Makam Sultan Sunyi di Hari Pahlawan, Tengku Nazwar Menegur Lupa

banner 120x600
banner 468x60

LINGGA — Dari negeri tua yang sarat sejarah, di tanah yang dahulu menjadi nadi kekuasaan dan marwah bangsa Melayu, sebuah suara bangkit dari kedalaman hati seorang pewaris darah raja-raja. Tengku Nazwar ibni Tengku Usman, Tumenggung Sri Maharaja Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau–Lingga, menyampaikan keluh hiba yang tak mampu lagi ia simpan.

‎Setiap 10 November, negeri ini mengangkat kepala, memperingati jasa para pahlawan. Namun di Daik  tanah yang menjadi pangkal sejarah Kesultanan Riau–Lingga, pusara Sultan Mahmud Riayat Syah, sang pahlawan nasional, dibiarkan lengang. Sementara upacara resmi dan penghormatan berlangsung jauh di Dabo Singkep, makam baginda yang menjadi nadi marwah bangsa Melayu seakan tidak tersentuh rasa.

banner 325x300

‎“Saya tidak mengerti,” ujarnya perlahan, seakan berbicara kepada angin yang melintas, “mengapa tempat persemayaman baginda Sultan — pahlawan yang mengangkat martabat Melayu dan melawan penjajah hingga ke helaan nafas terakhirnya — tidak menjadi tumpuan pada hari yang seharusnya miliknya.”

‎Nada suaranya tidak keras, tetapi mengandung luka yang dalam.

‎“Orang datang dari seberang lautan,” katanya lagi, “tamu-tamu mulia dari negeri jauh, berdiri di sini dengan hormat, dengan zikir dan doa. Mereka ingat baginda. Tapi kita, anak cucu tempatan? mengapa seperti hilang ingatan akan marwah sendiri?”

‎Kata-kata itu jatuh seperti embun yang berat-dingin, tetapi menyentuh inti rasa.

‎Baginya, pusara Sultan Mahmud Riayat Syah bukan sekadar tanah makam; ia adalah tiang seri bangsa, tempat sejarah berlabuh dan tempat jiwa Melayu berteduh. Jika tempat itu dilupakan, maka bangsa ini, menurutnya, kehilangan cermin yang memantulkan siapa dirinya sebenarnya.

‎“Pusara baginda bukan batu dan tanah semata,” ujar Tengku Nazwar, menatap jauh. “Di situ tidur segala doa yang dulu membawa negeri ini tegak. Jika kita biarkan ia sunyi, maka sunyilah kita sebagai bangsa.”

‎Ia berharap pemerintah daerah membuka mata dan hati, agar pusara Sultan Mahmud Riayat Syah tidak lagi hanya menjadi tempat ziarah bagi mereka yang jauh, tetapi juga menjadi pusat penghormatan bagi rakyat tempatan sendiri.

‎“Peliharalah ingatan ini,” pesannya, lembut namun menggetarkan. “Sebab bangsa yang lupa kepada pahlawannya ibarat layar koyak — tidak mampu lagi menangkap angin untuk berlayar ke hadapan.”

‎(Adhe Bakong)

banner 325x300