Batam – Pada triwulan I 2026, perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap tumbuh kuat sebesar 7,04% (yoy) di tengah berbagai tantangan dan dinamika global, angka tersebut di atas capaian Nasional yang sebesar 5,61% (yoy), serta menjadi provinsi dengan pertumbuhan tertinggi se-Sumatera.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rony Widijarto P, Kamis (25/6/2026) mengatakan, menurut lapangan usahanya, perekonomian Kepri masih ditopang oleh sejumlah sektor utama. Selain industri pengolahan, ada pertambangan, konstruksi, serta perdagangan.
“Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kinerja investasi, net ekspor, serta konsumsi rumah tangga,” katanya.
Diungkap, memasuki triwulan II 2026, perekonomian Kepri diprakirakan tetap tumbuh kuat, meskipun melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan terutama dipengaruhi oleh normalisasi aktivitas pertambangan akibat faktor high base effect setelah mencatatkan kinerja tinggi pada tahun sebelumnya.
“Dmikian, kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi yang dari sisi permintaan tercemin pada komponen investasi, konsumsi rumah tangga, diprakirakan akan tetap menopang pertumbuhan ekonomi Kepri,” bebernya.
Diakui, secara keseluruhan tahun 2026, perekonomian Kepri diprakirakan tumbuh dalam kisaran 6,0–6,8% (yoy). Prospek tersebut tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko, antara lain berlanjutnya ketidakpastian global, disrupsi rantai perdagangan, perkembangan kebijakan perdagangan negara mitra, serta volatilitas harga energi dan komoditas global.
“Sementara itu, dengan dukungan konsistensi kebijakan dan penguatan sinergi pengendalian inflasi, inflasi Kepri pada tahun 2026 diprakirakan tetap berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy),” urai Rony.
Inflasi Kepri pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,38% (mtm), atau secara kumulatif mencapai 1,25% (ytd). Secara tahunan, inflasi Kepri tercatat sebesar 3,92% (yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,06% (yoy). Perkembangan tersebut perlu terus dicermati, khususnya berkaitan dengan pergerakan harga pangan, biaya transportasi, dan potensi rambatan kenaikan harga energi.
BI Kepri terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilaksanakan pada Juni 2026 meliputi High Level Meeting TPID Kota Batam, publikasi Iklan Layanan Masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi, edukasi kepada masyarakat mengenai inflasi dan belanja bijak, peluncuran Gerakan Menanam Cabai Kepri (GEMARI), serta pelaksanaan Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA) guna memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kesinambungan pasokan.***






