Pagi itu saya dan Mahmud sedang duduk di pinggir pantai Taman Gurindam 12 Tanjungpinang, orang-orang Tanjungpinang lebih suka menyebutnya kawasan itu dengan nama tepi laut.
Ya tepi laut yang pinggir pantainya itu adalah sebuah pinggir jalan karena taman yang dibangun dengan cara mereklamasi, sederhana kawan saya Mahmud menyebutnya adalah dengan cara menimbun laut dengan tanah sepanjang 2,5 kilometer dan disepanjang itu pula dibatasi dengan jalan dua arah.
Taman Gurindam 12 itu sekarang dijadikan tempat masyarakat berolahraga biasanya akan ramai setiap hari Sabtu dan Minggu, begitu juga malam hari kawasan itu dijadikan tempat rekreasi.
Ada gedung Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau tersergam disana ada juga gedung Dekranasda tegak berdiri disitu walaupun lebih banyak bangunan pedagang kaki lima yang bentuknya abstrak bahkan absurd melintang pukang sepanjang jalan itu apalagi ketika malam tiba. Orang berjualan merata-rata disana.
Belum lagi ada warung berbentuk kontainer yang berjejer tak rapi, pernah ada seorang wisatawan dari Malaysia bersama saya dia pikir itu adalah “tandas” alias WC tapi kenapa banyak betul jumlahnya.
Sebelum pagi itu sebenarnya saya baru saja bertemu dengan kawan saya Mahmud tapi pagi ini saya pikir saya harus bertemu dengan dia lagi karena itu kami berjanji bertemu di Taman Gurindam sambil menyaksikan perlombaan gerak jalan 45 kilometer memeriahkan HUT kemerdekaan yang ke 80 tahun.
Kalau mau disamakan dengan umur manusia, HUT ke 80 tahun bangsa besar ini sudah lumayan tua juga usianya, di usia seperti itu kebanyakan sudah mulai banyak yang pikun, meskipun dengan hal-hal yang besar. Jalan mulai berat, respon melambat.
Negeri ini memang besar wilayahnya, besar jumlah penduduknya tapi besar juga masaalahnya dan itu membuat besar pula rasa risau hati saya sejak kemarin malam, mengenang nasib bangsa ini.
“Nak nonton gerak jalan ya Tok?”, tanya Mahmud dengan nada agak malas.
“Ya Mud, dah 5 tahun gerak jalan 45 km ini tak dibuat, baru tahun ini diadakan lagi, padahal kalau saya hitung usia gerak jalan ini sudah lebih 40 tahun dilaksanakan di setiap HUT kemerdekaan tapi sejak 5 tahun yang lalu ditiadakan”, jawab saya datar.
“Oh soal perdebatan peserta bisa sembahyang Subuh atau tidak itu ya Tok ?”, balas Mahmud lagi sambil menggumam.
Saya tak segera menjawabnya, saya hanya minta ketegasannya saja besok setelah nonton lomba baris 45 km itu dia mau ikut saya ngopi atau tidak?
Bukan main cepat Mahmud menjawab seperti peserta cerdas cermat dia langsung memastikan dimana titik koordinat lokasi pertemuan kami, ya, di kursi taman antara gedung LAM dan gedung Dekranasda.
Posisi yang kalau dipandang dari kejauhan akan tampak gedung Gonggang yang seperti sedang kena penyakit gula, tak terurus, mungkin sedang diet ketat, lemah tak bertenaga. Ada juga hamparan benda macam sampan tapi bukan sampan macam rumah melayu tapi bukan juga bukan rumah melayu. Katanya bantuan untuk UMKM tapi saya tak paham juga kenapa bentuknya begitu.
Tak lama berselang dari kejauhan tampak peserta gerak jalan 45 km mulai melintas menuju gari finish.
“Gerak jalan 45 kilometer ini bukan sekedar perlombaan olahraga saja Tok atau hanya sebuah perayaan hari kemerdekaan tapi lebih dari itu dia adalah sebuah pesta tahunan yang menjadi tempat mereka dari generasi ke generasi menunjukkan identitas diri”, ujar Mahmud sambil memandang arus lalu lalang manusia, sorak sorai penonton dan supporter sepanjang jalan penuh sesak sepeda motor dan mobil pengiring yang lebih banyak dari jumlah pesertanya.
“Ya juga ya Mud, ini bukan hanya sekedar aba-aba maju jalan saja atau kemudian mereka bernyanyi lagu-lagu perjuangan tapi ini seperti
laluan panjang sepanjang 45 kilometer itu yang ingin mereka katakan bahwa inilah kami, inilah kampung kami, kami ikut dengan semangat kebersamaan dan gotong royong”, kawan saya serius mendengar ucapan saya itu sambil mengangguk-angguk kepalanya seperti mengikuti irama langkah peserta.
“Laluan itu yang semakin hari semakin hilang malah yang mereka terima hanyalah balasan ungkapan yang merendahkan keberadaan bahkan dibilang “tolol”, akhirnya mereka membuat jalan dengan cara mereka sendiri”, ucap Mahmud ketika kami sudah tiba di kedai kopi.
Saya memang dari kemarin gelisah, saya menyaksikan di media sosial apakah tidak ada lagi adab diantara kita atau apakah memang sudah sesakit itu akhirnya kita berbuat diluar akan sehat kita, mengamuk, menjarah, membakar, melawan siapa saja yang menahan seolah kita lupa bahwa hidup ini ada batasannya.
Kita lupa kalau kita tak bisa hidup sendiri, kita perlu kawan, saudara, tetangga, pendukung bahkan mereka yang diam-diam ternyata mengagumi kita, tak bisa kita tolak tapi jangan kita palak jangan kita hina.
Saya bilang pada Mahmud, “Beruntung negeri kita ini punya Gurindam 12, kita pernah membacanya atau dibacakan, bersyukur kita pernah mempelajari dan menghayatinya dan menerapkan dalam keseharian kita, “Tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan, bukanlah manusia tetapi syaitan”. Mahmud mendengarnya serius.
“Namanya aja Taman Gurindam 12 tapi tak berjumpa kita dengan gurindamnya ya Tok”, Mahmud menyela.
Saya tak tahu apa yang terjadi di Jakarta tahun 1998, tapi saya tak mau itu terulang walaupun kawan saya Mahmud pernah bilang, reformasi itu sudah 27 tahun berlalu, sedang Orde Baru 32 tahun berkuasa akhirnya tumbang juga dan orde lama lama itu 27 tahun juga berkuasa, kita sedang berada dalam rentang waktu itu.
“Saya sebenarnya harus ke Jakarta Mud, berjumpa dengan seorang kawan adalah ikhtiar yang sedang kami kerjakan”, ungkap saya pada Mahmud.
“Bila tu awak berangkat?”, tanya Mahmud kepada saya.
“Entahlah, Mud….kata kawan di Jakarta itu, tunggu situasi aman”, begitu saya menjelaskan kepada Mahmud.
Mahmud diam sayapun terdiam, dalam pikir kami, apa setidak aman beginikah negeri ini?
“Sudahlah Tok, tunggu aman saja, kita cari aman dan main aman itu lebih baik”, ucap Mahmud sambil tersenyum.
“Main aman yang macam mana?”, tanya saya.
Banyak orang mengira seseorang itu dalam posisi nyaman dan aman padahal setiap malam dia terbolak balek macam judul lagu itu memikirkan bagaimana mengamankan nasib dirinya, itu namanya cari aman tapi kemudian coba-coba pula main kayu, coba pula merayu-rayu, itu coba main aman, tapi siapa sangka orang sehebat Nadiem Makariem akhirnya tak aman dan kemudian diamankan, apalagi kawan itu Tok…
Oleh: Husnizar Hood
