TANGGAL 6 Januari 1784, adalah hari kemenang besar perperangan dahsyat antara pasukan Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang (Kerajaan Riau)—yang dipimpin Yang Dipertuan Muda IV Riau Raja Haji dengan pimpinan tertinggi Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah—melawan VOC-Belanda di Selat Tanjungpinang-Pulau Penyengat dan sekitarnya. Belanda mengalami kekalahan total, sehingga beberapa orang pasukan yang tersisa harus bersusah-payah melarikan diri ke Melaka. Adalah tanggal kemenangan perperangan tersebut, 6 Januari 1784, ditetapkan menjadi Harijadi Kota Tanjungpinang, yang berarti pada 6 Januari 2026 Kota Tanjungpinang sudah berusia 242 tahun.
Seiring dengan Harijadi 242 Kota Tanjungpinang, 6 Januari 2026, kiranya perlu diungkapkan bagaimana keberadaan Istana Kota Piring, di Pulau Biram Dewa, Hulu Sungai Carang (Sungai Riau), Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Tentunya sepakat, bahwa bekas Istana Kota Piring dan Pulau Biram Dewa, jangan sekali-kali sampai lenyap ditelan pertambahan dan perkembangan perumahan penduduk ataupun kegiatan pembangunan lainnya. Sebab, eksistensinya amat penting, berkait langsung dengan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau dan bahkan beberapa kawasan yang dulunya termasuk sebagai bagian wilayah pemerintahan dan kekuasaan Kerajaan Riau-Lingga-Johor (Singapura) dan Pahang, yang kini dalam wilayah Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Berperang dari Istana Kota Piring
Syahdan, Istana Kota Piring di Pulau Biram Dewa dan Istana Sultan di Sungai Galang Besar menjadi tapak dan sekaligus titik-tolak penting Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang (Kerajaan Riau) pada masa Pemerintahan Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda IV Riau Raja Haji.
Junus (1988), Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang Abad XX, antara lain menegaskan tentang Istana Kota Piring, Pulau Biram Dewa sebagai pijakan utama perjuangan dan perperangan dengan Belanda. Dari tempat inilah pertahanan Riau terhadap gempuran Belanda diatur, dan dari tempat ini pula penyerangan terhadap Belanda di Melaka dilakukan.
Kekuatan dan kejayaan kerajaan ini semakin nyata, atas perpaduan kepemimpinan “dua beranak” yakni Raja Haji, sang Paman dan Mahmud Riayat Syah sebagai keponakan. Satu dan lainnya saling bertekat untuk tetap bersusah paya saling menguatkan dengan tujuan untuk menjayakan dan memakmurkan negeri Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang serta daerah-daerah takluknya.
Bagi Raja Haji, kedudukan Sultan dalam Kerajaan Melayu Riau-Lingga-Johor dan Pahang, bukan hanya dalam soal pemerintahan, pembangunan, dan kejayaan kerajaan, melainkan sekaligus sebagai lambang pemersatu rakyat yang besar dan penting.
Sampailah suatu masa, perjanjian kerjasama perdangan dan perlayaran antara Kerajaan Riau dengan VOC Belanda yang sudah berlangsung menjadi rusak, akibat dihianati oleh Belanda sendiri. Sebagaimana dijelaskan Abrus, dan kawan-kawan (1989).
Sejarah Perjuangan Raja Haji Fisabilillah dalam Perang Riau Melawan Belanda (1782-1784), pada tanggal 4 Februari 1782 sebuah kapal Inggeris bernama “Betsy” dengan nakhoda Robert Geddes, berlabuh di Pulau Bayan di dalam kawasan Teluk Riau. Kapal itu di dalam pelayaran dari India ke Cina bermuatan candu sebanyak 1154 peti dengan harga yang sangat tinggi. Raja Haji memberi tahu Melaka tentang kapal Inggeris yang berlabuh di Pulau Bayan itu.
Masih mengikuti keterangan dalam sumber yang sama, dua belas hari kemudian Mathurin Barbaron dan kapal-kapal lain yang datang ke Riau untuk membawa “Betsy” ke Melaka. Barbaron tidak menghadap Yang Dipertuan Muda Raja Haji dan merundingkan masalah itu.
Tanggal 15 Maret, Barbaron menyeret kapal “Betsy” menuju Melaka, dan Raja Haji tetap menahan diri, tetapi tetap menyurati Barbaron terkait penarikan kapal yang dilakukan tanpa pemberitahuan itu. Belanda kemudian membalas surat Raja Haji, tetapi samasekali tidak menyebutkan tentang hasil pembagian atas rampasan kapal “Betsy” yang menjadi milik perbendaharaan Kerajaan Riau. Bahkan mendapat kabar bahwa Belanda memang tidak bermaksud memberikan bagian yang menjadi hak kerajaan itu.
Dengan tidak mendapat bagian apa-apa dari penangkapan kapal “Betsy” yang dibawa dari wilayah kekuasaan Kerajaan Riau berarti pihak VOC dan Barbaron telah melanggar kedaulatan Kerajaan Riau dan tidak memperdulikan marwah para penguasa kerajaan itu. Hal ini merupakan suatu pelanggaran yang sangat berat dipandang dari tata kehidupan orang Melayu yang terkenal sangatlah menjaga marwahnya itu.
Tampaklah bahwa potensi untuk terjadinya silang-sengketa, pertentangan hebat dan akan berujung dengan perperangan antara Kerajaan Riau dengan Belanda. Pada gilirannya Raja Haji mulai bersikap dan bertindak. Seperti dijelaskan Rustam S. Abrus, dkk., pada awal bulan Maret, Raja Haji pun berangkat ke Muar, yang terletak kira-kira 50 Km di sebelah Tenggara Kota Melaka, dengan memakai 100 kapal-kapal kecil bersenjata. Ia lalu mengirim dua orang utusan yang bertolak dengan 26 kapal kecil yang lincah, untuk merundingkan dengan Gubernur Melaka tentang penyelesaian peristiwa “Betsy”. Sebaliknya Melaka mengirim Abraham de Wind agar bertemu dengan Raja Haji di Muar. Wakil pihak Belanda itu menyaksikan Yang Dipertuan Muda Riau IV itu dikawal dengan ketat oleh 200 orang bersenjata dan siap pula mengerahkan 2600 tenaga kerahan Muar saja, yakni pada 13 Oktober 1782. Tidak mebuahkan hasil perundingan, dan untuk kali kedua manakala Raja Haji mengirim dari Muar ke Melaka 44 buah kapal bersenjata, tetapi perundingan tidak membawa hasil apa-apa.
Sehingga kemudian, menurut keterangan dalam sumber ini, Kerajaan Riau pun menyiapka segala sesuatunya di pusat Kerajaan Hulu Riau, dan demikian juga dengan membangun kubu-kubu dan benteng-bentang di sekitar Teluk Riau seperti Senggarang, Tanjungpinang, Pulau Bayan, dan Pulau Penyengat. Sarang-sarang meriam dibangun diperkuat dengan batang-batang kepala berlapis-lapis bahkan yang di Pulau Bayan dan bagian dalam teluk dengan batu karang bersemen. Sejalan dengan itu, Kerajaan Riau pun mendapat dukungan dari sekutu-sekutunya, yang pada akhirnya dipimpin oleh Raja Haji melakukan gangguan kapal-kapal Belanda sampai di depan Kota Melaka, yang mebuat Gubernur Melaka sampai meminta bantuan kepada pemerintah Belanda di Batavia, yang pada 17 November 1782 surat Gubenur Jenderal di Batavia sampai di Melaka, yang antara lain memerintahkan agar membri hukuman kepada Raja Haji atas tindakan agresifnya yang tidak pantas kepada VOC Belanda di Melaka.
Pada akhirnya, pihak Riau, Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda IV Riau Raja Haji, menyadari bertul bahwa perjanjian kerjasama dengan Belanda akibat dihianati atas kapal “Betsy” tersebut, tidak mungkin dipertahankan lagi. Sebaliknya akan terjadi perang terbuka dengan Belanda. Dan singkat kisah, sejarah telah mencatat, terjadilah perperangan yang dapat dikatakan satu di antara perperangan terbesar di laut yang terjadi antara sebuah kerajaan di Nusantara, yakni Kerajaan Melayu, Riau-Lingga-Johor dan Pahang dengan VOC-Belanda di Teluk Riau, Selat Tanjungpinang-Pulau Penyengat-Senggarang, Teluk Keriting-Tanjung Buntung-Pulau Dompak dan sekitarnya. Belanda datang menyerang pada 18 Juni 1783. Selanjutnya, karena diserang oleh Belanda, maka Raja Haji yang diamanahkan oleh Yang Dipertuan Besar Sultan Mamhmud Riayat Syah untuk melakukan perperangan dengan Belanda, pada akhirnya mengambil inisiatif penyerangan terhadap kapal-kapal Belanda pada 23 Juni 1783.
Perperangan berkecamuk, Kerajaan Riau dengan tekat bulat tetap dalam semangat fisabilillah, dengan demi marwah bangsa-negeri, harga diri Kerajaan Melayu di Nusantara, tak ada gentar, tak ada surutnya dan terus menggempur musuh dari Eropa itu. Pasukan Riau di kubu-kubu dan benteng-benteng pertahanan, antara lain di Pulau Penyengat terus melakukan penyerangan dan perlawanan. Lalu singkat kisah, pertempuran di laut itupun mencapai puncaknya, menentukan kemenangan di pihak Kerajaan Riau, di mana pada 6 Januari 1784, menjelang pukul 11 siang, kapal Perang Belanda “Malakka’s Welvaren” terkandas di beting dekat pantai Tanjungpinang-Teluk Keriting, yang dikenal dengan Tanjung Buntung, dan ada empat buah kapal Belanda yang kandas pula.
Perperangan terus berkecamuk, dan sekira pukul 2 siang pasukan Kerajaan Riau yang bertugas mengendalikan meriam dari atas bukit dan pinggir pantai itu berhasil meledakkan kapal perang Belanda itu.
Peledakan itu, mengikuti penjelasan Abrus, dkk., bahwa sarang meriam “titik merah” itupun melepaskan tembakan kepada kapal Belanda “Malkka’s Welvaren”, tepat kena sehingga kapal itu terbakar dan Meletus dengan sangat dahsyat, digambarkan oleh Netscher “bagaikan beribu halilintar” sampai geladak-geladaknya beterbangan ke udara. Cuma dua orang Eropa dan tujuh orang pribumi (tentara Belanda) yang selamat dari kapal yang sial itu, sedangkan korban seluruhnya antara 400 sampai 800 orang. Seiiring itu, pasukan Kerajaan Riau benar-benar mengamuk, dan pasukan Belanda yang sudah mendarat di darat Tanjungpinang, Tanjung Buntung dan sekitarnya pun diburu dan diserbu, yang mendapat serengan keras dari darat. Serdadu-serdadu Belanda yang tersisa berjatuhan. Tanggal 6 Januari 1784 adalah hari kemenangan yang cemerlang bagi rakyat Riau.
Pertempuran antara pasukan Kerajaan Riau dengan VOC-Belanda, demikian jelas diseneraiankan Raja Ali Haji Tuhfat al-Navis (Virginia Matheson Hooker, 1998), …. Maka lepas satu tong ubat bedil itu dipikul oleh orang sampan naik ke darat kepada kubu Teluk Keriting itu. Maka dapatlah empat lima kali dibedilkan, maka dengan takdir Allah Taala kapal itupun terbakar meletup berterbangan /ke laut/ geladak kapal itu ke udara dan segala orang-orangnya pun habislah mati terbakar oleh ubat bedil meletup itu. Syahdan adalah satu kaul orangnya ada delapan ratus yang mati (dan satu kaul pula lima ratus) dan satu komisarisnya (di dalamnya) yang mati bersama-sama (terbang dengan) kapal itu.
Adalah nama kapal itu Malak Suar Far demikianlah yang didapat daripada perkataan orang tua-tua Holand ((yang di)) Melaka. Syahdan apabila sudah terbakar kapal (yang) besar itu berhentilah perang sama diam sungguh(pun) diam di dalam bicara (juga antara) kedua pihak.
Catatan perperangan yang dibuat dengan rinci oleh pihak Belanda, yang bernama Netscher (1870), De Nederlanders in Djohor en Siak 1606 tot 1865 (Diterjemahkan Wan Ghalib (2002), Belanda di Johor dan Siak 1602-1865, menjelaskan panjang lebar tentang mula kapal-kapal perang Belanda berangkat dari Melaka yang dinamakan ekspedisi ke Riau. Dapat dipahami betul, bahwa tujuannya tidak lain tidak bukan, adalah hanya satu saja untuk mengalahkan, menguasai dan menaklukkan Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang, serta menghukum Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji. Mereka dengan kekuatan besar, dan merasa yakin bahwa penyebuan ke pusat Kerajaan Riau di Riau itu, akan memperoleh kemenangan dan habislah riwayat Kerajaan Riau.
Dijelaskan Netscher, ekspedisi yang baru diperkuat itu dimaksudkan, secepat mungkin untuk menaklukkan Riau dan juga menunggu tambahan kekuatan yang telah dijanjikan oleh Pemerintah di Batavia, yaitu kapal de Hoop, kotter Patriot (dipersenjatai dengan 20 meriam dua belas pon) dan kapal Concordia (1), serta menunggu—biarpun kecil harapan—bantuan dari Terengganu atau Kedah—bantuan dari Siak sudah tidak diharapkan lagi. Para Komisaris Lemker dan Hoijnek van Papendecht pada tanggal 7 November 1773 dengan kapal Hof ter Linde dan Malaka’s Welvaren sampai ke eskadar di Riau, disertai beberapa buah kapal lainnya. Komisaris pertama besok paginya mengambil alih komando dan segera segalanya dipersiapkan untuk mengadakan serangan umum terhadap kekuatan musuh di Tanjung Pinang, Pulau Bayan dan Senggarang, dengan tidak menunggu datangnya tambahan dari Terengganu atau Batavia.
Dilaporkan Netscher, hari akan melakukan penyerangan itu ditetapkan pada tanggal 6 Januari 1784. Memang terpaksa menunggu agak lama, karena menunggu keadaan pasang-surut air yang menguntungkan. Komisaris Lemker pindah ke kapal Malaka’s Welvaren, dan tuan Hoijnek van Papendrecht ke kapal Snelheid, dengan maksud secara terpisah masing-masing akan memimpin satu divisi sewaktu mendarat.
Pada subuh hari yang telah ditetapkan itu, urai Netscher, sedang air masih surut, oleh kapal-kapal yang sejak tengah malam sudah mendekati teluk: mulai ujung Senggarang, Tanjung Pinang dan Pulau Penyengat (Mars), dimulailah melepas tembakan ke sarang-sarang meriam yang ada di pulau-pulau itu dan kepada perahu-perahu yang merupakan lini melintang di teluk.
Kata Netscher, tembakan dari kapal itu dibalas dengan hebat, tetapi sungguhpun demikian menjelang pukul sebelas, beberapa sarang meriam telah dapat dibungkamkan, dan beberapa buah kapal dapat ditenggelamkan atau dirusakkan. Kemenangan jadinya di pihak kita dan hanya akan memberikan satu pukulan terakhir saja lagi. Untuk itu kapal-kapal mulai memasuki teluk dengan mengikuti air pasang, tetapi kapal Malaka’s Welvaren terkandas ke atas beting. Sedangkan di atas kapal yang terkandas sejauh kira-kira lima ratus ela dari tebing yang di atas bukitnya merupakan sarang meriam—yang disebut “titik merah” itu, berada Komisaris Lemker beserta tenaga-tenaga handalan; maka terpaksalah harus menunggu pasang penuh, baru dapat bergerak.
Dilanjutkan Netscher, sekitar pukul dua siang, terbukalah kesempatan baik, dan satu detasmen serdadu Eropah—kebanyakan orang Perancis, mendarat di tanah datar sebelah selatan bukit Tanjung Pinang, dengan maksud untuk menyerang kekuatan di situ dari belakang. Gerakan itu tidak diatur dengan baik. Serdadu-serdadu itu sendiri yang harus berdayung bargas-basgas, karena para kelasi terbagi pada sekoci-sekoci—karena rencananya akan mengadakan pendaratan serentak. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana keadaan pantai dan tebing di situ. Bargas yang berperut dalam itu masuk ke alur yang menjorok ke laut. Bargas itu terpaksa ditinggalkan di situ dan serdadu-serdadu terpaksa mengarung naik ke darat.
Pada detasmen itu diperbantukan jurutulis Stoppelaar, karena ia bisa berbahasa Perancis dan satu-satunya opsir yang memimpin, tidak pula mengerti bahasa itu. Setiba di tebing, ianya jatuh sakit. Stoppelaar yang pemberani, lalu mengambil alih komando, setibanya di darat dan ia memberikan contoh yang baik.
Kemudian, lanjut Netscher, setelah anak buahnya menembak dan dapat mengusir Bugis yang berada dekat pantai, ia mendahului menuju ke bukit yang berbatasan dengan Tanjung Pinang, suatu daerah terletak lebih rendah. Kemudian setelah ia sampai ke ketinggian bukit yang dinamakan Bukit Stoppelaarsberg dan dapat berdiri di sana, ia bermaksud hendak menjepit orang Bugis yang bertahan di bukit Tanjung Pinang itu dengan tembakan dari pihaknya dan juga dari kapal. Tapi suatu bencana yang dahsyat mengalangi rencana tersebut—yani baru saja Stoppelaar mendarat, sarang meriam di darat melepaskan tembakan ke kapal Malaka’s Welvaren yang masih terkandas, dan apakah tembakan itu atau sebab lain—dengan ledakan laksana ribuan halilintar, kapal Malaka’s Welvaren berkeping-keping terbang ke udara.
Dengan demikian, maka Bugis yang berada di sarang meriam itu sudah seakan-akan tidak ada tugas lagi, dan karena itu mereka menyerbu ke bawah bukit—menghadapi detasmen yang sedang mendaki ke situ, sehingga menjadi kacau-balau dikarenakan panik. De Stoppelaar terluka, vandrig Zoldering yang kakinya bengkak disebabkan sakit, memberikan isyarat untuk mundur dan dilaksanakan secara tergesa-gesa.
Kata Netscher, orang-orang Bugis mengejar serdadu-serdadu itu sampai ke sekoci, yang mungkin tidak akan dapat dicapai oleh serdadu-serdadu kita—sekiranya tidak ada tembakan dari kapal Restenburg yang menghalangi pengejaran mereka itu. Detasmen tersebut terpaksa meninggalkan beberapa orang yang mati dan tiga orang ditawan, di antaranya seorang terluka. Bargas yang digunakan untuk mendarat tadi, terpaksa ditinggalkan saja karena berada di tempat kering tak berair.
Dari kapal Malaka’s Welvaren, kata Netscher, hanya dua orang Eropah dan tujuh orang Bumiputra yang dapat ditolong. Dan, sekiranya kapal Malaka’s Welvaren itu tidak hancur secara menyedihkan, sudah pasti Riau akan jatuh ke tangan Belanda. Kapal tersebut melayani sarang meriam Bugis, sedangkan detasmen diharapkan terus maju. Dengan musnahnya kapal itu, maka mereka yang berada di sarang meriam itu terbebas dari tekanan dan mengalihkan perhatiannya kepada detasmen yang sudah tidak mempunyai deking lagi. Kapal-kapal yang lain berada jauh atau dalam keadaan tidak dapat menolong. Dengan meledaknya kapal tersebut, tembakan Bugis mulai menggila kembali dan kapal-kapal mereka pun mulai pertempuran lagi. Beberapa bendera Bugis yang tadinya sudah diturunkan, dikibarkan kembali.
Diuraikan Netscher, setelah matinya komisaris Lemker, kapten Toger Abo kembali memegang komando. Ia mengumpulkan kembali dewan-eskader, untuk menentukan langkah selanjutnya. Semuanya berpendapat, bahwa blokade terhadap Riau harus ditarik kembali dan kembali ke Melaka, karena dengan kehilangan sebuah kapal berat dan kerusakan pada kapal-kapal lainnya dan dengan berkurangnya tenaga, baik karena sakit maupun dikarenakan gugur, maka kekuatan yang tinggal tersisa dianggap tidak cukup untuk membuat ekspedisi itu akan berehasil. Dengan keputusan itu, maka pada tanggal 24, 26 dan 27 Januari 1784 berturut-turut kapal-kapal yang ikut ekspedisi itu melabuhkan jangkarnya di Melaka.
Netscher, menjelaskan bahwa kapal-kapal yang disertakan dalam ekspedisi ke Riau itu dilengkapi persenjataan dan pasukan atau anak-anak buah yang paling lengkap dan kuat. Adapun jumlah pasukan seluruhnya dari kapal-kapal itu 1900 orang yang berada di armada yang ikut melakukan penyerangan ke Riau. Di antaranya, orang Eropah dari berbagai kebangsaan, Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Hindu dan juga Cina. Jumlah itu menjadi jauh berkurang akibat kekalahan yang diderita, baik oleh tembakan meriam dari kapal musuh, maupun oleh penyakit.
Hamka (1982), Dari Perbendaraan Lama, mengatakan bahwa perperangan itu berlangsung dahsyat. Terpadulah gagah perkasa Melayu dengan Bugis mempertahankan Daulat kebesarannya. Gegap gempitalah meriam “lelarentaka” dari keduabelah pihak, banyaklah pahlawan yang gugur. Tetapi setelah berperang sepuluh bulan lamanya, Belanda terpaksa mundur ke Melaka, karena beberapa buah kapalnya telah tenggelam. Dan terpeliharalah kemerdekaan Riau dan kebesarannya.
Setyadiharja, dkk. (2022), Perang Riau dalam Tuhfat Al-Nafis, menegaskan perang Riau—membuktikan sebuah kekalahan memalukan VOC Belanda terhadap Angkatan Perang Kesultanan Riau-Johor-Pahang. Strategi dan taktik yang diciptakan oleh Raja Haji membuat perang ini yang semula ingin membuat Kesultanan Riau-Johor-Pahang menderita kelaparan, penyakit dan kesengsaraan, malah berbalik pada situasi yang buruk pada VOC Belanda sehingga dalam catatan Netscher dan beberapa catatan lainnya, Belanda mengakui sebuah kekalahan yang memalukan. Kondisi inilah yang kemudian menunjukkan semangat dan patriotisme Raja Haji dalam melakukan perlawanan terhadap bangsa kolonial.
Raja Haji Syahid Fisabilillah, di Melaka
Selepas kemenangan besar itu, maka Raja Haji bersama Sultan Mahmud Riayat Syah—tentu di Istana Kota Piring ataupun Istana Sultan di Sungai Galang Besar berunding dan berencana untuk melanjutkan perperangan dengan melakukan penyerbuan “balas dendam” terhadap pusat kekuasaan Belanda di Melaka.
Singkat kisah maka berangkatlah Raja Haji dan Sultan Mahmud Riayat Syah dengan pasukan Kerajaan Riau hendak menaklukkan Belanda di Melaka. Sebelum sampai di Melaka, mereka pun singgah dan berhenti untuk istirahat di Muar. Raja Haji, sudah tak sabar lagi untuk menggempur Belanda di Melaka itu, dan ini dapat dipahami karena bantuan dari Selangor sudah terlebih dahulu berperang dengan Belanda di Melaka.
Raja Ali Haji menjelaskan, begitu terdorongnya Raja Haji untuk melanjutkan perperangan di Melaka, karena fadilat jihad fi sabilillah. Maka bersiaplah akan beberapa kelengkapan (perang). Maka apabila sudah mustahib sekaliannya maka (lalulah ia) berangkat ke Melaka. Maka mengikut(lah) pula (paduka anakanda baginda) Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud (bersama-sama paduka ayahanda baginda Yang Dipertuan Muda. Maka keras juga baginda Suntan Mahmud itu hendak pergi juga bersama-sama paduka ayahanda bagindanya itu), maka (lalulah ia pergi).
Maka sampai ke Muar maka ditinggalkannya paduka anakanda (baginda) itu di Muar iaitu Yang Dipertuan Besar. Maka yang Dipertuan Muda Raja Haji lalulah ia ke Melaka, maka berbuatlah (ia tempat serta) kubu di Teluk Ketapang (di Tanjung Palas namanya), serta menyuruh Punggawa Opu Nasti melanggar Semabuk. Maka berperanglah di Semabuk itu dengan beberapa (hari) beramuk-amukan gegak-gempita bunyi senapan /pemuras/ serdadu dan pemuras Bugis (seperti bunyi orang menggoreng bertih serta dengan sorak tempitnya dan segala Bugis dengan segala kilung musungnya) dan bermati-matianlah (dan berluka-lukaan) sebelah-menyebelah. Maka tida beberapa lamanya berperang itu, (maka tewaslah orang-orang Semabuk itu sebab banyak serdadunya mati, serta orang-orang Semabuk pun banyak panglima-panglimanya mati). Maka Sembuk pun alahlah dan dapatlah Semabuk itu oleh Yang Dipertuan (Muda) Raja Haji.
Lebih lanjut disenaraikan Raja Ali Haji, kemudian tiada beberapa antaranya maka Sultan Mahmud pun datanglah ke Teluk Ketapang mendapatkan paduka ayahanda (bagindanya itu) Raja Haji (Yang Dipertuan Muda). Maka (tiada beberapa lamanya bersama-sama dengan paduka ayahanda baginda itu /Raja Haji Yang Dipertuan Muda/ maka) sembah (Yang Dipertuan Muda) Raja Haji (itu kepada paduka anakanda baginda itu Sultan Mahmud), “Baik(lah) silakan paduka anakanda balik ke Muar. Nanti paduka ayahanda di dalam Muar, janganlah (paduka anakanda) masuk /di dalam pekerjaan perang ini/ biarlah (paduka) ayahanda saja karena barangkali dikehendaki Allah Ta’ala (paduka) ayahanda sampai janji di dalam perang (ini) dahulu Allah wa baadu al-rasul. (Kemudian) /daripada itu/ paduka anakandalah (akan paduka) ayahanda harap memeliharakan ahli-ahli (paduka) ayahanda, serta memelihara(kan) pacal-pacal itu anak-(anak) Bugis.
Adapun (paduka) ayahanda suka serta rela(kan) karena dosa (paduka) ayahanda selama-lama ini. Maka (paduka) ayahanda harapkan diampuni Allah Ta’ala dengan sebab kematian perang ini.” Syahdan apabila Sultan Mahmud mendengar perkataan paduka ayahanda (baginda) itu, maka baginda pun menangislah terlalu sangat. Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun menangis juga. Syahdan apabila selesai daripada bertangis-tangisan dua (ber)putera itu, maka Sultan Mahmud pun berangkatlah balik ke Muar menantikan habis pekerjaan paduka ayahanda baginda(nya) itu.
Dalam perperangan melawan Belenda di Teluk Ketapang itu, Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang mendapat bantuan dari Kerajaan Selangor dan Inderagiri. Belanda terdesak dan memberi peluang besar kepada pasukan Kerajaan Riau yang dimpin Raja Haji untuk memperoleh kemenangan. Sebab Belanda di Melaka belum mendapatkan bantuan pasukan yang datang dari Batavia. Dalam pada itu, Gubernur Melaka akhirnya meminta bantuan pula kepada Kerajaan Siak, yang akhirnya Siak pun mengirimkan pasukan bantuan di Melaka untuk menggempur pasukan gabungan Raja Haji. Pada anhirnya, saat Raja Haji dan pasukannya semakin dekat akan meraih kemenangan, bantuan pasukan dari Batavia pun tiba pula di Melaka dan segera ikut dalam berkecamuknya perperangan. Pertempuran antara kedua belah pihak sedemikian dahsyat dan sudah terjadi pula di darat Teluk Ketapang, Melaka.
Menurut Raja Ali Haji, maka ketika beramuk-amuk itu, maka segala serdadu yang beribu-ribu itu pun mengepunglah kubu (yang) besar (tempat semayam) Yang Dipertuan Muda itu. (Maka) bersaf-saflah ia (menelilingi kubu itu). Maka Yang Dipertuan Muda (Raja Haji) pun bertitah menyuruh (meng)amuk. Maka Arung Lenga pun memacu kudanya padahal ia tengah sakit pak ipa. Maka keluarlah ia merempuh baris (Holanda) itu maka (lalulah ia mengamuk. Maka) matilah ia dengan kudanya (sekali) ((dan)) Holanda (pun) banyak juga (yang) mati. Maka dimasukkannya kubu Yang Dipertuan Muda oleh segala orang besar-besar perang Holanda itu serta dengan serdadunya. Maka mengamuklah (pula) Dahing Saliking serta panglima(nya) To Lesang serta Haji Ahmad, maka ketiganya (pun mengamuk) menyerbukan diri(nya) kepada baris Holanda yang berlapis-lapis itu, Maka ketika ia mengamuk (itu) maka (matilah) ia (al-)syahid fi sabilillah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan beberapa lagi orang-orang baik (yang) syahid itu (mana-mana yang) tiada membuang belakang(nya).
Perperangan yang mulai tidak seimbang itu, tentulah membuat Raja Haji dan pasukannya semakin terdesak. Walaupun demikian, pasukan Belanda banyak juga yang tewas. Raja Haji dengan pasukannya pantang membuang belakang dan terus berjuang sekuat tenaga untuk menggempur Belanda. Kata Raja Ali Haji, maka Yang Dipertuan Muda ((Raja Haji)) pun bangkit menghunus badiknya sebelah tangan memegang Dala’il (al-)Khayrat. Maka dipeluk oleh bebarapa orang maka di dalam tengah(-tengah hal) yang demikian itu maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun kenalah peluru baris senapang. Maka baginda pun rebahlah /lalu/ mangkat.
sayhidlah ia.
Setelah gugurnya Raja Haji maka perperangan pun berhenti, dan Belanda menang. Kata Raja Ali Haji, syahdan apabila segala Holanda(-Holanda itu) melihat Yang Dipertuan Muda Raja Haji itu sudah mangkat (itu) maka berhentilah ia membedil. Maka bersaf-saflah ia berdiri, maka disuruhnyalah segala ahli-ahli Raja Haji itu keluar betul-betul dari dalam kubunya laki(-laki) dan perempuan.
Maka tiadalah diharu-birunya /oleh Holanda itu/ maka keluarlah segala ahli-ahli Raja Haji itu. Adalah puteranya masa itu yang laki-lakinya sahaja dibawanya, iaitu Raja Jaafar dan Raja Idris dan anak saudaranya seorang yang bernama Sulaiman. Adapun Yang Dipertuan Inderagiri yang bernama Raja Ibrahim adalah ia luka /dibawa orang/ lari keluar. Maka habislah segala ahli-ahli Yang Dipertuan Muda itu keluar dari Teluk Ketapang) dengan berjalan betul-betul (dengan tiada dihusir oleh Holanda-Holanda itu). ((Adalah keluarganya segala ahli-ahli Raja Haji itu serta orang-orangnya dari Teluk Ketapang itu)) lalulah sekalian mereka itu ke Muar sekali dan alahlah Teluk Ketapang itu.
Anak-anak Raja Haji dan sisa pasukannya itu kemudian meninggalkan Teluk Ketapang, Melaka dan bergabung dengan Sultan Mahmud Riayat Syah di Muar. Selepas itu, Sultan Mahmud Riayat Syah bersama dengan anak-anak Raja Haji, yang tak lain tak bukan adalah sepupunya juga, beserta pasukan Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang yang ada bersamanya, segera meninggalkan Muar dan belayar menuju Riau, di Hulu Sungai Carang, tepatnya di Istana Kota Piring dan Istana Sungai Galang Besar. Sultan Mahmud dalam kepulangannya ke pusat kerjaan, telah menyimpan tekat yang berlipat-lipat untuk membalas kematian sang paman. Bila suatu waktu sudah siap, maka akan menyerbu lagi Belanda di Melaka.
Harijadi Kota Tanjungpinang
Tanjungpinang, sebagai sebuah kota perlu adanya harijadi, yang ditetapkan pada tanggal, bulan dan tahun yang tepat dan bersejarah. Pada akhirnya, sejumlah tokoh yang dimotori Rida K Liamsi, salah seorang Petinggi PWI Perwakilan Kepulauan Riau, akhirnya bersepakat dengan Wali Kotif Tanjungpinang, Muhammad Sani, untuk dilaksanakannya suatu diskusi. Pada akhirnya, maka pada 15 November 1986 diadakan satu diskusi yang mencoba membicarakan tentang sejarah lahir dan berkembangnya kota Tanjungpinang.
Diskusi itu merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Administratif Tanjungpinang dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kepulauan Riau, yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan merayakan harijadi Kotip Tanjungpinang ke-3, 26 Desember 1986.
Diskusi yang mendapat dukungan besar dari Walikota Drs. M Sani dan berlangsung di aula Kotip Tanjungpinang, mengetengahkan makalah, yang disajikan masing-masing: 1. Raja Hamzah Yunus, dengan makalah “Sejarah Lahirnya Kota Tanjungpinang”, sebagai makalah utama. R. Hamzah Yunus adalah Ketua Yayasan Budaya Indra Sakti dan salah seorang budayawan Kepulauan Riau. 2. Drs. Nyat Kadir dengan makalah “Satu Pemikiran Kearah Lahirnya Kota Tanjungpinang”, sebagai makalah pembanding.
Nyat Kadir, adalah dosen STIA Lancang Kuning Tanjungpinang, dan seorang budayawan. 3. Mukhtar Zam dengan makalah “Lahirnya Kota Tanjungpinang”, sebagai makalah pembanding. Mukhtar Zam adalah salah seorang budayawan Kepulauan Riau. 4. Rida K Liamsi dan Eddy Mawuntu, dengan makalahnya “Perang Riau (1782-1784) Sebagai Titik Tolak Harijadi Kota Tanjungpinang”, sebagai makalah pembanding. Rida K Liamsi dan Eddy Mawuntu, adalah budayawan dan wartawan.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi tersebut, kemudian Walikota Tanjungpinang Drs. M Sani membentuk satu tim yang diberi nama Tim Peneliti dan Pencari Fakta Harijadi kota Tanjungpinang, melalui Surat Keputusannya (SK) No. 09/KPTS/1986 tertanggal 10 Desember 1986. Tim terdiri dari 11 (sebelas) orang yaitu Drs. Abdul Rah man (Ketua), Rida K Liamsi (Sekretaris), dan para anggota masing-masing R Hamzah Yunus, RA Razak, dr. Rusmawi Ripin, Eddy Mawuntu, Abd. Razak, Said Hasan, Mukhsin Khalidi, Drs. Nyat Kadir, dan Mukhtar Zam.
Pada akhirnya tim menyimpulkan pertanggal 6 Januari 1784 yang bertepatan dengan tanggal 29 Muharram 1204 Hijriah merupa kan tarikh yang paling tepat untuk menjadi tarikh harijadi kota Tanjungpinang.
Risalah tersebut oleh tim setelah disetujui oleh rapat anggota tim pada 7 Oktober 1987 diserahkan kepada Walikota Tanjungpinang, untuk dipertimbangkan dan diusulkan agar ditetapkan sebagai Harijadi Kota Tanjungpinang.
Walikota Administratif Tanjungpinang Drs. M Sani, melalui suratnya tanggal 23 Oktober 1987 telah mengajukan hasil kerja tim tersebut kepada Bupati KDH Tingkat II Kepulauan Riau untuk dipertimbangkan dan diusulkan kepada pihak DPRD. Bupati Kepulauan Riau kemudian melalui suratnya tanggal 27 Oktober 1987, meneruskan hasil kerja tim tersebut ke DPRD Tingkat II Kepulauan untuk mendapat persetujuan dan pengesahan.
Ternyata pihak DPRD pun amat tanggap. Secara khusus dewan menunjuk Komisi C dan E untuk membahas usulan tersebut. Komisi C dan E, dalam satu tim gabungan dipimpin Sofnir Asgar, juga melakukan pertemuan (dengar pendapat) khusus dengan Tim Peneliti dan Pencari Fakta Harijadi Kota Tanjungpinang, bertempat di aula data Kotif Tanjungpinang. Selanjutnya, dengan Surat Keputusannya tanggal 14 November 1987, No. 17/1987-DPRD, maka DPRD Tingkat II Kepulauan Riau mengesahkan tanggal 6 Januari 1784 atau bersamaan dengan 29 Muharram 1204 H, sebagai hari jadi kota Tanjungpinang.
Oleh: Oleh:
Abdul Kadir Ibrahim
(Anggota Masyarakat Sejarahwan Kepulauan Riau,
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Provinsi Kepri dan Budayawan)






