LINGGA – Wakil Bupati Lingga, Novrizal, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi pemahaman sejarah dan budaya lokal di kalangan generasi muda, khususnya para peserta didik di Negeri Bunda Tanah Melayu.
Hal tersebut disampaikan Novrizal saat menghadiri kegiatan “Penguatan manajerial pembelajaran mendalam bagi kepala sekolah” yang digelar PGRI Kabupaten Lingga bersama KGTK Provinsi Kepulauan Riau di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Rabu (2/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Novrizal mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pantauan di lapangan, masih terdapat peserta didik yang belum mengenal tokoh-tokoh penting dalam sejarah Lingga, termasuk sosok Sultan Lingga yang telah dianugerahi gelar pahlawan nasional dan dimakamkan di Daik Lingga.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian bersama, mengingat Lingga merupakan daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Melayu.
“Ini menjadi keprihatinan kita. Kita hidup dan berpijak di Negeri Bunda Tanah Melayu, negeri yang memiliki sejarah besar, tetapi masih ada anak-anak kita yang belum mengenal tokoh dan warisan sejarah daerahnya sendiri,” ujar Novrizal.
Berangkat dari kondisi tersebut, Novrizal menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Lingga bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Lingga telah melakukan komunikasi dan bertukar pandangan terkait pentingnya merancang materi muatan lokal yang relevan untuk diterapkan dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, pembelajaran muatan lokal harus mampu menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, budaya, adat istiadat, serta nilai-nilai Melayu yang menjadi identitas daerah.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga. Bagaimana kita memastikan anak-anak kita tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga memahami jati dirinya sebagai generasi yang lahir di Negeri Bunda Tanah Melayu,” katanya.
Novrizal menegaskan, pendidikan memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya. Ia berharap sekolah dapat menjadi ruang untuk menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya lokal sejak dini.
“Kita tidak ingin generasi penerus mengalami krisis identitas. Mereka harus tahu dari mana mereka berasal, mengenal sejarah negerinya, dan bangga menjadi bagian dari Melayu Lingga,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelestarian kearifan lokal bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman, tetapi menjadi fondasi agar generasi muda tetap memiliki karakter dan pegangan di tengah perubahan global.
Melalui penguatan muatan lokal, Pemerintah Kabupaten Lingga berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah serta kecintaan terhadap warisan budaya daerah.
(Adhe Bakong)






