LINGGA – Warga Sekop Laut masih mengingat siang itu. Sebuah rumah duka dipenuhi pelayat. Kursi-kursi plastik tersusun di halaman rumah sederhana, sementara tangis keluarga pecah di sela kesibukan warga menyiapkan prosesi pemakaman.
Di tengah suasana kehilangan itu, seorang pria datang tanpa banyak bicara.
Setelah menyalami keluarga, ia tak sekadar duduk menyampaikan belasungkawa. Tangannya langsung sibuk membantu pengurusan jenazah. Ia ikut memikul keranda, berdiri di saf salat jenazah, hingga turun langsung ke liang lahat untuk membantu proses pemakaman sampai selesai.
Bagi warga, pemandangan itu membekas kuat dalam ingatan.
Pria tersebut adalah Kompol Andi Sutrisno. Saat itu, ia masih menjabat sebagai Wakapolres Lingga,dan tentu saja aksi mulianya tersebut mendapat dukungan dari Pimpinannya ketika itu, Kombes Pol. Apri Fajar Hermanto (Sekarang Dirpolairud Polda Riau) dan AKBP Pahala martua Nababan, (Kapolres Lingga saat ini).
Kini, pengabdiannya berlanjut sebagai Kayanma Polda Kepri di Batam.
Namun, apa yang terjadi di Sekop Laut hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang membuat masyarakat di berbagai wilayah penugasannya di Kepulauan Riau mengenalnya lewat sebuah sapaan yang begitu lekat: “Andi Mayat.”
Sepintas, julukan itu mungkin terdengar keras.
Namun bagi warga yang mengenalnya, sapaan tersebut bukan ejekan, melainkan bentuk penghormatan—lahir dari kepedulian seorang polisi yang terlalu sering hadir ketika duka datang.
Di balik kesibukannya sebagai anggota polisi, Kompol Andi selalu memiliki kedekatan yang tak biasa dengan warga dan para pengurus pemakaman seperti di Kabupaten Lingga. Maklum, sosok yang akrab dijuluki “Andi Mayat” itu memang sudah lama terlibat membantu proses pemakaman warga yang berduka.
Jejaringnya pun terbentuk secara alami. Dari pemakaman Telex, Pasir Putih, Teluk Rhu, hingga kawasan Desa Jagoh, Kecamatan Singkep Barat, Kompol Andi kerap mendapat kabar jika ada warga meninggal dunia yang membutuhkan bantuan.
Salah satu peristiwa yang masih membekas dalam ingatannya adalah saat seorang ibu di Lingga meninggal dunia akibat tertimpa tembok. Kabar duka itu ia terima dari rekan-rekannya di pemakaman.
Malam itu, hujan turun deras. Namun kondisi cuaca tak menjadi alasan baginya untuk tinggal diam.
“Saya ingat waktu itu malam, ada ibu-ibu yang meninggal ketimpa tembok. Saya lupa nama ibunya dan daerah mana. Yang jelas saat itu hujan lebat. Ya karena sudah panggilan moral, mau malam apalagi hujan pun kita gas, sebab kasihan dengan pihak keluarga yang sedang berduka,” kenang Kompol Andi.
Bagi Kompol Andi, membantu proses pengurusan jenazah bukan sekadar rutinitas sosial. Ada panggilan kemanusiaan yang membuatnya merasa harus hadir, terutama di saat keluarga sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidup mereka.
Andi dikenal bukan sekadar aparat penegak hukum. Ia adalah sosok yang kerap datang membantu warga mengurus jenazah, ikut memikul keranda, hingga turun langsung ke liang lahat.
Bagi sebagian orang, liang lahat adalah tempat yang membuat langkah terasa berat untuk mendekat. Namun bagi Andi, membantu mengantar seseorang ke peristirahatan terakhir telah menjadi bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.
“Kalau orang sedang berduka itu jangan dibiarkan bingung sendiri. Kadang keluarga tidak tahu harus mulai dari mana. Kalau saya bisa bantu, ya saya bantu. Kita ini hidup saling meringankan,” ujar Andi.
Kebiasaan itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.

Lulusan SPN Gobah Pekanbaru tahun 1992 tersebut pernah lama bertugas di dunia identifikasi forensik atau Inafis, baik di Polda maupun Polresta Barelang. Pengalaman panjang itu membuatnya akrab dengan tragedi, kehilangan, dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan.
Namun alih-alih menjadikannya dingin, pengalaman tersebut justru menumbuhkan empati.
Andi memahami bahwa setelah kematian datang, keluarga yang ditinggalkan sering kali membutuhkan lebih dari sekadar ucapan belasungkawa—mereka membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dan membantu.
Kariernya kemudian membawanya ke berbagai posisi, mulai dari Kanit Reskrim Batu Aji, Kasat Narkoba Lingga, Humas Polda Kepri, Wakapolres Lingga, hingga kini menjabat sebagai Kayanma Polda Kepri.
Namun bagi masyarakat, jabatan bukanlah hal utama yang diingat.
Yang paling membekas justru ketulusannya.
Salah satu kesaksian datang dari Anugrah, warga Sekop Laut.
Paman Anugrah pernah menjadi salah satu warga yang dibantu Andi saat meninggal dunia, ketika Andi masih menjabat Wakapolres Lingga. Di tengah suasana keluarga yang diliputi duka, Andi hadir tanpa diminta dan ikut membantu seluruh proses pemakaman hingga selesai.
Bahkan turun langsung ke liang lahat.

“Kami benar-benar tidak bisa lupa dengan kebaikan Pak Andi. Beliau datang membantu tanpa melihat siapa kami. Bahkan ikut turun sampai pemakaman selesai. Di saat keluarga sedang bingung dan berduka, kehadiran beliau sangat berarti,” tutur Anugrah.
Kedekatan Andi dengan masyarakat juga diamini Ruslan, jurnalis iNews sekaligus Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Lingga.
Menurut Ruslan, sapaan “Andi Mayat” sudah lama dikenal masyarakat dan lahir dari aksi sosial Andi membantu warga saat ada kematian.
“Kalau masyarakat menyebut beliau Andi Mayat, itu bukan dalam konteks buruk. Justru karena beliau memang sering hadir membantu warga ketika ada yang meninggal. Saya beberapa kali melihat sendiri bagaimana Pak Andi turun langsung sampai ke liang lahat,” ujar Ruslan.
Ruslan juga menilai Andi dikenal dekat dengan masyarakat dan kalangan media, baik saat bertugas di Lingga maupun Batam.
“Beliau orangnya terbuka, mudah diajak komunikasi, dan tidak membangun jarak dengan wartawan maupun warga,” katanya.
Tak hanya hadir di rumah duka, Andi juga dikenal sering menjenguk warga yang sakit dan membantu meringankan beban mereka.
Bagi Andi, orang sakit tak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga perhatian dan semangat agar tidak merasa menghadapi cobaan seorang diri.
“Kehadiran kita mungkin sederhana, tapi kalau bisa membuat orang sedikit lebih kuat, kenapa tidak,” kata Andi.
Mungkin karena itu pula, hingga hari ini, sapaan “Andi Mayat” tetap hidup di tengah masyarakat.
Bukan sebagai julukan yang menyeramkan, melainkan simbol penghormatan bagi seorang polisi yang memilih tetap dekat dengan rakyat—bahkan di saat paling sunyi dalam kehidupan mereka.
Di tengah kabar duka yang datang tanpa aba-aba, warga tahu akan selalu ada seseorang yang tak segan hadir, membantu, lalu ikut mengantar mereka yang pergi hingga ke peristirahatan terakhir.
(Adhe Bakong)






