Utama  

Musuh Rakyat Bukan Aparat

banner 120x600

Oleh: Adhe Bakong / Jurnalis Muda

‎Dalam naskhah sejarah tanah air yang penuh liku dan luka, tersurat satu babak pilu yang kerap berulang: ketika rakyat menjerit meminta keadilan, justru hulubalang negeri yang dihantar ke medan laga untuk menghadang suara nadi bangsanya sendiri.

banner 325x300

‎Maka tercenganglah bumi pertiwi, menyaksikan anak-anaknya bertikai.

‎yang satu berteriak menuntut hak, yang satu lagi diperintah membungkam jeritan itu dengan tameng dan pentungan.

‎Tidakkah kita insaf, bahwa hulubalang dan rakyat bersumber dari tanah dan darah yang sama?

‎Bahwa yang satu menggenggam senjata bukan karena kebencian, tetapi karena titah; dan yang satu menggenggam spanduk bukan untuk makar, tetapi demi hak yang diinjak-injak?

‎Wahai hulubalang negeri, engkau bukan musuh rakyat.

‎Engkau dibesarkan oleh keringat ibu-ibu di desa, oleh tangan petani yang tak kenal henti menggemburkan tanah, oleh nelayan yang menantang badai demi sesuap nasi.

‎Engkau bukan benteng para pembesar yang lalim, engkau pelindung rakyat yang marhaen.

‎Musuh rakyat bukanlah engkau, wahai penjaga gerbang negara,

‎melainkan mereka yang bersemayam di singgasana, namun tak lagi memandang ke bawah.

‎Mereka yang tidur nyenyak dalam pendingin hawa, sementara rakyat bergelimpang dalam peluh dan lapar.

‎Mereka yang menyalahgunakan kuasa, menyelewengkan amanah, dan menjadikan hukum sebagai alat dagang.

‎Dalam negeri yang elok katanya berdemokrasi, rakyat tak lagi dipandang sebagai tuan.

‎Suara mereka dijadikan bahaya, langkah mereka diawasi, dan jeritan mereka dibungkam dengan gas dan borgol.

‎Padahal, demokrasi lahir bukan dari istana, tetapi dari darah dan air mata rakyat yang tak henti-henti berjuang.

‎Kini, demokrasi telah renta—napasnya sesak, jantungnya lemah.

‎Namun jangan biarkan ia mati.

‎Kerana yang mampu menghidupkannya kembali hanyalah rakyat sendiri, bersama para penjaganya yang setia—engkau, wahai hulubalang negeri.

‎Bangkitlah kesedaran di antara kita,

‎bahwa yang sejati bukanlah pertentangan antara rakyat dan aparat,

‎tetapi antara kebenaran dan kebatilan,

‎antara keadilan dan ketamakan,

‎antara amanah dan pengkhianatan.

‎Bila rakyat dan hulubalang bersatu,

‎tak akan ada singgasana yang cukup tinggi untuk berlindung dari keadilan.

‎Tak akan ada tembok istana yang cukup tebal untuk menahan gelombang suara kebenaran.

‎Wahai hulubalang negeri, jangan kau biarkan dirimu dijadikan tombak oleh tangan durjana.

‎Kerana ketika api kemarahan rakyat menyala, tak hanya istana yang akan terbakar,

‎tetapi seluruh halaman negeri akan turut hangus.

‎Peliharalah rakyat, kerana engkaulah tameng terakhir mereka.

‎Dan ingatlah selalu,

musuh rakyat bukan aparat,

‎tetapi kekuasaan yang khianat.