Ketika Warisan Budaya Tersisih oleh Pesona Alam
Oleh_Adhe Bakong
Jurnalis Muda, Pemerhati Budaya.
Lingga, Bunda Tanah Melayu, pernah gemilang dengan aksara Arab Melayu yang menulis sejarah, ilmu, dan adat istiadat. Di setiap hurufnya tersimpan hikmah nenek moyang, pedoman moral, dan nadi identitas yang menjadikan masyarakatnya unik. Dahulu, sekolah-sekolah mengajarkan aksara itu dengan bangga, generasi muda belajar membaca dan menulisnya, dan Arab Melayu menjadi jendela masa lalu yang hidup di masa kini.
Kini, semua itu kian lenyap. Gunung Daik Bercabang Tiga lebih terkenal daripada Arab Melayu, keindahan alam menjadi magnet perhatian masyarakat dan wisatawan, sementara warisan budaya yang membentuk jati diri perlahan tersingkir. Lingga tampak tak mampu memagari kearifan lokal dari gempuran pengaruh luar. Arus modernisasi datang tanpa kompromi, dan generasi muda semakin jarang menyentuh huruf-huruf yang dulu menuntun jiwa mereka.
Fenomena ini mengungkapkan krisis identitas yang menyakitkan. Bangsa ini dapat mengagumi puncak gunung, memotret lanskap, dan menulis cerita tentang alam, tetapi ketika dihadapkan pada manuskrip Arab Melayu, ia tersisih. Alam dipuja, tetapi budaya dilupakan; pandangan mata tertuju pada indahnya pemandangan, sementara akar sejarah tergerus oleh ketidakpedulian.
Kehilangan Arab Melayu bukan sekadar hilangnya aksara atau kata; ia adalah hilangnya jati diri, moral, dan kearifan lokal yang telah diwariskan berabad-abad. UNESCO memperingatkan bahwa lebih dari 40% bahasa di dunia terancam punah, dan setiap bahasa yang hilang berarti hilangnya cerita, filosofi, dan pengetahuan yang tak tergantikan. Lingga kini berdiri di persimpangan: apakah akan membiarkan Arab Melayu lenyap, atau mengangkatnya kembali sebagai nadi budaya yang meneguhkan identitas Melayu?
Pelestarian Arab Melayu adalah tanggung jawab moral dan sosial. Pendidikan, workshop, dokumentasi, dan digitalisasi bukan sekadar kegiatan formal; mereka adalah benteng terakhir yang mampu menahan derasnya arus globalisasi dan ketertarikan masyarakat pada pesona alam semata. Generasi muda perlu kembali menemukan aksara ini sebagai bagian dari jiwanya, meresapi hikmah masa lalu, dan meneguhkan kebanggaan terhadap budaya sendiri.
Di antara gagahnya gunung dan debur ombak, Arab Melayu menunggu tangan-tangan yang mau menulisnya kembali. Ia menunggu hati yang mampu memandang lebih dari sekadar puncak gunung yang menawan—hati yang juga menghargai huruf-huruf yang menuntun jiwa, menanam karakter, dan menghidupkan kembali identitas Melayu Lingga yang hampir terlupakan.
(Redaksi)






