Asa Pekerja Diantara Bunga Api Pelat Baja Galangan Kapal dan Gas 50 Kg Pertamina

banner 120x600
Pekerja Samudra Shipyard saat melakukan pemotongan plat baja. (f-martua)

Industri galangan kapal atau shipyard dan fabrikasi migas di Batam menyerap sekitar 200 ribu tenaga kerja Batam. Jumlah itu sama dengan sekitar 65 persen jumlah pekerja galangan kapal di Indonesia. Mereka bekerja di 135 perusahan shipyard dan  35 perusahan beroperasi dengan dukungan LPG 50 kg dari Pertamina.

Laporan, Martua P Butarbutar, Batam

Antrean panjang kendaraan mengarah ke Batuaji dan Sagulung. Mendekati Simpang Basecamp, Batuaji, terjadi antrean panjang di bundaran Simpang Basecamp, Batuaji. Sebagian dari mereka menuju Dapur 12, Kecamatan Sagulung, dan sebagian lainnya mengarah ke Kecamatan Sekupang.

Pengendara itu mayoritas menggunakan wearpack safety, sebagaimana biasa digunakan pekerja galangan kapal di Batam. Ada yang berwarna biru, merah, oranye, putih dan lainnya. Biasanya warna seragam setiap karyawan dalam satu perusahaan sama. Setiap seragam bertuliskan nama perusahaan tempat bekerja.

Di antara ribuan pengendara itu, Jumat (8/10/2026), ada Andre (31). Ia salah satu dari ratusan ribu pekerja di industri galangan kapal di Batam. Ia pekerja dengan posisi sebagai fitter, di PT Karya Adi, yang merupakan subcon PT Samudra Shipyard, Sekupang, Batam.

Samudra Shipyard merupakan satu dari ratusan perusahaan galangan kapal di Batam. Dimana, data Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) Batam menyebutkan, asa 135 industri galangan kapal.

Data itu sesuai dengan dikeluarkan Badan Pengusahaan (BP) Batam tahun 2024. Andre merupakan, satu dari sekitar 200 ribu pekerja di industri shipyard. Perusahaan tempat Andre bekerja juga, merupakan satu dari 35 industri galangan kapal, yang kini menggunakan LPG 50 kg, untuk kegiatan perusahaannya.

Dengan kecepatan motor rata-rata 50 sampai 60 Km/jam, ia berangkat dari kediamannya sekitar pukul 06.00 WIB. Mayoritas pekerja industri galangan kapal di Batam mulai masuk kerja pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Kondisi itu membuat jalanan Batam, terutama ke daerah industri, sangat padat pada jam 05.30 sampai pukul 07.00 WIB.

“Sebagian besar pekerja galangan kapal ada di Tanjung Uncang. Sebagian lainnya baru di Kecamatan Sekupang dan Kabil (Kecamatan Nongsa),” kata Andre saat disinggung terkait padatnya jalur jalan ke arah Batuaji dan Sagulung.

Andre sendiri, merupakan pekerja yang baru dua minggu, bekerja di industri galangan kapal (shipyard) di Kecamatan Sekupang itu. Samudra Shipyard mulai beroperasi tahun 2008, di atas lahan seluas 57 ribu meter persegi (m²).

Saat berangkat kerja, ia membawa ransel berwarna hitam. Sementara di gantungan bagasi motor, ada sarapan yang dibungkus plastik.

Pagi itu, ia tidak sarapan di rumah. Ia memilih membeli sarapan, yang banyak dijajakan di pinggir jalan. Sementara istrinya memilih menyiapkan makan siang yang dimasukkan ke dalam tas kerjanya.

Sesampainya di pintu gerbang perusahaan tempatnya bekerja, ia melapor ke tenaga keamanan atau sekurity. Kemudian, mengisi absen sebelum memasuki area galangan kapal yang memiliki luas lahan 5,7 hektare itu.

Di perusahaan ini, sistemnya hampir sama dengan perusahaan galangan kapal lainnya. Karyawan harus masuk dengan kartu (pass) khusus untuk bisa mengakses pintu masuk. Demikian untuk tamu dari luar.

Kebijakan itu diambil perusahaan demi keamanan dan kenyamanan perusahaan. Dimana, di lokasi konstruksi, banyak logam yang bisa mengancam keamanan pengunjung atau karyawan.

Setiap orang yang datang, baik pengunjung maupun karyawan, harus memiliki perlengkapan safety. Untuk pengunjung, diwajibkan memiliki safety.

“Di lokasi proyek, banyak bahan konstruksi dan banyak peralatan kontruksi. Jadi tidak bisa bebas masuk dan harus bebas dari pemulung,” jelas Andre, sambil berjalan kaki sekitar 20 meter, menuju lokasi kerjanya, dan mendengar intruksi petugas keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan.

Dilokasi proyek, ia berkoordinasi dengan rekan-rekannya, yang ditugaskan untuk menjadi satu tim. Kemudian, menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti kedok/helm las. Alat itu digunakan untuk melindungi mata dari radiasi sinar busur dan melindungi dari percikan api.

Sementara untuk apron atau jaket dan sepatu safety, ia sudah menggunakannya dari rumah. “Kalau tidak pakai sarung tangan las, tangan kita akan rusak. Kulit tangan kita akan banyak terkelupas karena terbakar dan berwarna putih kemerahan,” bebernya.

Mereka kemudian memeriksa peralatan teknis, yang akan digunakan. Seperti tabung oksigen atau oxy-LPG cutting berwarna hitam. Kemudian ada tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) 50 Kg berwarna oranye. Tabung ini memiliki tinggi sekitar 130 cm dengan diameter 36 cm.

“Kita harus pastikan, tidak ada kebocoran,” jelas Andre.

Dibodi tabung LPG itu, terlihat tulisan Elpiji, Pertamina, berat 50 kg, dan Pertamina Call Center 135. “Kalau harga gas LPG 50 kg sekitar Rp1,2 juta. Tapi itu diatur bagian logistik. Kami hanya memakai,” jelasnya.

LPG 50 kg digunakan sesuai dengan industri, karena memiliki tekanan gas 7 sampai 8 bar. Tekanan bisa dinaikkan saat digunakan untuk lempengan baja, hingga 24 bar.

Setelah perlengkapan dan peralatan siap, katup LPG dan oksigen pada blender potong dibuka, hingga muncul api. Kemudian kegiatan pemotongan pelat baja dimulai.

Dengan cermat, ia memotong plat yang dipenuhi bunga api hasil pertemuan gas, oksigen dan baja. Melalui mata yang dilindungi kedok las, ia mengamati interaksi peralatan itu.

Mereka menjaga nilai penting untuk kelanjutan kehidupan keluarga  dan industri Batam. Diantara bunga api yang tercipta dari pertemuan LPG, oksigen dan plat baja itu, mereka menyimpan asa atau harapan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Setiap bunga api keluar, harapan soal gaji kita, sudah disitu. Mata harus fokus untuk mata pencaharian,” teriaknya kearah rekan-rekannya.

LPG digunakan untuk memanaskan pelat baja, dicampur oksigen, sehingga membara. LPG 50 kg memiliki tekanan tinggi dibanding LPG 5 dan 10 kg. LPG 50 kg masuk kategori gas cutting atau pemotong. LPG tercampur dengan oksigen di dalam blender potong atau cutting torch. Suhu yang dihasilkan LPG dan oksigen, sekitar 800 derajat celcus.

Saat pemotongan pelat baja berlangsung, percikan bunga api muncul. Pada setiap intruksi buka tabung LPG dan oksigen itu, ada harapan atas kelanjutan pendapatan dari industri galangan kapal.

Setiap hari, ia dan rekannya menyusuri jalan diantara potongan-potongan pelat baja, dengan harapan, setiap akhir bulan dapat menerima gaji dalam memenuhi kebutuhan istri dan anaknya dirumah. Terkait besaran gaji, ia hanya menyebut, sesuai upah minimum kota (UMK). Sesuai ketentuan pemerintah, Rp5.357.982 per bulan.

“Upah sesuai UMK lah. Tapi kalau ada lembur, ada tambahan diluar UMK. Setidaknya, sudah mencukupi dapur,” ceritanya.

Namun ditegaskan, keselamatan paling utama yang dijaga. Mereka memperhatikan intruksi karyawan K3. “Kita harus jaga jarak antara blender potong dengan pelat baja. Baru kita gerakkan perlahan di atas pelat, biar hasil potongan bagus,” jelasnya.

Andre bekerja, bersama tujuh orang rekannya, dalam satu tim. Setiap tim diisi orang dengan kemampuan dan kualifikasi berbeda.

“Jadi tiap tim kolaborasi beberapa bidang teknis. Bidang fitter, ditim kami ada dua orang. Karyawan dibagi beberapa tim, untuk mempercepat pekerjaan,” bebernya.

Tim ini ditugaskan untuk memotong, memperbaiki, hingga memasang struktur baja. Mereka bekerja sesuai dengan gambar desain atau blueprint.

Khusus seorang karyawan bidang fitter, harus bisa membaca atau menganalisa gambar konstruksi. Kemudian, fitter harus punya keterampilan, melakukan pemotongan pelat baja, sesuai gambar.

Mereka dibantu helper yang masuk dalam tim ini. Selain itu, ada tenaga teknis bidang welder untuk melakukan pengelasan pelat baja yang dipotong.

Sebelum memulai pemotongan pelat baja, ada rekannya bernama Edi. Edi juga merupakan fitter, yang membantu mereka menyesuaikan gambar dengan pelat yang dipotong Andre. Andre terlihat mengikuti arahan sesuai dengan gambar yang dipegang  Edi.

Ikut membantu, Johan yang bertugas mengatur tekanan regulator LPG dan oksigen (O₂). Tekanan LPG dan oksigen disesuaikan dengan ketebalan pelat baja yang akan dipotong.

Pemotongan pelat baja dilakukan dengan kombinasi LPG dan gas oksigen (O₂). “Proses ini disebut cutting torch atau blender las,” terang Andre.

LPG diatur agar memiliki tekanan lebih rendah dibanding oksigen. Setelah api berwarna biru menyala dan stabil, baru pemotongan pelat baja mulai dilakukan.

Mereka mengatur tekanan gas LPG sekitar 0,5 kg per cm² atau 0,5 bar. Untuk tekanan oksigen, sekitar 3 kg per cm² atau sekitar 3 bar. “Kita atur tekanan gas oksigen dan LPG di regulatornya sesuai ketebalan pelat baja,” urainya.

“Kami menyiapkan material untuk dipotong dan dipasang nanti jadi bodi tongkang. Kami memotong menggunakan LPG yang 50 kg dengan oksigen (O₂). Nanti yang memasang, tugasnya welder. Tapi fitter tetap mendampingi. Karena kami yang punya tugas, untuk menganalisa gambar. Jadi dipasang sesuai gambar,” urainya.

Ditengah pengerjaan yang berjalan, Andre mengungkapkan jika untuk industri galangan kapal atau shipyard, hampir semua posisi fitter tidak diklasifikasikan. Sementara pada perusahaan yang lebih besar, fitter diklasifikasikan ke beberapa bidang, mulai pipe fitter, mechanical fitter, fabrikasi hingga fitter struktur.

“Kalau di kami, disatukan saja fitter. Kalau di Dermott (McDermott Indonesia, perusahaan pembangun fabrikasi lepas pantai atau offshore di Batuampar, Batam) ada klasifikasi fitter,” cerita Andre.

Andre mengaku, selain membangun kapal, juga ditugaskan untuk memperbaiki kapal tongkang, kapal tunda, kapal kargo, kapal penumpang, hingga kapal tanker minyak.

Namun saat ini, proyek yang mereka kerjakan adalah membuat tongkang dari pelat baja. Mereka juga ada proyek membangun kapal penumpang aluminium. Kapal penumpang itu biasanya diproduksi untuk digunakan operator kapal, tujuan Batam ke Singapura, Malaysia, Dumai, Kuala Tungkal dan Palembang.

“Untuk tongkang, biasanya dikirim ke Kalimantan. Biasanya dipakai mengangkut batu bara. Ada juga pengerjaan perbaikan kapal, di tiga dok slipway dengan kapasitas hingga 2.000 ton. Jadi bisa mengerjakan lebih dari satu pesanan,” ujarnya.

Dalam proses pengerjaan pembangunan kapal-kapal itu, dibutuhkan LPG 50 kg. Setiap tabung LPG, dilengkapi regulator, untuk mengontrol tekanan, sehingga, aliran gas menjadi stabil.

Selang ganda tersambung ke tabung LPG dan tabung oksigen, kemudian disambungkan ke blender potong. Gas dari LPG dan oksigen dipertemukan dengan regulator di ujung selang untuk memanaskan dan memotong baja.

“Dengan kombinasi LPG dan oksigen, katanya lebih murah. Harganya sekitar Rp1,2 juta. Lebih dari itu, untuk kami tim lapangan, manfaat pentingnya, hasil pakai LPG ini, minim terak atau kotoran sisa pembakaran,” ungkapnya.

Andre mengungkapkan, saat ini LPG merupakan kebutuhan penting industri shipyard. Sementara asal LPG, diakui selain dari Pertamina, ada juga LPG dari negara tetangga, Singapura.

Pekerja perusahaan Wasco saat memperhatikan modul lepas pantai yang dibangun.(f-istimewa)

– Nyaman dengan LPG Pertamina

Tapi belakangan ini, LPG 50 Kg dari Pertamina Patra Niaga sudah mulai populer di industri galangan kapal. Termaksud perusahan tempatnya bekerja, yang sudah menjadi pelanggan Pertamina untuk kebutuhan LPG.

Ia mengaku sudah nyaman menggunakan LPG 50 kg dari Pertamina. Selain hasilnya bersih, harga lebih murah, juga kuat hasil pengerjaan plat baja. LPG ini dinilai akan bertahan lama dalam industri shipyard.

“Kalau orang lapangan seperti kami sudah nyaman dengan LPG, lebih hemat dan murah. Kota pakai memanaskan struktural pelat baja (pre-heating/post-heating) juga. Sehingga lebih mudah dibengkokkan dan tidak retak,” ungkapnya.

LPG 50 Kg juga digunakan untuk pembuatan kapal aluminium dan menyambung pipa-pipa tembaga di dalam kapal. Bahkan ada yang didistribusikan ke kapal yang akan beroperasi di laut.

“Ada juga yang dipasok untuk digunakan anak buah kapal (ABK) dalam memasak. Kalau untuk kebutuhan ABK, itu sudah urusan pemilik kapal,” bebernya.

Sementara untuk memotong pelat baja, ada beberapa metode yang bisa digunakan. Namun baru 35  industri galangan kapal atau pelanggan Pertamina dari industrui galangan kapal dan modul lepas pantai menggunakan kombinasi LPG dengan oksigen.

“Memotong dan membengkokkan pelat baja dengan menggunakan LPG dan oksigen atau gunting hidrolik paling murah. Lebih murah dari pengadaan alat, pemeliharaan, hingga operasional,” ungkapnya.

Mereka menggunakan LPG 50 kg ini, karena lebih murah dibanding  memggunakan air bertekanan tinggi atau waterjet cutting. Sistem waterjet cutting butuh biaya beli pompa tekanan tinggi, yang dikenal mahal. Kemudian, untuk operasional butuh biaya membeli pasir abrasif, dan komponen nozzle, yang juga mahal.

Penggunaan LPG juga lebih murah dari pada menggunakan sinar laser atau fiber laser cutting. Metode terakhir ini membutuhkan peralatan mesin laser yang mahal dengan perawatan dan kebutuhan listrik berbiaya tinggi.

Sememtara dengan LPG 50 kg milik Pertamina memiliki CO₂ yang lebih baik. Sehingga bisa bermanfaat sebagai gas pelindung untuk pelat baja. Mampu melindungi logam dari kontaminasi udara luar.

“Karena hasil pemotongan pelat baja mempengaruhi kualitas daya tahan hasil yang diproduksi. Termasuk pemotongan dan kualitas bengkokan pelat baja yang dihasilkan LPG 50 kg,” ungkap Andre..

Kemudian, memotong pelat baja menggunakan LPG 50 kg hasilnya lebih bersih dan halus. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk grinding membersihkan bekas pemotongan.

Tidak hanya untuk membuat kapal baru. LPG 50 Kg digunakan untuk perbaikan kapal. LPG digunakan, untuk melelehkan atau memotong bagian konstruksi lama yang rusak untuk diganti dengan yang baru.

“Pakai LPG 50 Kg dari Pertamina ini hasilnya lebih baik dan lebih hemat. Pelat baja lebih cepat panas pakai LPG,” tukas Andre.

Ditanya jumlah LPG yang dibutuhkan, untuk timnya diakui satu tabung bisa untuk dua sampai empat hari. “Tergantung pengerjaan material. Namun untuk repair, rata-rata satu tabung untuk empat hari,” urainya.

Andre sempat menanggap kebutuhan industri lain terhadap LPG 50 Kg dari Pertamina, yang akam semakin tinggi. Ia optimis, industri shipyard yang belum menggunakan LPG milik Pertamina, akan menggukannya.

Ia sempat menyinggung pengalaman sebelumnya. Sebelum diproyek PT Samudra, ia bekerja di subcon yang mengerjakan proyek di PT Wasco Batam. PT Wasco mengerjakan modul lepas pantai (offshore modules), FPSO topsides, peralatan proses, dan fabrikasi struktur industri energi.

Pada setiap proyeknya, perusahaan ini juga membutuhkan LPG 50 Kg dari Pertamina. Perusahaan PT Wasco beroperasi di Tanjung Uncang, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Di kawasan Tanjung Uncang, saat ini terdapat puluhan industri shipyard yang beroperasi dan membutuhkan LPG 50 kg.

Andre sendiri bekerja di perusahaan subkon PT Wasco hingga Juli 2026. “Diaitu, kami mengerjakan material pendukung modul lepas pantai. Kami memotong pipa-pipa besar,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, diungkap penerimaan industti terhadap LPG 50 kg. Baik galangan kapal dan modul lepas pantai, LPG dibutuhkan untuk menguji fungsionalitas. LPG juga dibutuhkan untuk menguji sistem pemanas internal kapal, dapur (galley), boiler, atau fasilitas akomodasi kru di atas kapal sebelum diluncurkan.

“Kita yang sudah lama di industri galangan kapal, keberadaan LPG ini penting. Dan LPG Pertamina lebih unggul dibanding LPG dari negara lain,,” kata dia.

Ditegaskan, mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam proses memenuhi kebutuhan hidup, penting untuk menjaga keselamatan. Standar keamanan tabung gas LPG 50 kg dari Pertamina diakui sudah memberikan ketenangan bagi mereka.

“Kami selalu hati-hati dalam bekerja. Apalagi di industri galangan kapal ini. Tapi dengan LPG 50 kg Pertamina ini, kami lebih tenang,” bebernya mengakhiri.

Rekannya bernama Edi menambahkan, LPG 50 kg menjadi kebutuhan penting dan utama industri shipyard Batam. Industri galangan kapal juga mudah mendapatkannya karena disediakan agen-agen LPG industri di Batam.

Selain LPG industri, diakui galangan kapal di Batam juga banyak yang menggunakan asetilen yang dikombinasikan dengan oksigen. Namun, seiring perkembangan waktu, secara perlahan puluhan industri beralih ke LPG 50 kg.

“Selain ada selisih harga antara LPG luar negeri dengan LPG Pertamina sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, ketersediaan LPG Pertamina juga lebih mudah, termasuk dibanding dengan asetilen,” bebernya.

Karyawan Wasco membelakangi LPG 50 kg Pertamina. (f-istimewa)

– Distribusi Lancar

Masih terkait LPG 50 kg dari Pertamina Patra Niaga, ditempat berbeda, transporter agen dari PT Nasional Gas Industri, C Samosir (54), membenarkan Andre dan Edi membenarkan.

Saat ditemui di kantornya di Batam Center, ia mengakui adanya pertumbuhan kebutuhan LPG 50 kg di galangan kapal. Mereka membantu mendistribusikan LPG ke perusahaan galangan kapal per dua atau tiga hari.

Mereka juga melayani perusahaan yang membangun fabrikasi struktur baja dan migas lepas pantai, seperti McDermott Indonesia dan PT Wasco.

Saat dikunjungi, ia memperlihatkan mobil truk yang biasa digunakan. Mobil truk dari perusahaan transporter mengangkut LPG 50 kg dilengkapi pengaman hidrolik. Setiap tabung diangkut dari gudang agen LPG 50 kg menggunakan troli.

Pria yang sudah lebih dari 10 tahun mengangkut gas industri itu menjelaskan, LPG didatangkan dari Pertamina Patra Niaga fuel terminal Batam di Kabil. Tidak hanya LPG 50 kg, mereka juga membawa oksigen dengan tabung warna hitam.

“Kita biasanya mendistribusikan untuk industri. Satu galangan kapal, kita antar per dua hari atau tiga hari. Satu kali antar, lima tabung. Termasuk untuk PT Samudra dan Wasco. Kalau Dermott, kita tidak antar, karena mereka tidak pakai LPG 50 kg,” cerita Samosir.

Mereka juga mengantar LPG 50 kg untuk kebutuhan kapal yang singgah atau naik dock. LPG digunakan untuk memasak didalam kapal “Dipakai mereka untuk kebutuhan memasak makanan di kapal,” jelasnya.

Selama ini diakui sambutan terhadap LPG 50 kg Pertamina cukup positif. Alasannya, mudah didapat industri galangan kapal.

Secara kualitas, LPG memiliki emisi karbon yang lebih rendah, sehingga membantu industri shipyard memenuhi regulasi lingkungan kerja yang lebih bersih. LPG lebih murah dibanding gas lainnya yang biasa digunakan industri galangan kapal.

“Jauh lebih murah dibandingkan dengan gas asetilen, yang juga digunakan industri ini untuk memotong. Kemudian lebih murah dibanding dengan gas nitrogen (N₂). Kebetulan, kami juga bantu distribusi nitrogen,” imbuhnya mengakhiri.

Informasi dari Pertamina Patra Niaga, LPG 50 kg Pertamina untuk industri shipyard Batam didistribusikan oleh beberapa agen, di antaranya PT Batam Indah Gemilang, PT Artaagas Primandiri, PT Unigas Energi Batam, dan lainnya. Sehingga memudahkan Pertamina menjangkau pelanggan industri.

Agen-agen ini juga, bekerja sama dengan Pertamina memasarkan LPG 50 kg ke industri. Agen LPG juga yang mendistribusikan sesuai dengan permintaan galangan kapal di Batam. “Jadi bukan perusahaan yang menjemput gas ke agen, tapi agen yang mengantar ke kita,” terangnya.

Sales Area Manager Retail Kepri Pertamina Patra Niaga, Bagus Handoko dan rekannya Hanif Pradipta saat bincang dengan jurnalis. f-martua

– Harga Bersaing dan Tidak Berkerak

Pertamina menghadirkan LPG 50 kg, tidak sekadar memperkuat pasar di industri. Namun mendukung kelancaran proyek industri dengan harga yang lebih terjangkau. Sebelum LPG 50 kg dari Pertamina mulai dikenal industri galangan kapal Batam, LPG impor sempat mendominasi.

Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Batam, Hanif Pradipta Nur Shalih membenarkan, peran agen atau distributor hingga transporter LPG 50 kg. Saat ini, konsumsi LPG 50 kg di Batam pada tahun 2025, ia menyebut sekitar 6.703,15 MT. Sementara untuk tahun ini, total volume penggunaan LPG 50 kg di Batam, mulai Januari sampai Juni 2026, sekitar 3.075,9 MT.

“Mudah-mudahan pada tahun ini, penggunaan LPG 50 kg dari industri meningkat. Industri galangan kapal di Batam juga terlihat stabil. Banyak order proyek juga,” harapnya.

Kerja sama yang dibangun Pertamina Patra Niaga dengan mitra pihak ketiga mempercepat LPG 50 kg sampai ke dan diterima pelanggan industri.

“Distributor yang bekerja sama dengan kita sudah paham jalur masuk shipyard. Produk kita bagus, lebih murah dan tidak menimbulkan kerak (slag sisa oksidasi). Ini penting,” jelas Hanif.

Pertamina Patra Niaga sendiri membantu pengisian tabung LPG 50 kg di fasilitas pengisian resmi. Sebelum dan sesudah pengisian tabung, dilakukan pemeriksaan keamanan juga.

Kemudian, Pertamina mengirim tabung-tabung berisi LPG seberat 50 kg ke agen atau distributor resmi menggunakan kendaraan sesuai standar keselamatan. Selanjutnya, distributor menyalurkan ke pelanggan industri dan komersial sesuai pesanan.

Hanif optimistis pelanggan LPG 50 kg dari industri shipyard akan terus bertambah. Terlebih, LPG milik Pertamina dengan kapasitas besar cocok untuk kebutuhan usaha dengan konsumsi gas tinggi.

LPG 50 kg Pertamina lebih efisien karena frekuensi penggantian tabung lebih sedikit. Selanjutnya, dari sisi biaya operasional, LPG ini dinilai lebih ekonomis untuk penggunaan dalam jumlah besar.

“Karena ini dari Pertamina, stok kita selalu tersedia. Pasokan stabil, ideal untuk operasional komersial dan industri,” urainya.

Ditanya terkait harga, diakui untuk kota Batam harganya cukup murah dibanding LPG sejenis dari negara lain. “Tabung 50 Kg dan refill sekitar Rp1.100.000 dari Pertamina,” bebernya.

Saat ini jumlah pelanggan LPG 50 kg di Batam sudah mencapai 60 pelanggan, termasuk industri, restoran, dan hotel. “Di dalamnya, 35 customer industri. Sisanya, 25 customer dari hotel dan restoran,” bebernya.

Untuk penggunaan atau konsumsi LPG 50 kg, diakui tidak stabil, karena ditentukan oleh tahap pengerjaan dan proyek yang dikerjakan industri galangan kapal di Batam.

Jika industri galangan kapal pelanggan Pertamina berada dalam proses awal, seperti memotong pelat baja, kebutuhan lebih tinggi. Namun jika proses sudah menggabungkan pelat-pelat baja atau membentuk kapal, maka kebutuhan LPG berkurang.

“Kalau dirata-ratakan, konsumsi LPG per pelanggan sekitar 5 sampai 8 tabung per bulan. Itu kalau rata-rata. Tapi kalau di awal proyek, bisa per dua hari sudah ada permintaan,” terangnya.

Untuk keamanan penggunaan LPG 50 kg, kata Hanif, ada pengamanan berlapis (double safety). Tabung dan katup (valve) berstandar serta telah melalui pemeriksaan kelayakan. Kemudian, segel pengaman dipasang setelah pengisian untuk memastikan tabung belum pernah dibuka.

“Regulator dan selang berstandar dipasang dengan benar, kemudian dilakukan uji kebocoran sebelum digunakan,” jelasnya.

Hanif menegaskan kembali bahwa LPG 50 Kg Pertamina menawarkan kapasitas besar, pasokan energi yang stabil, dan efisiensi operasional, sehingga ideal untuk kebutuhan industri seperti shipyard.

Dengan kualitas yang terjamin, distribusi yang andal, serta mendukung operasional berkelanjutan, LPG 50 Kg membantu meningkatkan produktivitas dan kelancaran proses kerja.

“Industri kami ajak untuk menggunakan LPG 50 kg Pertamina untuk kebutuhan industri Anda. Energi berkualitas, aman, andal, dan mendukung kelancaran operasional bisnis,” imbaunya.

Industri yang ingin berlangganan LPG 50 Kg Pertamina dapat menghubungi agen resmi atau sales Pertamina terdekat. Tim akan membantu proses pendaftaran, survei kebutuhan, serta penyiapan dokumen dan skema pasokan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

– Perkuat Daya Saing Industri Shipyard

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, saat mengunjungi Wasco Engineering dan bertemu dengan Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA) menyampaikan tantangan yang dihadapi pengusaha. Terutama terkait perijinan dan gas.

“Kendala yang mereka hadapi rata-rata terkait perizinan dan kenaikan tarif gas dan listrik. Kita akan menyelesaikan kendala yang dirasakan para investor,” kata Fary.

Merespon itu, Wali Kota Batam yang juga Kepala BP Batam, Amsakar Achmad mendorong perhatian dan dukungan Pertamina. Pertamina diharapkan dapat mendukung, memperkuat daya saing industri shipyard dalam negeri, terutama Batam.

Ia meminta dukungan Pertamina terhadap kebutuhan industri Batam. Diharapkan Pertamina semakin banyak melahirkan inovasi pelayanan dan produk, dalam mendukung serta membantu masyarakat hingga industri Batam.

“Mudah-mudahan tidak hanya meningkatkan efisiensi distribusi energi. Tetapi memperkuat ketahanan energi daerah sehingga memperkuat daya saing Batam,” harap Amsakar.

Hal itu didukung Wakil Wali Kota Batam, yang juga Kepala BP Batam, Li Claudia. Ia mengharapkan, BUMN dapat mendukung, menekan potensi gangguan iklim usaha di Batam. Stabilitas harga dan pasokan bahan bakar, merupakan faktor krusial dalam menjaga daya saing industri.

BP Batam akan memastikan, tidak terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali di lapangan. Menjaga ekosistem industri tetap sehat, dengan pasokan yang terjamin dan harga yang stabil.

“Kami akan menjaga agar dunia usaha berjalan baik. Mendukung keberlanjutan investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah,” tegasnya.

Sebagai dukungan dan penghargaan bagi industri shipyard, BP Batam memberikan perhatikan dan dukungan. Diberikan juga perhatian melalui penghargaan yang diberikan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Terakhir, penghargaan diterima pada tahun 2025, untuk investasi BP Batam, kategori penanam modal asing, dengan ekspor tertinggi, PT Austin Engineering Indonesia. PMA galangan kapal terbaik, PT Batam Abadi Shipyard. Perkapalan berbasis ekonomi biru, PT Buana Shipyard.***