenis

teks lainnya, tapi saya juga mengaitkannya dengan nilai sejarah dan budaya yang ada di sekitar siswa agar lebih kontekstual dan bermakna. Dengan begitu, pelajaran Bahasa Indonesia menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Mengikat Bahasa dan Sejarah

Setiap kali saya berdiri di depan kelas, saya tahu bahwa saya tidak hanya mengajar kata-kata. Saya sedang merangkai tali yang menghubungkan antara bahasa dan sejarah, siswa dengan identitasnya, masa lalu dengan masa depan.

“Dari Pulau Penyengat, bahasa dan sejarah mengikat.” bukan sekedar judul tulisan ini.Ia adalah cerminan dari apa yang saya rasakan setiap hari. Pulau ini mengajarkan saya bahwa bahasa yang hidup adalah bahasa yang mampu merawat ingatan, dan sejarah yang lestari adalah sejarah yang diceritakan kembali lewat kata-kata maupun Tindakan.

Dan selama laut terus bergelombang di sekitar Pulau Penyengat, selama anak-anak masih duduk di bangku sekolah menatap penuh ingin tahu, saya akan terus menyeberang setiap pagi. Karena di Seberang sana, ada kelas yang menunggu, ada bahasa yang harus diajarkan dan ada sejarah yang harus dijaga.

Oleh: Angga Adharullah Pemenang Juara1 Lomba Menulis RDK 2025 Kategori Guru

banner 325x300