Oleh: Adhe Bakong / Jurnalis Muda
Dalam naskhah sejarah tanah air yang penuh liku dan luka, tersurat satu babak pilu yang kerap berulang: ketika rakyat menjerit meminta keadilan, justru hulubalang negeri yang dihantar ke medan laga untuk menghadang suara nadi bangsanya sendiri.
Maka tercenganglah bumi pertiwi, menyaksikan anak-anaknya bertikai.
yang satu berteriak menuntut hak, yang satu lagi diperintah membungkam jeritan itu dengan tameng dan pentungan.
Tidakkah kita insaf, bahwa hulubalang dan rakyat bersumber dari tanah dan darah yang sama?
Bahwa yang satu menggenggam senjata bukan karena kebencian, tetapi karena titah; dan yang satu menggenggam spanduk bukan untuk makar, tetapi demi hak yang diinjak-injak?
Wahai hulubalang negeri, engkau bukan musuh rakyat.
Engkau dibesarkan oleh keringat ibu-ibu di desa, oleh tangan petani yang tak kenal henti menggemburkan tanah, oleh nelayan yang menantang badai demi sesuap nasi.
Engkau bukan benteng para pembesar yang lalim, engkau pelindung rakyat yang marhaen.
Musuh rakyat bukanlah engkau, wahai penjaga gerbang negara,
melainkan mereka yang bersemayam di singgasana, namun tak lagi memandang ke bawah.
Mereka yang tidur nyenyak dalam pendingin hawa, sementara rakyat bergelimpang dalam peluh dan lapar.
Mereka yang menyalahgunakan kuasa, menyelewengkan amanah, dan menjadikan hukum sebagai alat dagang.
Dalam negeri yang elok katanya berdemokrasi, rakyat tak lagi dipandang sebagai tuan.
Suara mereka dijadikan bahaya, langkah mereka diawasi, dan jeritan mereka dibungkam dengan gas dan borgol.
Padahal, demokrasi lahir bukan dari istana, tetapi dari darah dan air mata rakyat yang tak henti-henti berjuang.
Kini, demokrasi telah renta—napasnya sesak, jantungnya lemah.
Namun jangan biarkan ia mati.
Kerana yang mampu menghidupkannya kembali hanyalah rakyat sendiri, bersama para penjaganya yang setia—engkau, wahai hulubalang negeri.
Bangkitlah kesedaran di antara kita,
bahwa yang sejati bukanlah pertentangan antara rakyat dan aparat,
tetapi antara kebenaran dan kebatilan,
antara keadilan dan ketamakan,
antara amanah dan pengkhianatan.
Bila rakyat dan hulubalang bersatu,
tak akan ada singgasana yang cukup tinggi untuk berlindung dari keadilan.
Tak akan ada tembok istana yang cukup tebal untuk menahan gelombang suara kebenaran.
Wahai hulubalang negeri, jangan kau biarkan dirimu dijadikan tombak oleh tangan durjana.
Kerana ketika api kemarahan rakyat menyala, tak hanya istana yang akan terbakar,
tetapi seluruh halaman negeri akan turut hangus.
Peliharalah rakyat, kerana engkaulah tameng terakhir mereka.
Dan ingatlah selalu,
musuh rakyat bukan aparat,
tetapi kekuasaan yang khianat.






