Sambut Hari Listrik Nasional ke-80, PLN Hadirkan Cahaya Baru di Ujung Singkep

banner 120x600

LINGGA – Di Kampung Boyan, Kecamatan Singkep, ada rumah yang kini tersinari lampu listrik untuk pertama kalinya.

‎Bagi nenek Samsiah (82) dan nenek Sumsiah (70), warga Kelurahan Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, cahaya lampu listrik adalah simbol perubahan hidup.

banner 325x300

‎Setelah bertahun-tahun bergantung pada cahaya lampu minyak tanah dan cahaya listrik dari tetangga, malam warga pra-sejahtera kini diterangi cahaya baru cahaya harapan, martabat, dan kesempatan untuk hidup lebih layak.

‎Momentum ini hadir tepat sebelum Hari Listrik Nasional ke-80, yang diperingati setiap 27 Oktober sebagai simbol perjuangan bangsa merebut kendali listrik dari penjajah Jepang. Dalam rangka peringatan tersebut, PLN ULP Dabo Singkep meluncurkan dua program sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat: Light Up The Dream (LUTD) dan penyaluran paket sembako melalui Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN).

‎Program Light Up The Dream adalah inisiatif penyalaan sambungan listrik gratis bagi masyarakat pra-sejahtera. Program ini berasal dari donasi pegawai PLN dan digelar serentak di seluruh unit PLN se-Indonesia.

‎”Kami ingin memastikan setiap lapisan masyarakat bisa menikmati listrik, karena listrik bukan hanya kebutuhan, tapi juga hak setiap warga,” ujar Suheri, Manajer PLN ULP Dabo Singkep. Minggu,(26/10/25).

‎Selain listrik, PLN juga menyalurkan paket sembako melalui YBM PLN, lembaga amil zakat berbasis korporat yang menyalurkan infak, sedekah, dan wakaf dari pegawai muslim kepada para mustahik.

‎“Kami juga ingin membantu meringankan beban masyarakat sekaligus menyalurkan nilai-nilai kepedulian sosial. Listrik dan bantuan sembako ini merupakan wujud komitmen kami untuk berbagi dengan sesama,” tambah Suheri.

‎Momentum HLN mengingatkan bahwa listrik bukan hanya urusan perusahaan, tapi juga hak masyarakat. Lampu yang menyala di rumah nenek Samsiah dan Sumsiah bukan sekadar penerangan, tetapi simbol harapan, martabat, dan masa depan yang lebih baik. “Sebuah lampu yang menyala memancarkan lebih dari sekadar cahaya; ia memancarkan kesempatan untuk hidup yang lebih layak,” ujar Suheri.

‎Kegiatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian sosial dan kebersamaan. Dengan kolaborasi pegawai PLN melalui donasi dan zakat, warga pra-sejahtera bisa merasakan manfaat nyata dari listrik dan bantuan sosial. Untuk nenek Samsiah dan Sumsiah, cahaya lampu di rumah mereka adalah awal dari kehidupan yang lebih nyaman, aman, dan bermartabat.

‎HLN bukan sekadar peringatan historis. Ini adalah momen untuk melihat bagaimana listrik dan solidaritas sosial bisa mengubah kehidupan manusia, memberi mereka harapan, keamanan, dan masa depan yang lebih cerah.

 

(‎Adhe Bakong)