Bedah Buku “Jikalau Laut Dinyalakan” Abdul Kadir Ibrahim dan Rida K Liamsi Jadi Narasumber

banner 120x600

DINAS Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau menggelar acara Bedah Buku Koleksi Perpustakaan Daerah “Jikalau Laut Dinyalakan” kumpulan puisi penyair Indonesia dari Kepulauan Riau.

Abdul Kadir Ibrahim salah satu narasumber membedah buku Rendra Setyadiharja, yang dipandu Zainal Takdir, di Studio Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, Tanjungpinang, pada Kamis 6 November 2025. k

banner 325x300

kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau, Herry Andrianto, SE, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bintan, Hasfi Andra,S.ST dan perwakilan mahassiswa dari beberapa peguruan tinggi di Tanjungpinang dan Bintan.

Menurut Kadis Perpus dan Kearsipan Provinsi Kepri, dilaksanakannya acara ini, dalam rangka meningkatkan budaya literasi serta memperluas wawasan  generasi muda terhadap karya tulis nasional dari Kepulauan Riau.

Bedah buku dilaksakan dalam rangka menyalakan lierasi di batas negeri. Acara ini dilaksanakan, sesuai dengan harapan para budayawan, seniman dan pencinta literasi, dalam upaya membangkitkan kepengarangan di Kepulauan Riau.

Sementara itu,  Abdul Kadir Ibrahim, yang lebih dikenal dengan panggilan Akib, menurut Rendra Setyadiharja, dalam makalahnya “Simbolisme Laut dan Identitas Melayu Bahari: Analisis Stilistika dan Ekokritik Puisi Abdul Kadir Ibrahim dalam Jikalau Laut Dinyalakan”, berpendapat bahwa puisi-puisi dan karya lainnya, berkait-erat dengan laut.

Akib, katanya, dikenal sebagai penyair , cerpenis dan budayawan Melayu yang aktif menulis tentang laut dan budaya Melayu. Selain itu, ia juga seorang ustadz (pendakwah) dan pejabat daerah yang menekuni bidang kebudayaan.

Bagi Akib dalam puisi-puisinya itu, memberi pemahaman tentang budaya Melayu Bahari. Bagaimana masyarakat Melayu pesisir khususnya di Riau, memelihara ekosistem laut agar kekayaan alam laut dapat diwariskan kepada generasi berikut. Nilai ini mecerminkan identitas Melayu Bahari yang inklusif dan menghormati alam laut sebagai sumber hidup.

Dari puisi-puisi Akib, Jikalau Laut Dinyalakan, tambah Rendra, laut dianggap sebagai “alamat perjuangan dan keberuntungan” dalam budaya Melayu, menunjukkan laut sebagai simbol kemakmuran serta tantangan  hidup.

Abdul Kadir Ibrahim sebagai anak jati Kepulauan Riau, tanbah Rendra, merupakan pengarang nasional dari Kepulauan Riau yang menulis banyak macam karya, di samping puisi, juga menulis buku novel, cerita pendek, esai bahasa, dan buku lainnya seperti sejarah, politik dan agama. Tidak banyak pengarang yang bisa menulis banyak macam karya, dan Dato’ Akib telah melahirkan banyak macam karya dimaksud.

“Saya sudah kenal dengan karya-karya Dato’ Akib ini sejak masih SMP kelas tiga. Salah satu karya beliau yang saya baca masih masa belia itu adalah Menjual Natuna. Karya-karya beliau adalah harta karun yang luar biasa. Suatu kebahagiaan dan sekaligus kebanggaan, hari ini dalam acara Bedah Buku yang dilaksanakan

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepulauan Riau, saya duduk bersama dengan beliau,” kata Dosen STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang tersebut.

Puisi Jikalau Laut Dinyalakan, lanjut Rendra, adalah salah satu represintasi bagaimana mengembalikan semangat bagi semua orang tentang laut, khususnya mengembalikan laut bagi orang Melayu. Laut merupakan jati diri bagi Orang Melayu, dan sekaligus orang Indonesia. Puisi-puisi dari kumpulan ini, menunjukkan puisi bukan sekedar puisi, tetapi mengandung nilai idiologis yang begitu besar terutama bagi orang Melayu.

Kumpulan puisi ini, dengan judul sebenarnya sebuah pertanyaan, Jikalau Laut Dinyalakan. “Nah, bagaimana menyalakan laut? Lautan sebagai sebuah latar belakang adalah simbolik yang dominan dalam sastra Melayu modern.

Dalam kaitan ini, sastrawan Melayu, khususnya Abdul Kadir Ibrahim, karya-karyanya sangat identik dengan kemaritiman. Kumpulan puisi ini, mengingatkan secara nyata kepada orang Melayu, bahwa laut haruslah diletak di depan, bagi masa depan, dan untuk kejayaan kehidupan,” kata Rendra.

Pada kesempatan itu, Renda juga menyinggung tentang karya-karya Akib, baik puisi maupun prosa tidak pernah gagal di tengah publik. Karya-karyanya selalu mendapat perhatian dan dikomentari oleh kritikus ataupun akademi sastra di Indonesia. “Sumbangan beliau terhadap perkembangan sastra, khususnya puisi sangat besar untuk Indonesia, khususnya untuk Kepulauan Riau. Beliau telah menginspirasi dunia kepengarangan di Kepulauan Riau,” tambah Rendra, yang dikenal sebagai salah seorang pemantun yang handal itu.

Pada bagian lain, jelas Renda, sosok Akib dalam kepengarangan, bukan hanya menulis karya sastra murni dalam rangka mengokohkan kepengarangannya tanah Melayu dan Indonesia, tetapi juga mempunyai kerisauan dan kepedulian yang luar biasa terhadap pertumbuh-kembangan sastra, baik di Kepulauan Riau maupun di Indonesia. Ini terbukti, adanya buku “Dermaga Sastra Indonesia” tentang kepengarangan Kepulauan Riau, yang terbit karena usaha dari kerisauan beliau terhadap kepengarangan Kepri di masa kini dan yang akan datang.

Sebagaimana dijelaskan pemandu acara, Zainal, bahwa buku kumpulan puisi “Jikalau Laut Dinyalakan” karya Abdul Kadir Ibrahim, terbit pertama pada Juni 2019 oleh penerbit Milaz Grafika, Tanjungpinang dengan Efilog ditulis oleh Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, yang dikenal sebagai Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Buku kumpulan puisi ini, adalah buku Pemenang Pilihan pada Sayembara Buku Puisi Indonesia tahun 2019, yang menjadikan Abdul Kadir Ibrahim mendapat Penghahrgaan Hari Puisi Indonesia tahun 2019.

Pada cetakan kedua, Julis 2019, buku kumpulan puisi ini juga disertai dengan Pengantar oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Antara lain Sutardji mengatakan, puisi-puisi Akib dalam kumpulan “Jikalau Laut Dinyalakan”, menunjukkan bahwa laut adalah khazanah kekayaan segalanya, yang di dalamnya ada “ikan-ikan” pengucapan, “ikan-ikan” persajakan, dan “ikan-ikan” keimanan.

Dari situlah apa yang ada di dalam laut ada di dalam diri sang penyair Abdul Kadir Ibrahim dan menjadi bersebati dengan puisi-puisinya. Karena Akib dan laut sudah besebati diri, karena mereka sudah sebadan.

Sementara budayawan Rida K Liamsi dalam indorsementnya untuk buku yang sama, menegaskan laut dan sejuta misterinya, adalah darah dan nadi puisi Abdul Kadir Ibrahim. Karena itu puisi-puisinya seperti deru ombak, seperti deru angin. Bernyanyi dan menggelegar, Bukan hanya pada diksi dan pilihan metaforanya, tapi juga dalam bentuk dan tifografinya.

Alam Melayu sangat beruntung punya seorang penyair bernama Abdul Kadir Ibrahim atau Akib karena dengan puisi-puisinya itulah Negeri Segantang Lada atau kawasan maritimnya yang dijuluki Segara Sakti Rantau Bertuah ini menjadi ingatan dan catatan perjalanan budaya Melayu di tengah pertembungan dengan budaya dunia lainnya.

Pada kesempatan itu, Abdul Kadir Ibrahim menjawab beberapa pertayaan dari mahasiswa yang ikut dalam acara bedah buku tersebut. Secara umum, Akib, panggilan akrab Abdul Kadir Ibrahim, menjelaskan tentang bagaimana perjalanan kepengarangannya sejak masih remaja.

Satu kuncinya, adalah membeli atau meminjam buku di perpustakaan dan membacanyanya. Baca saja semua buku, dan dengan membaca itulah pikiran menjadi tergelitik, berpikir, dan timbul bermacam-macam ide atau gagasan. “Dari sanalah kita bisa menulis, apakah puisi, prosa ataupuan karya ilmiah lainnya. Tetapi kalau tidak hoby, tidak terbiasa membeli buku dan membacanya, maka suatu yang mustahil seseorang bisa menjadi pengarang,” katanya.

Berkenaan dengan pertanyaan, dalam begitu kesibukan, karena Akib dikenal sebagai pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang, Akib menjejaskan untuk menulis tidak tergantung pada tempat dan waktu secara khusus. Di mana dan kapan saja ada waktu yang luang, berkesempatan, apakah di rumah, di waktu jam rehat kerja, di pelabuhan, di bandara, di kapal, di pesawat, di hotel atau di mana saja, maka bisa menulis.

“Bagi saya harus mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk menulis. Kalau mau menulis dengan waktu dan tempat yang khusus, saya pasti tidak bisa seperti itu, karena saya aparatur negara, dan juga banyak kegiatan lainnya di tengah masyarakat,” terang Akib.

Akib pada akhirnya menjelaskan, seseorang tampil jadi penulis karena ada dorongan dan kemauan untuk memberi pengabdian dan peran dalam rangka memaknai kata-kata bagi manusia, kemanuiaan dan kehidupan.

“Bagi saya, menulis itu termasuk mensyukuri Rahmat dan nikmat dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, yakni nikmat akal pikiran, diberikannya ide, gagasan ataupun ilham. Sebab itulah, mestilah ditulis sebagai tanda kesyukuran kepada Tuhan.

‘Menulislah anda, sebelum suatu hari datang seseorang hanya menulis nama anda saja, di batu nisan’ dan itu adalah akhir dari kehidupan di tengah masyarakat,” kata Akib sambil menambahkan dengan karya tulis membuat luas pergaulan dan banyak teman, bisa sampai ke luar ngeri dan juga dapat rezeki.

Penulis: SuebEditor: IGN