LINGGA – Ada perjalanan yang dimulai dari lapangan sederhana, dari kecintaan yang tak pernah padam terhadap sepak bola. Ada pula mimpi yang tumbuh perlahan, melewati berbagai persimpangan, sebelum akhirnya membawa seseorang menyeberangi batas negeri.
Namanya mungkin belum sebesar nama-nama pelatih yang menghiasi panggung sepak bola nasional. Namun bagi dunia sepak bola Dabo Singkep dan Kepulauan Riau, perjalanan Ardana menyimpan cerita tersendiri.
Mantan pemain profesional yang pernah berdiri di bawah mistar PSMS Medan itu kini mendapat kesempatan baru di negeri jiran. Pada 2026, Ardana dipercaya menjadi pelatih kiper Panchor Murai FC, klub yang berlaga di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Brunei, Brunei Super League (BSL).
Namun, kesempatan tersebut tidak datang tiba-tiba.
Ada Dabo Singkep di awal perjalanan itu.
Setelah mengakhiri karier sebagai pemain profesional, Ardana tidak benar-benar meninggalkan sepak bola.
Kecintaannya terhadap olahraga tersebut justru membawanya mengambil kursus kepelatihan hingga memperoleh lisensi kepelatihan.
Di Negeri Bunda Tanah Melayu itu, Ardana mulai mencoba membangun sepak bola dari bawah. Melatih anak-anak muda, berbagi pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama menjadi pemain, sekaligus belajar memahami bahwa menjadi pelatih membutuhkan kemampuan yang berbeda dengan menjadi seorang pemain.
“Passion saya memang di sepak bola,” demikian semangat yang menjadi pijakan Ardana dalam memulai perjalanan kepelatihannya.
Dari situlah ia mulai serius menekuni dunia kepelatihan.
Ardana mendapat kesempatan diperbantukan sebagai staf pelatih di PPLP Kepri, dalam upaya membangun pembinaan sepak bola di Kepulauan Riau.
Di lingkungan pembinaan atlet muda itu, Ardana tidak hanya datang untuk mengajarkan ilmu yang telah dimilikinya. Ia juga kembali belajar.
Ilmu kepelatihannya terus di-upgrade, termasuk melalui lisensi kepelatihan level 1 AFC.
Di PPLP Kepri pula, Ardana berada dalam lingkungan pembinaan atlet muda yang salah satunya adalah Sananta, yang kemudian berkembang menjadi salah satu nama penting dalam sepak bola nasional.
Bagi Ardana, masa tersebut menjadi bagian penting dari proses perjalanan dan pembentukan dirinya sebagai pelatih.
Perjalanan tersebut sempat tersendat ketika pandemi COVID-19 melanda.
Aktivitas PPLP pada periode 2019–2020 ikut terdampak dan sempat berhenti.
Ardana pun kembali ke Dabo Singkep.
Tetapi pulang bukan berarti berhenti.
Ia kembali mencoba membangun sepak bola di daerahnya. Lapangan-lapangan lokal kembali menjadi ruang pengabdiannya. Di sana ia terus berbagi ilmu dan pengalaman kepada para pemain muda.
Seolah-olah perjalanan itu kembali ke titik awal.
Namun sesungguhnya, Ardana sedang mempersiapkan langkah berikutnya.
Pada 2022, ia mendapat kesempatan diperbantukan oleh PSSI Kepri untuk menangani Pra-PON Kepri.
Pengalaman tersebut kembali membuka jalan menuju level yang lebih tinggi.
Setahun kemudian, pada 2023, Ardana mulai memasuki dunia sepak bola profesional bersama WBFC Papua di kompetisi Liga 3 Nusantara.
Selama sekitar tiga tahun, ia terus menekuni dunia sepak bola profesional dan mengumpulkan pengalaman kepelatihan.
Hingga akhirnya, pada 2026, datang sebuah kesempatan yang mungkin dahulu hanya menjadi bagian dari mimpi.
Ardana mendapat tawaran untuk menangani Panchor Murai FC, klub yang bermain di Brunei Super League.
Ia dipercaya sebagai pelatih kiper.
Bagi seorang mantan penjaga gawang yang pernah memperkuat PSMS Medan, posisi tersebut tentu memiliki makna tersendiri. Pengalaman sebagai pemain kini diterjemahkan menjadi ilmu untuk membentuk dan mengembangkan penjaga gawang.
Panchor Murai FC sendiri merupakan tim yang sebelumnya berada di papan tengah kompetisi BSL.
Kompetisi BSL sempat tidak digelar pada 2025 akibat persoalan internal sepak bola Brunei. Pada musim 2026–2027, kompetisi kembali bergulir dengan kepengurusan baru.
Di tengah kembalinya kompetisi tersebut, Ardana hadir membawa pengalaman dari Indonesia.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar membangun sepak bola di Dabo Singkep.
Ia harus membawa ilmunya ke lingkungan sepak bola profesional di negeri seberang.
Bagi Ardana, perjalanan ke Brunei bukan semata-mata pencapaian pribadi.
Ia justru berharap langkahnya dapat menjadi pintu bagi pelatih-pelatih lokal lainnya di Kepulauan Riau untuk berani bermimpi lebih jauh.
Ia pun meminta doa masyarakat Kepri, khususnya masyarakat Lingga dan Dabo Singkep, agar perjalanan barunya bersama Panchor Murai FC berjalan lancar.
Targetnya jelas: membantu Panchor Murai FC meraih prestasi terbaik dan berjuang menjadi juara BSL musim 2026.
Di balik target tersebut, terselip harapan yang lebih besar.
Agar keberhasilan seorang pelatih lokal tidak berhenti sebagai cerita tentang dirinya sendiri.
Melainkan menjadi pemantik bagi lahirnya pelatih-pelatih lain dari daerah.
Sebab sepak bola tidak selalu lahir dari stadion megah.
Kadang ia tumbuh dari lapangan sederhana, dari anak-anak kampung yang berlari mengejar bola, dari seorang pelatih yang dengan sabar membagikan ilmu, dan dari seseorang yang memilih tetap bertahan ketika jalan menuju profesionalisme tidak mudah.
Ardana pernah memulai semuanya dari Dabo Singkep.
Kini langkahnya sampai ke Brunei.
Dan di sana, ia tidak hanya membawa nama dirinya.
Ia membawa cerita tentang Lingga, tentang Kepulauan Riau, dan tentang mimpi bahwa pelatih lokal pun bisa menembus dunia sepak bola profesional.
(Adhe Bakong)
