Dari Ombak Selatan hingga Panggung Pers Nasional: Catatan Perjalanan Jurnalis Kepri Menembus Ribuan Kilometer
Oleh: Adhe Bakong
Ada perjalanan yang tidak hanya membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Ada perjalanan yang mempertemukan manusia dengan pengalaman baru, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan cerita yang jauh lebih panjang dari jarak yang ditempuh.
Bagi seorang jurnalis, perjalanan bukan sekadar berpindah lokasi. Setiap langkah adalah ruang belajar, tempat bertemu manusia, memahami kehidupan, dan menemukan cerita yang mungkin tidak pernah tertulis jika kita hanya duduk di ruang redaksi.
Perjalanan itu dimulai pada 15 Agustus 2026.
Dari Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, saya berangkat menuju Batam bersama Ruslan, Ketua Pengda IJTI Kepri Perwakilan Lingga yang juga wartawan iNews Batam. Kami membawa semangat yang sama: mengikuti rangkaian kegiatan di Jakarta, termasuk agenda Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun IJTI ke-28 di Dewan Pers.
Dari Lingga, perjalanan menuju pusat pers nasional bukanlah perjalanan singkat. Ada laut yang harus diseberangi, ada ribuan kilometer jalan yang harus dilalui, dan ada tenaga yang harus dipersiapkan.
Setibanya di Batam, kami bergabung dengan rombongan jurnalis IJTI Kepulauan Riau yang dipimpin oleh Kak Oca, wartawan senior MNC Group yang juga Ketua IJTI Pengda Kepri sekaligus Ketua IJTI Korwil Sumatra.
Bersama dua unit mobil Toyota, perjalanan panjang itu dimulai. Dalam rombongan tersebut ada Rizky Kurniawan dari TVRI, Bobby Tan dari Batamline, Cahaya dari Batam Pos, Egi Wisnu dari Nusantara TV, Eko dari Tribun Batam, Bagas dari Metro TV, Febriansyah dari Beritasatu TV, Petrus dari MDTV Batam, Maming dari MDTV Tanjungpinang, Alfiansyah dari iNews Batam, Panca dari Warta Ekonomi, serta Agus Siswanto dari CNN Indonesia yang akrab disapa Pak Dir.
Dari Batam, kami menyeberang menuju Kuala Tungkal menggunakan kapal Ro-Ro.
Saat kapal perlahan meninggalkan pelabuhan, angin selatan menyambut perjalanan kami. Tiupan angin terasa cukup ramah, namun gelombang laut membuat kapal bergoyang mengikuti irama ombak.
Laut hari itu memberikan pengalaman tersendiri. Kapal yang terus bergerak membuat beberapa penumpang mulai merasakan mabuk laut. Tidak terkecuali saya dan Kak Oca.
Di tengah alunan ombak selatan yang cukup menguji tubuh, Kak Oca memilih berdamai dengan keadaan. Beliau tidak larut dalam rasa tidak nyaman, tetapi justru membuka cerita.
Cerita tentang perjalanan panjangnya selama menekuni dunia jurnalistik. Tentang bagaimana seorang wartawan harus beradaptasi dengan berbagai daerah, bertemu banyak karakter manusia, menghadapi tantangan lapangan, dan tetap bertahan menjaga idealisme profesi.
Di tengah suara mesin kapal, angin laut, dan gelombang yang terus mengayun, pengalaman hidup Kak Oca menjadi teman perjalanan yang berharga.
Perlahan rasa mabuk laut yang saya rasakan mulai berkurang. Bukan karena laut berhenti bergelombang, tetapi karena perhatian saya beralih pada cerita dan pengalaman seorang senior yang telah lebih dulu menapaki jalan panjang dunia jurnalistik.
Malam itu saya belajar, seorang pemimpin perjalanan tidak hanya bertugas menunjukkan arah.
Kadang, ia juga hadir untuk menguatkan hati orang-orang yang berjalan bersamanya.
Setelah tiba di Kuala Tungkal, perjalanan kembali dilanjutkan melalui jalur darat.
Rute panjang terbentang di hadapan kami. Dari Kuala Tungkal menuju Jambi ditempuh sekitar 4 jam perjalanan. Kemudian perjalanan berlanjut menuju Palembang selama kurang lebih 8 jam, lalu Palembang menuju Lampung sekitar 4 jam.
Dari Bakauheni, kami kembali menyeberang menuju Merak, Banten, dengan perjalanan laut sekitar 2 jam. Setelah itu, perjalanan terakhir menuju Jakarta ditempuh kurang lebih 1,5 jam, tergantung kondisi lalu lintas.
Perjalanan panjang itu melelahkan, tetapi kebersamaan membuat semuanya terasa lebih ringan.
Di dalam kendaraan, kami tidak hanya membahas pekerjaan. Ada cerita tentang pengalaman liputan, dinamika media, kehidupan pribadi, hingga candaan yang membuat perjalanan puluhan jam terasa singkat.
Dua mobil yang membawa kami bukan hanya kendaraan.
Ia menjadi ruang diskusi, ruang belajar, dan ruang persaudaraan.
Setibanya di Jakarta, agenda utama kami adalah mengikuti rangkaian kegiatan di Dewan Pers, termasuk peringatan HUT IJTI ke-28.
Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi para jurnalis televisi Indonesia tentang perjalanan organisasi, tantangan dunia penyiaran, serta pentingnya menjaga profesionalisme dan etika jurnalistik.
Bagi saya yang datang dari Kabupaten Lingga, sebuah wilayah kepulauan di Kepulauan Riau, berada di tengah insan pers dari berbagai daerah memberikan pengalaman yang berharga.
Semangat jurnalistik juga tumbuh dari daerah-daerah kecil, dari pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan, tetapi tetap memiliki komitmen menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Dalam perjalanan ini, kami juga mendapat kesempatan bersilaturahmi dengan sejumlah mitra kerja dan sahabat lama para senior kami di batam.
Kami bertemu dengan Kapolres Batang Hari, Kepala Bea Cukai Palembang, serta Kepala Imigrasi Palembang.
Bagi sebagian orang, mereka mungkin hanya dikenal sebagai pejabat yang pernah bertugas di suatu wilayah. Namun bagi insan pers Batam, mereka memiliki cerita yang lebih dalam.
Sebelumnya mereka pernah bertugas di Batam dan bukan hanya menjadi mitra strategis bagi para jurnalis, tetapi juga telah membangun hubungan emosional dan persahabatan.
Hubungan itu ternyata tidak berhenti ketika tugas berpindah tempat.
Kami mendapat sambutan yang sangat baik. Setelah perjalanan panjang melewati laut dan daratan, kami dipersilakan singgah, beristirahat, dan meluruskan badan di rumah dinas.
Sebuah sambutan sederhana, tetapi memberikan arti besar bagi kami yang sedang menempuh perjalanan jauh.
Di sana kami menemukan bahwa hubungan baik yang dibangun dengan ketulusan akan selalu memiliki tempat untuk kembali.
Setelah rangkaian kegiatan selesai, perjalanan kami berlanjut menuju Yogyakarta.
Kami menikmati suasana Jalan Malioboro, mencicipi kuliner khas Jogja, dan mengabadikan momen kebersamaan di kota yang dikenal sebagai pusat budaya tersebut.
Kami juga menyempatkan diri menuju Candi Prambanan. Namun sayangnya, kami tiba sekitar pukul 17.30 WIB, ketika kawasan wisata sudah ditutup untuk umum.
Meski tidak sempat masuk dan melihat kemegahan candi dari dekat, perjalanan menuju tempat bersejarah itu tetap menjadi bagian dari cerita yang tidak terlupakan.
Dari Yogyakarta, langkah kami berlanjut menuju Lembang, Jawa Barat.
Udara sejuk pegunungan dan lanskap Gunung Tangkuban Perahu menjadi latar perjalanan berikutnya.
Di tempat itu, saya mendapatkan pengalaman sederhana namun berkesan.
Karena di Kabupaten Lingga tidak terdapat wisata berkuda, rasa penasaran membuat saya mengajak Ruslan mencoba menunggang kuda. Saya membujuknya untuk menemani berkeliling beberapa titik wisata dengan kuda.
Sebuah pengalaman kecil, tetapi memberikan kebahagiaan tersendiri.
Terkadang, perjalanan terbaik bukan selalu tentang hal besar. Justru pengalaman sederhana yang belum pernah kita lakukan sering menjadi kenangan yang paling lama tersimpan.
Ketika seluruh perjalanan ini kembali saya renungkan, saya menyadari bahwa yang paling berharga bukan hanya kota-kota yang kami lewati.
Bukan pula berapa ribu kilometer yang telah ditempuh.
Yang paling berharga adalah manusia yang kami temui dan orang-orang yang berjalan bersama.
Perjalanan dari Lingga menuju Jakarta, lalu berlanjut ke Yogyakarta dan Jawa Barat, mengajarkan bahwa Indonesia terlalu luas untuk hanya dipahami dari balik layar televisi atau halaman berita.
Seorang jurnalis harus turun ke jalan, merasakan perjalanan, bertemu banyak orang, dan melihat langsung wajah negeri ini.
Karena pada akhirnya, seorang jurnalis tidak hanya menulis cerita orang lain.
Kadang, ia juga harus menjalani perjalanan panjang agar memiliki cerita untuk dirinya sendiri.
Dari Lingga kami berangkat membawa nama daerah.
Dalam perjalanan kami menemukan persaudaraan.
Dan ketika kembali, kami membawa pulang cerita.
(Adhe Bakong)
