Ada perjalanan hidup yang selesai ketika seseorang menutup usia. Namun, ada pula perjalanan yang meninggalkan jejak lebih panjang dari usia pemiliknya. Jejak itulah yang coba direkam dalam buku Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood.
Buku biografi yang diterbitkan The Hood Foundation pada Oktober 2026 ini bukan semata-mata bercerita tentang perjalanan seorang Huzrin Hood. Lebih dari itu, buku ini berupaya mengabadikan dinamika kehidupan, pergulatan politik, perjuangan, serta pengabdian seorang tokoh yang namanya melekat dalam perjalanan sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Diluncurkan di Balai Adat Seri Indera Sakti, Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, pada 30 Oktober 2026, buku ini hadir bertepatan dengan momentum ulang tahun ke-70 Huzrin yang jatuh pada 27 Oktober 2026.
Judulnya menarik untuk direnungkan. Ketika Langkah Menjadi Sejarah seolah mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Terkadang, ia bermula dari keberanian seseorang mengambil langkah, mempertahankan keyakinan, menghadapi risiko, dan terus bergerak meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.
Disusun oleh Hardi S Hood dan M. Natsir Tahar, dengan Husnizar Hood sebagai penyunting, buku ini memiliki struktur penceritaan yang cukup menarik.
Delapan bab menjadi tulang punggung narasi, dimulai dari Asal Muasal: Dari Mana Semua Bermula, kemudian bergerak melalui berbagai fase kehidupan, hingga berakhir pada Warisan Jejak: Yang Tersisa dari Sebuah Perjalanan.
Susunan tersebut memperlihatkan upaya penulis membawa pembaca menelusuri kehidupan Huzrin secara bertahap. Tidak langsung berbicara tentang kekuasaan dan politik, tetapi dimulai dari akar kehidupan, lingkungan, perjalanan, serta proses yang membentuk karakter seorang tokoh.
Bab-bab berikutnya membawa pembaca memasuki ruang perjuangan yang lebih kompleks. Ada fase membuka jalan, membangun hubungan, membaca dinamika, meraih kekuasaan, menghadapi takdir, hingga kembali menemukan akar peradaban.
Pilihan judul setiap bab yang cenderung metaforis memberikan nuansa tersendiri. Penulis tampaknya ingin menghadirkan perjalanan hidup bukan sebagai rangkaian tanggal dan jabatan, melainkan sebagai pengalaman manusia yang penuh persimpangan.
Pembaca diajak melihat Huzrin bukan hanya dari posisi dan peran publiknya, tetapi juga sebagai manusia yang mengalami keberhasilan, kegagalan, pujian, kritik, dan berbagai ujian kehidupan.
Salah satu dimensi penting yang membuat buku ini relevan bagi masyarakat Kepri adalah keterkaitannya dengan sejarah pembentukan provinsi tersebut.
Huzrin Hood dikenal sebagai salah satu tokoh utama yang terlibat dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Perjalanan itu bukan proses yang berlangsung dalam waktu singkat. Ada dinamika politik, perbedaan pandangan, konsolidasi kekuatan, serta perjuangan panjang yang menjadi bagian dari perjalanan daerah ini.
Pengalaman Huzrin sebagai Bupati Kepulauan Riau periode 2000–2003 juga menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya.
Karena itu, buku ini memiliki nilai dokumentasi yang melampaui kepentingan personal. Ia dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami bahwa berdirinya Provinsi Kepri merupakan hasil dari proses sejarah yang melibatkan banyak tokoh dan elemen masyarakat.
Kepri yang dikenal sebagai daerah kepulauan dengan posisi strategis di perbatasan negara memiliki perjalanan sejarah dan identitas yang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para pendahulunya.
Membaca perjalanan Huzrin dalam konteks tersebut berarti ikut menelusuri salah satu bagian dari mozaik sejarah Kepri.
Namun, sejarah tentu tidak pernah menjadi milik satu orang. Perjuangan pembentukan sebuah provinsi merupakan kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, nilai penting buku ini akan semakin kuat apabila dibaca sebagai salah satu kesaksian dan perspektif personal dari perjalanan panjang tersebut.
Hal menarik lainnya terlihat dari refleksi Huzrin yang ditempatkan dalam bagian awal buku, khususnya tulisan berjudul 70 Tahun, Apa yang Sudah Saya Berikan?
Pertanyaan tersebut menjadi semacam pintu masuk untuk memahami bagaimana seorang tokoh memandang perjalanan hidupnya setelah melewati tujuh dekade.
Huzrin tidak menempatkan dirinya sebagai manusia tanpa cela. Ia justru mengakui pernah melakukan kesalahan, mengalami kegagalan, menerima kritik, bahkan menghadapi berbagai ujian.
“Saya bukanlah manusia yang sempurna. Saya pernah benar, tetapi juga pernah salah. Pernah berdiri tegak, tetapi pernah pula jatuh dan harus bangkit kembali. Pernah mendapatkan pujian, tetapi tidak sedikit pula menerima kritik, cercaan, bahkan menghadapi berbagai ujian dan cobaan,” ungkapnya.
Pernyataan ini memberikan sisi humanis dalam sebuah buku biografi tokoh publik. Sebab, perjalanan seorang tokoh tidak semestinya hanya diukur dari keberhasilan yang pernah dicapai, tetapi juga dari bagaimana ia menghadapi kegagalan dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
Huzrin juga menegaskan bahwa buku tersebut bukan dimaksudkan untuk mengagungkan dirinya.
“Buku ini janganlah dipandang sebagai sebuah buku untuk mengagungkan seorang Huzrin Hood. Saya berharap buku ini justru dibaca sebagai catatan perjalanan seorang anak yang mencoba memberikan arti bagi hidupnya, bagi tanah kelahirannya, bagi masyarakatnya, dan bagi masa depan negeri yang dicintainya,” katanya.
Refleksi tersebut menjadi salah satu bagian yang patut diperhatikan pembaca. Sebuah biografi idealnya tidak hanya menghadirkan kisah keberhasilan, tetapi juga membuka ruang untuk memahami sisi-sisi kehidupan yang lebih utuh.
Kehadiran bagian Mereka Bicara: Suara-Suara yang Menjadi Saksi juga menjadi elemen penting dalam buku ini.
Bagian tersebut menghadirkan testimoni sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M. Hendropriyono, Ustaz Abdul Somad, mantan Danjen Kopassus Muchdi PR, Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Guru Besar Universitas Batam Soerya Respationo, mantan Gubernur Riau Saleh Djasit, serta mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah dan Nurdin Basirun.
Kehadiran berbagai kesaksian tersebut memperkaya perspektif pembaca terhadap sosok Huzrin Hood. Perjalanan seorang tokoh tidak hanya dapat dilihat dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga melalui pandangan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan perjalanan hidup dan pengabdiannya.
Secara konseptual, bagian ini penting karena biografi tidak berhenti pada narasi autobiografis. Ada ruang bagi ingatan dan kesaksian pihak lain untuk melengkapi gambaran tentang seorang tokoh.
Meski demikian, kesaksian tersebut tentu tetap perlu dibaca secara kritis sebagai pandangan personal masing-masing narasumber.
Buku ini juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga ingatan sejarah. Dalam perspektif kebudayaan, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri, Herry Andrianto, menilai perjalanan hidup dan perjuangan tokoh daerah merupakan bagian dari memori kolektif yang perlu dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Pandangan tersebut relevan dengan kehadiran buku ini. Sebab, sejarah daerah tidak cukup hanya disampaikan melalui cerita lisan atau peringatan seremonial. Dokumentasi tertulis diperlukan agar pengalaman, pemikiran, dan dinamika perjuangan masa lalu dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Pesan filosofis pada sampul belakang buku semakin mempertegas semangat tersebut.
“Orang Melayu mengajarkan, ‘kalau takut dilambung ombak, jangan berumah di tepi pantai.’ Begitulah saya memandang perjuangan. Selama Allah masih memberi napas, langkah tidak boleh berhenti. Maju adalah pilihan, berbuat adalah kewajiban, dan berhenti berarti kehilangan makna kehidupan,” demikian pesan Huzrin.
Ungkapan tersebut terasa dekat dengan karakter masyarakat Melayu yang hidup berdampingan dengan laut. Ombak menjadi metafora tantangan, sementara pantai menggambarkan ruang kehidupan yang menuntut keberanian dan keteguhan.
Pada akhirnya, Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood merupakan upaya merekam perjalanan seorang tokoh sekaligus menyimpan sebagian ingatan tentang sejarah Kepri.
Tentu, sebuah biografi tetap memiliki sudut pandang dan keterbatasan. Ia bukan satu-satunya sumber untuk memahami sejarah. Karena itu, pembaca tetap perlu menempatkan kisah di dalamnya berdampingan dengan dokumen, kesaksian, dan catatan sejarah lainnya.
Namun, satu hal yang patut diapresiasi adalah keberanian menghadirkan perjalanan hidup dalam bentuk dokumentasi tertulis. Sebab, sejarah yang tidak dicatat berisiko hanya menjadi cerita yang perlahan terlupakan.
Tujuh puluh tahun Huzrin Hood akhirnya menjadi momentum untuk bertanya, bukan hanya tentang apa yang telah ia lalui, tetapi juga tentang apa yang dapat diwariskan dari perjalanan tersebut. Langkah dan pengabdian yang memberi arti bagi masyarakat akan selalu memiliki tempat dalam ingatan sejarah. (Moel Akhyar)
