Tanjungpinang – Mantan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan sistem transportasi di Kota Tanjungpinang sebagai bagian dari upaya meningkatkan mobilitas dan kualitas layanan publik sebagai wajah Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau.
Bambang, yang merupakan lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1987, mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali pernah berkunjung ke Tanjungpinang dan Pulau Bintan, meskipun sudah cukup lama tidak melihat langsung perkembangan terkini di wilayah tersebut.
“Secara umum, tantangan kota-kota seperti Tanjungpinang adalah belum tersedianya angkutan umum yang mampu melayani kebutuhan masyarakat secara optimal,” ujar mantan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Ahad 28 Desember 2025.
Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, merupakan konsekuensi dari terbatasnya pilihan transportasi publik yang aman dan andal. Padahal, sistem transportasi yang baik harus memenuhi lima prinsip utama, yakni keselamatan, keamanan, keandalan, keterjangkauan, dan kenyamanan.
Doktor bidang perencanaan infrastruktur dari University of California, Berkeley ini menjelaskan bahwa karakter geografis Tanjungpinang yang terdiri dari wilayah daratan dan pulau justru memerlukan sistem transportasi yang terintegrasi antarmoda.
“Jalur utama dapat dilayani oleh bus, kemudian diperkuat dengan angkutan pengumpan seperti angkot atau minibus. Di sisi lain, konektivitas dengan transportasi laut harus dirancang agar perpindahan antarmoda berlangsung efisien dan nyaman,” jelasnya.
Terkait peran pemerintah daerah, Bambang menilai bahwa inisiatif dan keberanian dalam membangun sistem transportasi sangat diperlukan, tanpa harus selalu bergantung pada pemerintah pusat. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dinilainya dapat menjadi alternatif pembiayaan yang efektif.
“Transportasi tidak bisa hanya dilihat dari sisi keuntungan finansial jangka pendek. Ia merupakan investasi jangka panjang yang memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa konsep Bus Rapid Transit (BRT) merupakan pilihan yang realistis untuk diterapkan di Tanjungpinang. Sistem ini telah banyak digunakan di berbagai kota dunia dengan hasil yang positif.
“Penerapan BRT perlu didukung teknologi cerdas atau intelligent transport system seperti pelacakan posisi kendaraan secara real time, sistem pembayaran non-tunai, serta integrasi tiket antar moda darat dan laut,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan transportasi. Menurutnya, partisipasi publik akan memperkuat rasa memiliki serta meminimalkan potensi resistensi sosial.
“Ketika masyarakat dilibatkan sejak awal dan memahami tujuan kebijakan, proses penataan transportasi akan berjalan lebih baik dan berkelanjutan,” pungkas Bambang Susantono.







