LINGGA – Potensi sumber air baku Sungai Jelutung di Desa Mentuda, Kabupaten Lingga, kembali menjadi perhatian BP Batam. Sumber air yang pernah dikaji pada 2016 dengan debit mencapai sekitar 4.000 liter per detik itu kini kembali masuk dalam pembahasan sebagai salah satu alternatif pasokan air untuk memenuhi kebutuhan Kota Batam.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Lingga dan tenaga ahli dari Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Dari pihak Pemerintah Kabupaten Lingga, pertemuan dihadiri Wakil Bupati Lingga Novrizal yang didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Direktur PDAM Tirta Lingga, serta Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA).
Sementara dari pihak BP Batam hadir tenaga ahli yang membahas potensi sumber air baku di wilayah Kabupaten Lingga.
Wakil Bupati Lingga Novrizal mengatakan, pertemuan tersebut berkaitan dengan potensi sumber air yang berada di kawasan Jelutung. Saat ini, pihak investor masih melakukan kajian terhadap potensi sumber air tersebut.
“Agenda pertemuan dengan TA BP Batam terkait air yang sumbernya di Jelutung. Saat ini pihak investornya sedang melakukan kajian,” ujar Novrizal.
Menurutnya, pembahasan tersebut masih berada pada tahap kajian. Pemerintah Kabupaten Lingga bersama perangkat teknis terkait mengikuti proses tersebut untuk melihat lebih jauh potensi sumber daya air yang dapat dikembangkan.
Potensi Sungai Jelutung sendiri bukanlah hal baru bagi BP Batam. Pada 2016, BP Batam sebelumnya pernah melakukan kajian terhadap potensi air baku yang berada di Sungai Jelutung, Desa Mentuda, Kabupaten Lingga.
Dalam kajian tersebut, debit air Sungai Jelutung disebut mencapai sekitar 4.000 liter per detik. Besarnya potensi debit tersebut menjadikan Sungai Jelutung memiliki kapasitas yang cukup signifikan apabila dikembangkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan regional.
Kini, setelah sekitar satu dekade, potensi tersebut kembali dibicarakan seiring meningkatnya kebutuhan air di Batam.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra sebelumnya mengakui penyediaan air di Batam menghadapi tantangan karena kebutuhan terus meningkat, sementara sumber air baku yang tersedia memiliki keterbatasan.
Batam selama ini mengandalkan tujuh waduk sebagai sumber air baku. Namun, pertumbuhan penduduk dan investasi membuat kebutuhan air terus meningkat sehingga BP Batam mulai menyiapkan sejumlah alternatif untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.
Salah satu opsi yang disebut dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI bersama BP Batam pada 17 September 2026 adalah mendatangkan air dari Kabupaten Lingga.
Li Claudia menyebut rencana tersebut masuk dalam skenario jangka panjang dan saat ini investor diminta melakukan kajian lebih lanjut.
Bagi Kabupaten Lingga, rencana tersebut masih berada pada tahap awal. Kajian menjadi bagian penting untuk mengetahui secara lebih rinci potensi sumber air, aspek teknis, kebutuhan infrastruktur, hingga kemungkinan pengembangannya sebagai sumber air baku antardaerah.
Besarnya potensi Sungai Jelutung dengan debit yang pernah tercatat sekitar 4.000 liter per detik membuat sumber air tersebut memiliki nilai strategis. Namun, realisasi pemanfaatannya tetap bergantung pada hasil kajian serta pembahasan lebih lanjut antara pihak-pihak terkait.
Novrizal mengatakan Pemerintah Kabupaten Lingga mengikuti proses tersebut dan melihat potensi sumber daya air sebagai salah satu aset daerah yang dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Jika kajian dan pembahasan ke depan menunjukkan kelayakan, potensi Sungai Jelutung bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan air di Batam, tetapi juga membuka ruang kerja sama dan investasi antara daerah dalam pengelolaan sumber daya air.
Dengan demikian, Sungai Jelutung yang sejak 2016 pernah masuk dalam kajian BP Batam kini kembali menjadi perhatian. Di tengah kebutuhan air Batam yang terus berkembang, sumber air dari Desa Mentuda berpotensi menjadi bagian dari pembicaraan lebih besar mengenai ketahanan air di wilayah Kepulauan Riau.
(Adhe Bakong)






