Saya memanggil dia dengan panggilan Datok, kawan-kawannya juga demikian, itu hanya gelaran saja nama sebenarnya Suhendra, Datok itu bukan gelar kehormatan seperti sekarang disandang oleh banyak para para petinggi negeri ini baik yang diberikan secara resmi atau hanya karena mereka masuk atau termasuk dalam sebuah organisasi.
Tak peduli dia pantas ataupun tidak menyandang gelar itu yang penting, “Ampun Datok…”, begitu Mahmud kawan saya memberi salam hormat kepada saya. He he he
“Sayapun pernah dipanggil Datok juga, jauh sebelum gelar nama itu dibanggakan orang seperti sekarang ini”, balas saya agak sedikit temberang kepada Mahmud.
Yang memanggil saya Datok itu dulu sekitar tahun 2000 bukan sembarang orang dia adalah Almarhum Alazhar, seniman dan budayawan Riau yang kemudian hari ria menjadi Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (2017-2022), kebetulan sejak tahun 1997 kami sangat dekat dalam berkesenian.
Mungkin dia sengaja mengikut-ikut banyak orang memanggil abang saya Huzrin Hood dengan panggilan Datok semasa berjuang pembentukan provinsi Kepri.
“Saya pun pernah dipanggil Datok juga, jauh sebelum gelar nama itu dibanggakan orang seperti sekarang ini”, balas saya agak sedikit temberang kepada Mahmud.
Entah kenapa, kadang saya risau juga tapi apakan daya, sekarang saya memanglah sudah mejadi Datok yang sebenarnya, cucu sudah dua dah Insya Allah sekejap lagi masuk tiga.
Tapi kisah Datok Suhendra atau Hendra yang saya ceritakan itu bermula sekitar tahun 2002, dia katanya pulang bekerja dari Bali dan kemudian menetap di Tanjungpinang menjadi bagian keluarga besar sanggar yang saya dirikan yaitu Pusat Latihan Seni Sanggam, saya diberitahu kalau Datok itu berasal dari kampung yang sama dengan saya yaitu Tanjung Batu.
Oh ternyata saya kenal dengan keluarganya, kami sama-sama anak Tok Penghulu, panggilan untuk seorang kepala desa waktu itu. Bapaknya kepala desa Tanjung Batu dan Bapak saya kepala desa Sungai Ungar, wah ternyata kami sama-sama anak datok-datok juga.
Dengan kakaknya saya malah lebih tahu, panggilannya Nong, ketika saya SMP kelas 1, Nong itu kelas 5 SD dia jadi pemain drum cilik, kami terkagum-kagum melihatnya, keluarganya punya grup band dan grup band itu ditunggu-tunggu setiap pementasannya, mereka memang orang berada ditambah bergelar Tok Penghulu pula.
“Dulu Tok Penghulu memang disegani orang sekampung sekarang jangankan penghulu, bupati, walikota atau gubernur saja bahkan rumah menteripun bisa dijarah orang, dilanggar orang”, ujar kawan saya Mahmud.
Memang sudah jadi ketetapan Allah, jodoh pertemuan, rezeki dan maut, Datok menikah dengan salah serorang pengurus sanggar saya yang juga pangkatnya masih keponakan saya, seiingat saya waktu itu tahun 2003 dan pesta pernikahan mereka mereka setelah di kampung anak-anak sanggar membuat resepsinya di Balai Biram Dewa atau Loong Room Gedung Daerah Tanjungpinang. Dulu ada ruangan itu ada, sekarang sudah jadi rumah dinas Gubernur. Hebatkan, malahan anaknya Radit itupun tanggal lahirnyapun sama dengan tanggal lahir dan bulan anak sulung saya tahunnya saja yang berbeda.
Banyak kerja kesenian yang sudah kami buat di merata tempat dan Datok bersama isterinya Idar selalu menjadi orang dibalik layar kerja-kerja seni kami itu. Mereka menjadi keluarga kecil yang yang bahagia dan kami selalu singgah di rumah kecil mereka sekedar numpamg makan siang atau panen mangga kadang memesan bubur kacang hijau yang jadi usaha sampingan mereka.
Sampai di tahun 2016 kami diundang untuk bermain teater di Lombok oleh pak SBY Presiden Indonesia ke 6, sebuah teater jenaka yang saya mainkan bersama Pepy isteri saya dan dalam lakon itu kami memerlukan peran parodi sosok tinggi dan ganteng layaknya seperti mas AHY, maka Datoklah pilihan utama kami yang akan berperan nanti.
Walau agak mengejutkan dia tapi mungkin pantang baginya untuk menolak, dia juga merasa punya darah seni yang mengalir dalam tubuhnya, peranpun dibagi, latihan segera dimulai dan kamipun terbang ke Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Hotel Lombok Raya.
Waktu gladi bersih Datok bukan main lincah aktingnya dia mulai didandan seperti sosok AHY dengan sebuah ransel dan kacamata hitam yang buat dia lebih sanggam. Uh, mak, pekik kawan saya Mahmud yang juga ikut dalam pertunjukan itu bukan main dia kagum dengan akting Datok dan bagaimana Datok bercerita dia mulai merasakan atmosfir seorang bintang panggung dan bagaimana pula yang akan terjadi nanti malam ketika pementasan tiba.
Ketika satu persatu rombongan tetamu utama mulai masuk, ini menurut cerita kawan saya Mahmud, wajah Datok mulai berubah apalagi ketika mas AHY tiba, dia tahu dia akan memparodikan tokoh idolanya itu, nafasnya mulai terganggu, Datok ini memang ada riwayat penyakit asma, sibuk orang menyambut tamu sibuk pulak dia mengambil “inhaler” di dalam tas pinggangnya apalagi ketika pak SBY masuk ke tempat acara sekali lagi ia semprotkan inhaler itu ke mulutnya. Mahmud ternganga.
Kini tiba adegan Datok masuk yang berperan sebagai mas AHY, dia dipanggil oleh Raja Mak Yong yang diperankan Pepy isteri saya.
“Memang dia tak bercakap sesuai skenario waktu latihan”, cerita Mahmud mengulang kisah lucu waktu pementasan itu, Datok yang entah gugup entah sesak nafas walaupun kemunculannya memparodikan AHY pecah disambut riuh tawa penonton termasuk pak SBY dan mas AHY tapi kami yang lebih tahu jalan cerita itu sebenarnya lebih pecah lagi untung Pepy dengan cepat memotong cerita dan Datok melompat kembali ke belakang panggung.
Malam itu pementasan kami sukses pak SBY yang tak diskenariokan naik ke panggung dia spontan naik ke panggung, memberi petuah, memuji penampilan kami dan merasa terhibur dan kami lebih terhibur lagi awalnya hanya 2 malam di Lombok kami menambah 2 malam lagi karena ada transferan yang masuk dari pak SBY.
“Kalau bercakap dialah pelakon, kalau berlakon dia tak bercakap”, begitu usik Mahmud kawan saya itu ke Datok dan kami tertawa semua, Datok dengan “stay cool”, tertawa juga dengan rambut masih mengkilap pomade ditambah basah keringat, entah keringat dingin atau demam panggung kini lebih mirip seperti AHY nanti sudah tua.
Sejak itu “Kalau bercakap dialah pelakon, kalau pelakon dia tak bercakap”, jadi seperti bahan olok-olok bukan hanya kepada pemain teater seperti Datok tapi siapa yang berkesenian kalau tak fokus, penampilan jelek atau lupa, siaplah akan kena hujah sekampung.
“Tak adil juga hanya seniman yang dibegitukan, orang-orang atas tu lebih lagi, kalau bercakap dialah pelakon, macam orang paling suci dan paling bedelau tapi kalau dah jadi malah berubah jadi penyamun sifat tak ubah hantu belau”, sergah Mahmud ketika kami berpanas-panas berlindung dibawah pohon kemboja.
Kami sedang berada dipemakaman yang hening, Datok yang terus memilih lakonan hidupnya, tetap berkesenian, menjadi penjual bubur kacang hijau masakan Idar isterinya meskipun seorang ASN di kantor perpustakaan dia hoby memasak sambil terus membesarkan anak semata wayangnya, Radit, kini duduk di kelas 1 SMA dan kemarin terpilih menjadi anggota Paskibraka yang membuat ia bangga, kini Datok sedang kami antarkan bersama ke peristitahatan yang terakhirnya.
Penyakit asma yang mengingatkan pada pementasan kami di Lombok dulu itu juga yang menjadikan tirai panggung lakonannya tertutup dan berhenti. Itu semua sudah menjadi takdir dari sang Maha. Al fatihah.
Nong, kakaknya Datok yang baru tiba dari Jakarta, saya lihat menangis dan kemudian diam berbicara sambil bergumam, “Adek jahat, kakak datang mau buat kejutan ternyata ketika kakak datang malah adik yang pergi”, mereka memang hanya berdua, kakak beradik tapi sebenarnya selama ini mereka tidak sendiri, ada kami yang ramai dan selalu riuh dan masih saja terus berlakon di dunia fana ini sampai nanti, sampai panggung-panggung itu tertutup dan berhenti juga sepi.
Oh ternyata saya kenal dengan keluarganya, kami sama-sama anak Tok Penghulu, panggilan untuk seorang kepala desa waktu itu. Bapaknya kepala desa Tanjung Batu dan Bapak saya kepala desa Sungai Ungar, wah ternyata kami sama-sama anak datok-datok juga.
Dengan kakaknya saya malah lebih tahu, panggilannya Nong, ketika saya SMP kelas 1, Nong itu kelas 5 SD dia jadi pemain drum cilik, kami terkagum-kagum melihatnya, keluarganya punya grup band dan grup band itu ditunggu-tunggu setiap pementasannya, mereka memang orang berada ditambah bergelar Tok Penghulu pula.
“Dulu Tok Penghulu memang disegani orang sekampung sekarang jangankan penghulu, bupati, walikota atau gubernur saja bahkan rumah menteripun bisa dijarah orang, dilanggar orang”, ujar kawan saya Mahmud.
Memang sudah jadi ketetapan Allah, jodoh pertemuan, rezeki dan maut, Datok menikah dengan salah serorang pengurus sanggar saya yang juga pangkatnya masih keponakan saya, seiingat saya waktu itu tahun 2003 dan pesta pernikahan mereka mereka setelah di kampung anak-anak sanggar membuat resepsinya di Balai Biram Dewa atau Loong Room Gedung Daerah Tanjungpinang. Dulu ada ruangan itu ada, sekarang sudah jadi rumah dinas Gubernur. Hebatkan, malahan anaknya Radit itupun tanggal lahirnyapun sama dengan tanggal lahir dan bulan anak sulung saya tahunnya saja yang berbeda.
Banyak kerja kesenian yang sudah kami buat di merata tempat dan Datok bersama isterinya Idar selalu menjadi orang dibalik layar kerja-kerja seni kami itu. Mereka menjadi keluarga kecil yang yang bahagia dan kami selalu singgah di rumah kecil mereka sekedar numpamg makan siang atau panen mangga kadang memesan bubur kacang hijau yang jadi usaha sampingan mereka.
Sampai di tahun 2016 kami diundang untuk bermain teater di Lombok oleh pak SBY Presiden Indonesia ke 6, sebuah teater jenaka yang saya mainkan bersama Pepy isteri saya dan dalam lakon itu kami memerlukan peran parodi sosok tinggi dan ganteng layaknya seperti mas AHY, maka Datoklah pilihan utama kami yang akan berperan nanti.
Walau agak mengejutkan dia tapi mungkin pantang baginya untuk menolak, dia juga merasa punya darah seni yang mengalir dalam tubuhnya, peranpun dibagi, latihan segera dimulai dan kamipun terbang ke Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Hotel Lombok Raya.
Waktu gladi bersih Datok bukan main lincah aktingnya dia mulai didandan seperti sosok AHY dengan sebuah ransel dan kacamata hitam yang buat dia lebih sanggam. Uh, mak, pekik kawan saya Mahmud yang juga ikut dalam pertunjukan itu bukan main dia kagum dengan akting Datok dan bagaimana Datok bercerita dia mulai merasakan atmosfir seorang bintang panggung dan bagaimana pula yang akan terjadi nanti malam ketika pementasan tiba.
Ketika satu persatu rombongan tetamu utama mulai masuk, ini menurut cerita kawan saya Mahmud, wajah Datok mulai berubah apalagi ketika mas AHY tiba, dia tahu dia akan memparodikan tokoh idolanya itu, nafasnya mulai terganggu, Datok ini memang ada riwayat penyakit asma, sibuk orang menyambut tamu sibuk pulak dia mengambil “inhaler” di dalam tas pinggangnya apalagi ketika pak SBY masuk ke tempat acara sekali lagi ia semprotkan inhaler itu ke mulutnya. Mahmud ternganga.
Kini tiba adegan Datok masuk yang berperan sebagai mas AHY, dia dipanggil oleh Raja Mak Yong yang diperankan Pepy isteri saya.
“Memang dia tak bercakap sesuai skenario waktu latihan”, cerita Mahmud mengulang kisah lucu waktu pementasan itu, Datok yang entah gugup entah sesak nafas walaupun kemunculannya memparodikan AHY pecah disambut riuh tawa penonton termasuk pak SBY dan mas AHY tapi kami yang lebih tahu jalan cerita itu sebenarnya lebih pecah lagi untung Pepy dengan cepat memotong cerita dan Datok melompat kembali ke belakang panggung.
Malam itu pementasan kami sukses pak SBY yang tak diskenariokan naik ke panggung dia spontan naik ke panggung, memberi petuah, memuji penampilan kami dan merasa terhibur dan kami lebih terhibur lagi awalnya hanya 2 malam di Lombok kami menambah 2 malam lagi karena ada transferan yang masuk dari pak SBY.
“Kalau bercakap dialah pelakon, kalau berlakon dia tak bercakap”, begitu usik Mahmud kawan saya itu ke Datok dan kami tertawa semua, Datok dengan “stay cool”, tertawa juga dengan rambut masih mengkilap pomade ditambah basah keringat, entah keringat dingin atau demam panggung kini lebih mirip seperti AHY nanti sudah tua.
Sejak itu “Kalau bercakap dialah pelakon, kalau pelakon dia tak bercakap”, jadi seperti bahan olok-olok bukan hanya kepada pemain teater seperti Datok tapi siapa yang berkesenian kalau tak fokus, penampilan jelek atau lupa, siaplah akan kena hujah sekampung.
“Tak adil juga hanya seniman yang dibegitukan, orang-orang atas tu lebih lagi, kalau bercakap dialah pelakon, macam orang paling suci dan paling bedelau tapi kalau dah jadi malah berubah jadi penyamun sifat tak ubah hantu belau”, sergah Mahmud ketika kami berpanas-panas berlindung dibawah pohon kemboja.
Kami sedang berada dipemakaman yang hening, Datok yang terus memilih lakonan hidupnya, tetap berkesenian, menjadi penjual bubur kacang hijau masakan Idar isterinya meskipun seorang ASN di kantor perpustakaan dia hoby memasak sambil terus membesarkan anak semata wayangnya, Radit, kini duduk di kelas 1 SMA dan kemarin terpilih menjadi anggota Paskibraka yang membuat ia bangga, kini Datok sedang kami antarkan bersama ke peristitahatan yang terakhirnya.
Penyakit asma yang mengingatkan pada pementasan kami di Lombok dulu itu juga yang menjadikan tirai panggung lakonannya tertutup dan berhenti. Itu semua sudah menjadi takdir dari sang Maha. Al fatihah.
Nong, kakaknya Datok yang baru tiba dari Jakarta, saya lihat menangis dan kemudian diam berbicara sambil bergumam, “Adek jahat, kakak datang mau buat kejutan ternyata ketika kakak datang malah adik yang pergi”, mereka memang hanya bertiga beradik, kakaknya di Jakarta, abangnya di Pulau Bangka dan dia sendiri tapi sebenarnya selama ini dia tidak sendiri, ada kami yang ramai dan selalu riuh dan masih saja terus berlakon di dunia fana ini sampai nanti, sampai panggung-panggung itu tertutup dan berhenti juga sepi.







