Oleh : MARDIAH, S.Sos
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Prov. Kepri
Pemerintah Indonesia telah mengumumkan bahwa akan ada fenomena El Nino yang mengancam wilayah Indonesia. Fenomena El Nino disinyalir akan tiba di Indonesia pada Agustus 2023 mendatang. Fenomena El Nino dapat berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan yang cukup luas di beberapa daerah.
Bukan tidak mungkin ancaman kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan yang akan terjadi dapat menjadi sebuah bencana. Oleh karenanya guna mengantisipasi timbulnya bencana tersebut, perlu dilakukan dilakukan analisa dan mencari referensi tentang kemungkinan dampak El Nino, serta merumuskan langkah-langkah mitigasi yang efektif.
El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak Tuhan. Awalnya terminologi ini digunakan oleh nelayan di Pantai Ekuador untuk menunjukkan adanya arus panas yang muncul saat natal hingga beberapa bulan berikutnya. Pada masa tersebut, jumlah ikan menurun akibat arus panas. Nelayan biasanya memanfaatkan masa itu untuk istirahat melaut dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Dari penjelasan di atas, maka El Nino bisa diartikan sebagai fenomena naiknya suhu permukaan laut Samudra Pasifik di atas normal. El Nino memberi dampak tidak hanya kepada Indonesia, namun juga ke kawasan Amerika Latin, seperti Peru.
Terjadinya El Nino disebabkan oleh meningkatnya suhu di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang akan membuat suhu udara dan kelembaban udara di atasnya akan meningkat. El Nino menyebabkan musim kemarau dan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Namun, di Amerika Latin, El Nino justru menyebabkan naiknya curah hujan di wilayah tersebut. Beberapa tahun terakhir, arus panas itu terjadi di bulan Mei.
Meskipun diprediksi El Nino di bulan Juni 2023 masih di tahap lemah, tetapi nantinya akan menguat setelah bulan Juni 2023, dengan demikian masyarakat perlu waspada sejak dini adanya potensi curah hujan di bawah normal pada September 2023. Hal itu dapat dilihat dari wilayah Indonesia yang semakin berwarna cokelat hingga cokelat kehitaman dari bulan ke bulan pada peta prakiraan curah hujan bulanan yang ditayangkan pihak BMKG., sehingga perlu diwaspadai akan terjadinya kekeringan dan ancaman kebakaran hutan atau karhutla.
Sebelumnya, Indonesia juga pernah mengalami fenomena El Nino pada tahun 2019.
yang memicu banyaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Timur, Riau, Jambi, sebagian Jawa, hingga Papua bagian selatan. Pada saat itu titik api/titik panas mencapai 4.421, dengan kerugian yang dicatat oleh Bank Dunia dari kasus kebakaran hutan di Indonesia, mencapai sekitar Rp 77 triliun.
Selain kebakaran hutan dan lahan, bahaya bencana yang mungkin akan terjadi adalah kekeringan yang berakibat pada minimnya ketersediaan air bersih, tidak terkecuali di Provinsi Kepulauan Riau. Saat itu Lembaga Swadaya Masyarakat Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) sempat mendesak Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuyk menetapkan bencana kekeringan di pulau Bintan Khususnya di Tanjungpinang,. karena sulitnya mendapatkan air bersih.
Hal-hal sebagaimana yang telah dipaparkan tersebut di atas, tentunya perlu menjadi pelajaran berharga bagi kita, untuk mengambil langkah-langkah mitigasi agar bencana yang mungkin akan terjadi sebagai akibat fenomena El-Nino tidak akan terulang kembali.
Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk gencar melakukan langkah antisipatif pada daerah dengan potensi kekeringan yang tinggi dan optimalisasi infrastruktur sumber daya air.
Solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan perkotaan yang berpenduduk padat seperti Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun, dapat diupayakan melalui kerjasama dengan Kabupaten yang memiliki potensi sumberdaya air yang baik seperti Kabupaten Lingga dan Anambas. Distribusi air dari kabupaten surplus air bersih ke kabupaten/kota yang deficit air bersih dapat dilakukan dengan menggunakan kapal tanker air tawar, ataupun dengan membangun saluran air dengan pipa bawah laut.
Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) sudah merencanakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap air bersih melalui pola kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lingga, dengan membangun saluran air dengan pipa bawah laut sepanjang 100 kilometer untuk menyuplai air dari Kabupaten Lingga ke Kota Batam, sebagai sebuah solusi jangka panjang.
Untuk solusi jangka pendek, upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan air bersih adalah dengan menambah pasokan air lewat teknologi modifikasi cuaca (TMC), interkoneksi beberapa waduk potensial yang telah ada, ataupun distribusi air bersih dari kabupaten surplus ke kabupaten/kota yang deficit air bersih dengan menggunakan kapal tanker air tawar.
Selain bahaya kekeringan, bahaya lain yang meungkin akan timbul sebagai akibat dari fenomena El-Nino adalah Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla). Kebakaran hutan adalah salah satu bencana alam yang dapat merugikan berbagai pihak seperti masyarakat yang bekerja sebagai petani hutan, pabrik yang menggunakan bahan kayu sebagai bahan utamanya dan tentunya juga akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya karhutla sebagai berikut: :
1. Mengawasi Titik Rawan Kebakaran Hutan
Titik-titik api di Indonesia sangatlah banyak, terutama di Provinsi Kalimantan dan Sulawesi. Maka dari itu harus ada pengawasan ekstra di titik rawan kebakaran tersebut. Kondisi yang disebut rawan ini biasanya ditandai dengan adanya penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti rumput yang mengering dan juga kayu. Untuk menganalisis bisa dengan menggunakan Indeks Kekeringan Keetch Bryam. Indeks Keetch Bryam adalah sebuah metode penilian bahaya kebakaran hutan yang dapat diandalkan untuk menilai tingkat kerawanan suatu daerah terhadap bahaya kebakaran.
2. Melakukan Patroli dan Pengawasan Lebih Ketat
Dengan melakukan patroli dan pengawasan lebih ketat di tempat yang memang rawan kebakaran, diharapkan nantinya dapat mengurangi kebakaran hutan yang terjadi. Kegiatan ini sebaiknya lebih sering dilakukan ketika musim kemarau panjang telah tiba.
3. Mendeteksi Kebakaran Hutan Sedini Mungkin
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan beberapa hal seperti berikut :
- mendirikan menara pengawas dengan jarak pandang jauh yang dilengkapi sarana deteksi seperti teropong dan juga sarana alat komunikasi
- mambangun pos jaga disekitar areal tanaman dan juga di kawasan perbatasan dengan penduduk maupun lahan usaha
- memanfaatkan sebagik mungkin dari informasi penerbangan, data satelit dan juga data cuaca pada area kawasan hutan
4. Mempersiapkan Peralatan Pemadaman Kebakaran Hutan
Peralatan penting untuk memadamkan api sebaiknya dipersiapkan sedini mungkin agar ketika kejadian sudah tidak perlu bingung untuk mencari peralatan memadamkankebakaran.
5. Membuat Tempat Penampungan Air
Dibeberapa titik yang memang rawan terjadi kebakaran hutan sebaiknya membuat tempat penampungan air atau embung. Dengan adanya embung ini diharapkan apabila sudah terjadi kebakaran hutan maka dapat meminimailir kebakaran yang terjadi dengan mengambil air dari embung tersebut.
6. Memasang Alarm Peringatan Bahaya Kebakaran
Dengan memasang alarm peringatan kebakaran ini diharapkan untuk memberitahukan kepada penduduk untuk segera memadamkan api sebelum api berkobar dan merambat. Maka dari itu peran teknologi saat ini sangat dibutuhkan ketika bencana alam terjadi.
7. Melakukan Penyuluhan
Melakukan penyuluhan kepada masyarakat dalam rangka pencegahan kebakaran hutan dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebakaran hutan. Penyuluhan ini juga bisa dengan melakukan praktik langsung di lapangan untuk menangani bila terjadi kebakaran.
8. Tidak Sembarangan Membakar
Dengan melakukan peringatan dini kepada masyarakat sekitar untuk tidak sembarangan membakar sesuatu yang dapat menyebabkan api merambat kemana-mana serta tidak melakukan pembakaran di dekat tempat yang memang rawan terjadi kebakaran.
9. Memastikan Bahwa Api Benar-benar Mati
Memastikan api telah mati setelah membakar sesuatu adalah hal yang perlu diperhatikan betul, karena sebagian besar kebakaran hutan terjadi karena ulah manusia yang lalai untuk tidak memastikan bahwa api tersebut benar-benar sudah mati.
10. Selalu Siap Siaga
Siap siaga untuk segera memberi tahu warga atau instansi yang terlibat apabila kebakaran hutan telah terjadi. Dan juga selalu melakukan komunikasi dengan pihak yang melakukan patroli. Apabila terdapat sumber titik api segeralah lapor agar ditangani lebih lanjut.
11. Memeriksa Peraturan Setempat Tentang Perijinan dan Pembatasan Larangan Pembakaran
Peraturan disini biasanya disusun oleh departemen kehutanan dan sumber daya alam. Dalam peraturan tersebut mencakup peraturan tentang jarak pembakaran rumput atau bahan bahan yang bisa terbakar, peraturan kegiatan kemah dan juga perijinan untuk menyalakan api unggu serta peraturan bagi pekerjaan yang dilakukan di wilayah hutan. Dengan memeriksa surat tersebut, nantinya dapat meminimalisir terjadinya kebakaran hutan.
12. Menetapkan Minimal Jarak Pembakaran
Dengan menetapkan batas minimal jarak pembakaran terhadap benda-benda yang mudah terbakar nantinya diharapkan dapat mengurangi resiko kebakaran. Jarak minimalnya adalah sekitar 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan.
13. Melakukan Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran
Dengan melakukan pemetaan di daerah yang rawan kebakaran diharapkan agar masyarakat lebih fokus dan mengetahui titik mana yang sering terjadi kebakaran tersebut.
14. Menyediakan Sistem Informasi Kebakaran Hutan
Informasi yang dibutuhkan adalah dengan cara menganalisis kondisi ekologis, sosial dan ekonomi suatu wilayah dan juga pengolahan data hasil pengintaian petugas.
Demikianlah beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan dalam menghadapi fenomena El-Nino. Semoga dengan upaya mitigasi yang efektif, risiko terjadinya bencana kekeringan dan karhutla akan dapat ditekan seminimal mungkin.***






