BATAM – Ada kalanya sebuah pengabdian dimulai bukan dari ruang rapat yang penuh dokumen, melainkan dari langkah kaki yang menyusuri lorong-lorong sederhana tempat masyarakat menaruh harapan.
Itulah yang dilakukan Ketua DPRD Kabupaten Lingga, Maya Sari. Ia memilih menyingkap sendiri kenyataan di Rumah Singgah Pemerintah Kabupaten Lingga di Kota Batam, ketimbang hanya membaca laporan yang tersusun rapi di atas meja.
Di rumah yang menjadi persinggahan sementara bagi warga Lingga yang sedang berjuang melawan sakit itu, Maya disambut pengurus rumah singgah, Desy Eka atau yang akrab disapa Tanti, bersama sejumlah pasien dan keluarga yang tengah menjalani hari-hari penuh harap.
Satu per satu sudut bangunan ia telusuri. Ia mendengar, mencatat, dan menyerap cerita yang mengalir dari para penghuni. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah ia menemukan sebuah kebutuhan yang kerap luput dari perhatian.
Bukan pembangunan megah. Bukan pula fasilitas yang bernilai besar.
Melainkan beberapa unit kipas angin.
Di tengah udara Batam yang menyengat, ruangan rumah singgah terasa pengap, terutama ketika matahari berada tepat di atas kepala. Bagi mereka yang sedang mendampingi keluarga berobat atau menjalani pemulihan kesehatan, kesejukan menjadi kebutuhan yang tak kalah penting dari kenyamanan lainnya.
“Kadang kebutuhan yang paling terasa justru yang paling sederhana. Kalau ruangan lebih sejuk, pasien dan keluarga juga bisa beristirahat dengan lebih nyaman,” ujar Maya, Minggu (28/6/2026).
Tanpa menunggu panjang, Maya langsung menyerahkan bantuan kipas angin kepada pengurus rumah singgah. Sebuah bantuan yang mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, namun memiliki arti besar bagi mereka yang setiap harinya bergelut dengan rasa lelah, cemas, dan harapan akan kesembuhan.
Menurut Maya, Rumah Singgah bukan sekadar bangunan yang menyediakan tempat bermalam. Ia adalah pelabuhan teduh bagi warga Lingga yang tengah menempuh perjalanan panjang menuju kesembuhan. Tempat di mana harapan beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjuangannya.
“Karena itu, kita memastikan kondisi fasilitas akan terus menjadi perhatian agar masyarakat merasa nyaman selama berada di Batam,” katanya.
Ia berharap perhatian terhadap Rumah Singgah tidak berhenti pada bantuan hari ini semata. Sebab merawat harapan masyarakat adalah pekerjaan yang tak mengenal titik akhir, melainkan ikhtiar yang harus terus dijaga bersama melalui kepedulian dan gotong royong berbagai pihak.
Di tempat itu, Maya menemukan satu pelajaran sederhana: bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan gemerlap. Kadang ia menjelma menjadi hembusan angin dari sebuah kipas, yang memberi sejuk bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi hari-hari yang tidak mudah.
(Adhe Bakong)






