Natuna – Sejak terhenti sejak Maret 2025 lalu, kini Pemerintah kembali membuka kran ekspor ikan ke pasar internasional Hongkong.
Ya, wajah semringah tampak menyelimuti nelayan Sedanai, Natuna. Sejak Senin 15 September, ikan kerapu yang siap dipanenkan resmi di ekspor ke Hongkong.
Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya 7 ton ikan kerapu dengan kualitas baik itu di berangkatkan ke kota berjulukan Mutiara dari Timur tersebut.
Pelepasan ekspor langsung dilakukan Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, didampingi Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura.
Total ekspor kali ini mencapai 7 ton, terdiri dari 3,5 ton hasil budidaya masyarakat Pulau Sirai, Bintan, serta 3,5 ton kerapu hasil tangkapan dan budidaya masyarakat Sedanau, Natuna.
Selama tujuh bulan ekspor terhenti, nelayan Natuna harus menanggung kerugian besar. Harga jual kerapu di tingkat lokal anjlok, sementara biaya pakan dan perawatan budidaya tetap berjalan.
“Selama ekspor berhenti, kami seperti kehilangan harapan. Ikan sudah siap jual, tapi tidak ada pasar. Banyak teman-teman nelayan sampai berhutang untuk beli pakan,” ungkap Ahmad, salah satu pembudidaya kerapu di Sedanau.
Setiap bulan, potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp3 miliar hanya dari sektor kerapu. Bagi nelayan kecil, angka ini berarti hilangnya penghasilan harian untuk kebutuhan keluarga.
Kini, dengan kembali dibukanya ekspor ke Hongkong, nelayan Sedanau menyambutnya dengan rasa syukur dan optimisme.
Pasar Hongkong dikenal sebagai salah satu tujuan utama ikan kerapu hidup asal Indonesia, dengan permintaan yang terus meningkat.
“Ikan kerapu dari Kepri, termasuk Natuna, punya kualitas tinggi dan daya tahan yang kuat. Pasarnya stabil, sehingga ini bisa jadi sumber harapan ekonomi bagi masyarakat pesisir,”ungkap Ansar Ahmad.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah menyiapkan kawasan konservasi perikanan budidaya seluas 2,9 juta hektare untuk menjamin keberlanjutan usaha nelayan.
Bagi Natuna, kembalinya ekspor ini tidak hanya soal angka devisa. Lebih dari itu, terbukanya kran ekspor ini adalah kabar baik bagi ribuan nelayan dan pembudidaya di Sedanau dan sekitarnya yang sempat terpuruk.
“Ini bukan sekadar ekspor ikan, tapi juga ekspor harapan. Kami ingin Natuna tetap menjadi salah satu pusat perikanan unggulan Indonesia.” Kata Ansar.








