Kawan saya itu lama terdiam, seperti dia sedang tak habis pikir dengan apa yang ia saksikan, ia seperti tak percaya dengan apa yang ia baca, ia rasa seperti tak masuk akal ketika mendengar orang-orang itu sedang berbual tentang kejadian demi kejadian melanda negeri ini.
“Apa ni Mud?”, tanya saya melihat dia yang sedari tadi bolak balik, kadang dia duduk kemudian berdiri lagi dan tak lama berselang dia kembali duduk lagi. Ah, visualisasi ini agak menggangu pemandangan saya, belum lagi dengus nafasnya yang menggangu pendengaran saya.
Saya hanya bisa menebak-nebak saja apakah Mahmud kawan saya yang baik itu sedang tergoncang jiwanya, misalnya dengan perubahan kabinet yang sedang terjadi, diam-diam ternyata ada pergantian, bahkan konon katanya ada yang baru tahu 1 jam kalau dia akan dia diganti dan yang diganti itu kabarnya masaalah besar sudah menanti.
Meskipun ada pula yang baru menggantikan langsung bising pula suaranya, merasa jago dan yakin semua akan berjalan baik-baik saja, sebagai masyarakat biasa kta pastilah berharap akan datang perubahan tapi kalau jualannya cuma kecap itu namanya mengelak mulut harimau jatuh kita ke mulut buaya.
Anaknyapun ternyata sama, merasa paling hebat semoga tak membawa akibat nanti menyesal dunia akhirat.
Ada yang diganti terus baper mirip orang pacaran langsung “unfollow” media sosialnya. Namanya juga orang kecewa ya? Tapi mungkin dia tak merasa kalau orang juga kecewa melihat dia tapi begitulah sifat manusia, sama saja perasaannya mau dia presiden, menteri atau orang biasa, bisa jatuh cinta bisa berbuat nista.
Setelah itu saya lihat Mahmud lebih banyak diam, dalam hati saya ini bukanlah karakter kawan saya yang sebenarnya, dia itu seorang yang periang dan banyak cakapnya, dia itu tukang cerita.
Atau mungkinkah dia sudah tertular ilmu air tenang jangan disangka tak ada buaya seperti yang dilakukan pemerintah di negeri timang-timangannya itu ternyata diam-diam mereka hendak melelang sebagian kawasan bernama Taman Gurindam 12 yang sudah banyak “menghabiskan beras”, banyak duit habis tapi membangunnya tak habis-habis, tak sudah-sudah penyelesaiannya.
Lelang mengelola kawasan itu kabarnya ditawarkan kepada investor, supaya nampak kawasan itu maju dan konon akan memacu roda perekonomiannya seperti sebuah kawasan di Batam, saya pernah dikasi tau Mahmud kalau kawasan itu pemiliknya hanya satu orang, anak muda yang keturunan orang kaya, karena itu dia boleh berbuat sesuka hatinya.
Entahlah, kalau cuaca ekonomi kita masih seperti cuaca beberapa hari yang melanda kampung kita ini, mendung dan hujan yang membuat genangan dimana-mana, saya tak yakin ada investor yang berani masuk kalaupun berani itu nekad namanya.
Kita selalu mengambil jalan pintas agar dekat dan cepat tapi kita tak mencoba membuat jalan yang tepat, membangun sarana dengan alur mereka akan datang berinvestasi, menawarkan diri bukan kita yang melelang-lelang, siang malam pagi petang.
Atau diam Mahmud itu dia lagi terikut-ikut dengan gaya cucunya yang laki-laki berusia 2,5 tahun, cucu paling lasak, paling rusuh hanya tak banyak bercakap pula, sambil bergurau saya pernah bilang cucu awak ini nampaknya pendiam, Mahmur tertawa ha ha ha…sebenarnya bukan pendiam tapi terlambat bicara kata dokter akibat banyak main handphone asik menengok youtube.
Pernah Mahmud kemarin curhat dengan saya cerita tentang cucunya itu, bagaimana hendak melarang cucunya bermain handphone kadang handphone tergeletak dimana-mana, dia pandai pula mecari aplikasinya itu.
Walaupun terlambat bicara tapi kawan saya itu bangga katanya cucunya itu hafal huruf dari A sampai Z dari angka 1 sampai 10 dalam bahasa Inggris pula.
Oh ya, saya lupa menjelaskan tentang “Lepu” dalam judul cerita kita ini, lepu itu adalah sejenis ikan laut disebut juga ikan singa yang tubuhnya berduri dan beracun. Ikan lepu ini memang tak banyak bergerak tapi kalau terpijak rambut panjangpun bisa jadi botak:
Karena itulah ada yang menyebutkannya dengan “Diam-diam lepu.
“Diam-diam lepu” adalah peribahasa Melayu yang berarti terlihat baik dan jujur di permukaan, padahal sebenarnya jahat dan berbahaya. Peribahasa ini juga dapat diartikan sebagai musuh yang pendiam atau seseorang yang berpura-pura baik namun memiliki niat buruk di baliknya
Lalu siapa yang diam-diam lepu? mungkin seperti Mahmud tapi mana pula dia itu diam-diam lepu, kawan saya itu orangnya tak bisa diam.
Atau kawan yang lain yang kalau kita tengok status media sosialnya seolah merekalah pasangan yang paling mesra di dunia padahal diam-diam entah berapa kali sudah terjadi gencatan senjata.
Atau majikannya yang sudah kewalahan menghadapi tekanan tapi sebagai bawahan tetap setia membuat statue memberi semangat dan seolah percaya diri sementara diam-diam dia sudah mulai ancang-ancang lari menyelamatkan diri.
Tapi di zaman yang lagi tak begitu enak ini sebaiknya kita agak lebih banyak berdiam diri, karena bisa saja terjadi lain yang kita ucapkan, lain pula yang mereka dengarkan mungkin mereka yang mendengarkan itu sedang haus atau lapar tapi yang paling berbahaya adalah kita sudah menyampaikan semuanya dengan sebenar-benarnya tapi dia seperti tak mau tahu, malah jawabannya membuat hati di dalam rasa bertalu-talu “Bang aku sedang rindu”, nah kata-kata beracun, Mahmud bilang itu kerjanya Lepu.






