Oleh : Husnizar Hood
“Jangan lupa, sekarang sudah masuk bulan OktoberTok”, begitu ucap Mahmud kepada saya beberapa hari kemarin ketika kami bertemu di kedai kopi “Papandaan”, ya itu nama sebuah kedai kopi di Tanjungpinang tepatnya di daerah Batu 10 yang sejak Subuh oleh tuan sang empunya kedai kopi itu dia telah membuka lebar-lebar pintu kedai kopinya mungkin sebagai pertanda dia juga sudah siap sedia membuka pintu rezeki bagi usahanya.
Pemilik kedai kopi itu orang Banjar, Erwin namanya, kawan kami juga dan saya baru tahu kalau arti papandaan itu dalam bahasa Banjar adalah “kawan baik”, mungkin seperti pertemanan kami ini, saya dan kawan baik saya bernama Mahmud itu, kami tak pernah bertengkar, apalagi beselisih paham, kalaupun ada beda pendapat dan sampai agak merajuk-merajuk sikit itu biasalah tapi kalau sampai melupakan kawan, memusuhinya apalagi menghina, oh bagi kami tidak.
Hidup ini sekejap, kadang belum lama kita di atas sudah bertemu lagi dengan orang yang dibawah begitu juga sebaliknya. Apalagi kalau kita merasa bahwa kita sedang berkuasa dan kita menganggap dia itu hanyalah orang biasa, ada berapa banyak orang yang berkuasa tumbang sementara orang biasa hanya tetap saja tegak berdiri.
“Nanti kita jumpa lagi Tok, mungkin di jalan atau mungkin juga di mesjid”, begitu ucap Mahmud penuh makna, agak dalam maknanya kali ini yang terbersit.
“Dah bulan Oktober Tok”, sekali lagi terdengar Mahmud mengingatkan, saya tahu bulan Oktober ini adalah bulan paling banyak hari besar yang diperingati oleh bangsa besar ini ada 1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila, 5 Oktober Hari Tentara Nasional Indonesia, 17 Oktober Hari Kebudayaan Nasional yang baru ditetapkan oleh pemerintah walaupun terlihat ada yang gelisah ran ada juga yang pasrah dan nanti tanggal 28 Oktober Hari Sumpah Pemuda. Bulan Bahasa begitu juga mereka menyebutnya.
“Bukan itu, kalau itu semua orang juga sudah tahu”, sela Mahmud agak tinggi nadanya. Saya hanya tersenyum sebab sejak dari tadi saya memang sengaja hendak mengusik kawan baik saya itu dengan pura-pura lupa kalau tanggal 11 Oktober nanti anak bungsunya akan melangsungkan pernikahan, dia sudah mengingatkan saya jauh-jauh hari kemarin.
Maksud dia mengingatkan itu jangan sampai di tanggal itu nanti misalnya saya punya agenda keluar kota, tentulah kawan saya itu kecewa apalagi isterinya, saya tahu betul isteri kawan saya itu selalu bilang dengan bangga kalau anak bungsunya ini berbeda dengan anak bungsu yang lain pada umumnya dia tidak manja, dia mandiri dan yang lebih penting lagi dia paling perhatian dengan kakak-kakaknya, juga keponakan-keponakannya. Selalu ngajak ngopi emak bapaknya.
Sampai disitu kadang saya agak iri dengan kawan baik saya itu, hidupnya sederhana, biasa saja tapi ia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dalam keluarganya dengan baik, Insya Allah nanti anak bungsunya menikah maka selesailah sudah menikahkan ketiga anaknya.
“Selesai tugas awak menikahkan ketiga anak awak itu ya Mud, bolehlah habis tu bapaknya lagi”, gurau saya pada Mahmud, kawan saya itu terbahak, hampir kopi yang hendak diteguknya tersembur. Mungkin ia teringat kemari dia mengusik saya dengan cerita yang ia dengar dari tetangganya,
“Ada Tok, kadang jantan-jantan miang ini bukan main ganasnya, menikah lagi takut tapi memangsa banyak korban dengan cara sopan, tapi macam setan mulai dari minta jabatan sampai minta jatah bulanan, dia pikir kita tak tahu”, Mahmud agak serius bercakap mengalah infotainment waktu itu.
“Jadi awak tahu Mud apa yang dia buat?”, tanya saya.
“Sempat saya pura-pura tanya kabar, padahal sudah berpuluh tahun saya tak pernah berkabar dengan dia sejak itu dia tak membalas lagi WA saya padahal saya bukan apa-pa saya hanya mau menjemput dia di acara pernikahan anak saya”, jawab Mahmud dengan nada sedikit mesra.
Balik ke hajat yang hendak di helat kawan saya Mahmud itu memang akan saya bantu sebisa dan semampu saya, begitulah kami berkawan walaupun ekonomi tidak begitu baik tapi niat baik harus tetap diatasnya, apalagi negeri ini di bulan Oktober ini diberi rangking nomor dua tertinggi penganggurannya.
Saya sangat terkejut ketika kawan saya Mahmud mengirim potongan berita itu, mana mungkin negeri yang pertumbuhan ekonominya tinggi ternyata penganggurannya paling banyak.
“Mungkin masyarakat negeri ini punya prinsip lebih baik menganggur saja sebab nanti kalau berkerja, berhasil dan kaya, berkuasa dia akan menjadi sombong seperti yang ia lihat sekarang apalagi sombong itu cenderung tak adil dan itu dosa yang akan mengantarkannya ke neraka”, cerita Mahmud.
Saya bilang pada Mahmud,
“Berita negeri ini paling banyak penganggurannya itu hoax yang benar adalah pemerintahnya menganggur, mereka tak bekerja, makanya data itu muncul, pemerintah hanya sibuk cari pinjaman dan sebagian cari simpanan”
“Simpanan apa Tok?”, tanya Mahmud penuh semangat.
“Simpanan yang indah-indah ialah ilmu yang memberi faedah…”, jawab saya.
Kawan saya itu nampak agak kecewa, dia tahu itu kalimat pembuka Gurindam 12, karya besar Raja Ali Haji yang luar biasa itu, yang malam kemarin di Bulan Oktober ini juga saya dengar sedang diperbincangkan oleh beberapa orang dan orang itu bukan orang sembarangan bahwa ada 19 karya besar Raja Ali Haji dan 10 Karyanya masih ditemukan naskah aslinya tapi blm ada satupun yang diakui menjadi warisan dunia. Sementara daerah lain mereka sudah lebih dulu dari kita.
“Padahal kerjanya cukup hanya mengusulkan saja bukan sesusah membangun tugu bahasa yang pernah gagal beberapa tahun lalu itu dan kini dipaksa akan dibangun lagi”, ujar saya.
“Mereka tak tahu ya Tok, kalau dulu di tahun 1996 sebulan penuh di bulan Oktober ini pernah dirayakan Hari Raja Ali Haji dan itu juga menjadi tonggak awal kepenulisan di Kepulauan Riau itu berbunyi lagi, seperti yang ditulis Norham Abdul Wahab, budak Bengkalis yang degil itu, “Terompet itu masih berbunyi”.
Bulan Oktober ini juga ada Rida Award penghargaan untuk penulis, ada juga Festival Sastra Gunung Bintan tapi dari semua itu yang saya catat dan tak mungkin saya lupa, anak bungsu Mahmud nikah dan saya akan melihat kawan saya itu bahagia.




