Tanjungpinang – Salah seorang dosen yang mengabdi pada Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim (UMRAH) Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Tessa Dwi Leoni dengan kajian disertasi “Kearifan Lingkungan dan Sains dalam Karya-Karya Prosa Fiksi Abdul Kadir Ibrahim sebagai Alat Refleksi untuk Upaya Konservasi di Wilayah Kepulauan Riau” berhasil lulus dan meraih gelar Doktor dalam sidang Promosi Doktor pada Program Studi Ilmu Pendidikan Bahasa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES), di kampus UNNES, 10 Juli 2026.
Tim Penguji sebagai Ketua Dr. Muhamad Burhanudin, S.S., M.A., Sekretaris Widhiyanto, M.Pd., Ph.D, dengan para penguji Prof. Dr. Suminto A Sayuti (Penguji 1), Dr. Mulyono, S.Pd., M.Hum (Penguji 2), Dr. Mukh Doyin,M.Si (Penguji 3), Prof. Dr. Rm. Teguh Supriyanto,M.Hum (Penguji 4), dan Prof. Dr. Agus Nuryatin,M.Hum (Penguji 5). Tessa Dwi Leoni mengkaji bagaimana dari krisis global menuju realitas lingkungan di Kepulauan Riau, yang dicitakan sebagai Ground Zero.
Adapun karya prosa fiksi Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) berupa kumpulan cerita pendek adalah Menjual Natuna (2000), Harta Karun (2001), Karpet Merah Wakil Presiden (2013), Tanjung Perempuan (2013), Santet Tujuh Pulau (2013), dan novel Memburu Kasih Perempuan Sampan (2013). Adapun sastrawan Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) telah berkarya sebagai sastrawan Indonesia sejak tahun 1985 ketika masih belia dan bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pekanbaru, Riau. Dia salah seorang sastrawan yang tunak, konsisten dan produktif dalam berkarya, sehingga dalam rentang waktu lebih 40 tahun selalu ada karya bukunya yang terbit.
Pada Agustus 2024, AKIB menerima Penghargaan/ Anugerah dan Bantuan Pemerintah sebagai Sastrawan Indonesia Berkarya 40 Tahun dari Badan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek. Dia juga dikenal sebagai salah seorang penyair Indonesia, yang pada tahun 2019 mendapat Penghargaan Hari Puisi Indonesia atas buku kumpulan puisinya Jikalau Laut Dinyalakan (2019). Sebagai sastrawan, dia sebelumnya sudah menerima beberapa penghargaan ataupun anugerah, antara lain Penghargaan Sagang (2013), Penghargaan Jembia Emas (2019), Penghargaan Pemelliharaan Adat dari Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (2019), Penghargaan Penulis Puisi/ Penyair Kantor Bahasa Kepulauan Riau (2021), dan Penghargaan Kalam Serindit dari Pemerintah Kabupaten Natuna (2023).
Berkenaan dengan Disertasi berkaitan dengan karya prosa fiksi AKIB, lebih lanjut dijelaskan Tessa Dwi Leoni, antara lain tentang Eksploitasi Pasir Laut yang diangkat dalam Cerpen berjudul “Sandiwara Pasir di Singapura” yang terokaan ataupun pengkajianya focus pada pengerukan masif merusak ekosistem laut, batas maritim, dan ruang hidup. Kemudian Eksploitasi SDA Perikanan dalam Cerpen berjudul “Ayahku Sarjana” yang terokaanya focus pada penggunaan pukat harimau merusak ekosistem laut dan keterasingan masyarakat local.
Selanjutnya adalah khusus pada terumbu karang pada Cerpen “Istana Terumbu Karang” yang pengkajiannya fokus pada hilangnya rumah bagi keanekaragaman hayati laut. Kajian juga berkenaan dengan deforestasi yakni pada Novel “Memburu Kasih Perempuan Sampan” yang fokus pada lahan hijau pesisir yang berganti beton gersang industri. Tampak pula bagaimana ancaman bauksit sebagaimana dalam Cerpen “Ratu Bauksit”, yang fokus pengkajian pada eksploitasi menghancurkan ekosistem daratan dan masyarakat nyaris tak mengenali wujud asli bauksit.
“Rute strategis perdagangan global berbenturan langsung dengan ruang hidup ekologis. Eksploitasi yang diklaim sebagai pembangunan ekonomi secara perlahan menggerus ketahanan lingkungan maritim di Kepulauan Riau. Terjadi kontradiksi antara kekayaan sumber daya dan kesejahteraan yang dihasilkan,” jelas Tessa Dwi Leoni pada sidang doktor tersebut.
Tessa lebih lanjut menguraikan, bagaimana aktivitas pembangunan atas nama pertumbuhan ekonomi maka antara lain terjadi penambangan bouksit skala besar, pengerukan pasir laut (ekspor dan reklamasi), dan eksploitasi ikan, migas, dan deforestasi kota. Pada bagian lain secara nyata pula terjadinya dampak ekologis dan multidimensi. “Kesimpulannya, Pembangunan ekstraktif menyisakan jejak ekologis yang sulit dipulihkan dan memicu krisis kesejahteraan masyarakat lokal,” kata Tessa Dwi Leoni.
Disertasi yang mengkaji bagaimana kaitan penting antara karya-karya fiksi (prosa) Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) berkenaan dengan kelautan, kemaritiman ataupun kebaharian terkhusus di Kepulauan Riau, menurut Tessa dengan tujuan pertama Mengeksplanasi Kritik Ekologis terhadap Eksploitasi SDA, dan kedua Representasi Kearifan Lingkungan dan Sains Berperan dalam Upaya Konservasi Alam. “Dari penelitian ini, maka tampaklah potensi karya-karya prosa fiksi AKIB dalam memberikan perspektif kritis bagi kebijakan lingkungan di Kepulauan Riau.”
Tessa Dwi Leoni dalam Disertasinya menegaskan, bahwa Research Gap: Kajian ekokritik sebelumnya minim menyentuh kerusakan wilayah pesisir dan daratan di dalam satu kajian yang kompleks dan belum ada yang memadukan kearifan lingkungan dan sains dalam karya sastra sebagai instrumen dalam upaya konservasi lingkungan. Sementara dipandang dari ekokritik maka sastra sejatinya sebagai sarana refleksi. Dalam kaitan ini pertama, Kajian Ekokritik Glotfelty & Garrard menganalisis hubungan antara sastra dan lingkungan fisik. Kedua, sastra Lingkungan sebagai agen pembentuk kesadaran publik Lensa Ekologis AKIB karya prosa fiksi Abdul Kadir Ibrahim merepresentasikan hubungan manusia dan alam, merespons kerusakan akibat ambisi industrialisasi. Ketiga, Kearifan lingkungan dan sains pengetahuan lokal dan pengetahuan rasional, yang dapat saling membangun dalam upaya konservasi lingkungan yang rusak.
Ditegaskan Tessa Dwi Leoni, bahwa sastra tidak berangkat dari kekosongan budaya, melainkan ruang perekam narasi yang luput dari pandangan penguasa. Pembangunan dan eksploitasi secara nyata adanya kapitalisme di mana alam dipandang sebagai barang yang dapat diekstraksi, diperjualbelikan, dan menghasilkan nilai tukar. Sedangkan sastra memandang alam tidak hanya dipandang sebagai sumber daya atau objek ekonomi, melainkan sebagai latar yang dapat menampilkan ruang hidup, ruang kultural, dan relasional manusia.
Dalam mengkaji ataupun menilai kaitan karya prosa fiksi Abdul Kadir Ibrahim dengan lingkungan, tidak terlepas dari sosok keilmuan dan pengalamannya dalam perjalanannya berkifrah ataupun memberi kontribusinya di tengah kehidupan dan pergaulan masyarakat, khususnya di Kepulauan Riau. Tessa Dwi Leoni mengatakan, bahwa AKIB adalah sastrawan Melayu (asal Natuna) yang mewarisi budaya lokal, seorang jurnalis (kepekaan merekam realita sosial), dan Magister Tata Wilayah dan Kota (isu lingkungan dipahami secara akademis).
Dalam kaitan itu, Tegas Tessa, karya-karya fiksi prosa AKIB, adalah karya dengan rentang waktu yang lama sehingga memungkinkan untuk melihat perkembangan isu lingkungan. Dapat sekaligus pula diketahui dan dipahami solusi konservasi, bahwa tampak peran kearifan lokal (kearifan lingkungan) dalam karya fiksi AKIB.
Tessa Dwi Leoni dalam Disertasinya itu, menjelaskan salah satu wilayah yang mengalami dinamika isu lingkungan adalah Kepulauan Riau. Posisinya yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikan kawasan ini sebagai ruang penting bagi aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam. Dalam beberapa dekade terakhir, wilayah Kepulauan Riau mengalami berbagai bentuk eksploitasi lingkungan, seperti penambangan bauksit, pengerukan pasir laut, eksploitasi minyak bumi, industrialisasi kawasan pesisir, serta komersialisasi ruang-ruang maritim. Berbagai aktivitas tersebut menghasilkan perubahan ekologis yang signifikan, termasuk kerusakan ekosistem pesisir, abrasi, pencemaran lingkungan, berkurangnya wilayah tangkap nelayan, hingga terganggunya kehidupan masyarakat lokal.
Dalam konteks sastra Indonesia, menurutnya, karya-karya Abdul Kadir Ibrahim memiliki posisi yang penting karena secara konsisten bercerita tentang berbagai persoalan lingkungan, kehidupan masyarakat pesisir, kearifan lokal yang termasuk di dalamnya kearifan lingkungan, serta dampak pembangunan ekstraktif di Kepulauan Riau. Berbagai cerpen dan novel AKIB menghadirkan gambaran mengenai berbagai tindakan eksploitasi yang terus dilakukan tanpa adanya usaha pelestarian, hingga perubahan identitas budaya masyarakat Melayu dan Orang Laut.
Abdul Kadir Ibrahim atau yang lebih akrab disapa AKIB, merupakan salah seorang sastrawan yang turut berperan dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Sebagai sastrawan dan budayawan asli Natuna, dan dengan latar pengalamannya selama bertahun-tahun dalam dunia jurnalistik, menjadikannya begitu peka dalam menangkap berbagai realita budaya bahari dan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Melayu Kepulauan Riau, termasuk kerusakan alam.
Selain itu, terang Tessa lebih lanjut, AKIB juga merupakan seorang magister (M.T.) dari jurusan Teknik Pengelolaan Kota dan Wilayah, dengan demikian, sains turut menjadi inspirasi bagi AKIB dalam mengembangkan tulisannya. Berdasarkan hasil pembacaan awal terhadap karya-karya prosa fiksi yang ditulis oleh AKIB, dapat dilihat bagaimana kentalnya konsep ekologis dalam hubungan antara masyarakat dan lingkungan di Kepulauan Riau, terutama bagi masyarakat Suku Laut yang senantiasa hidup menyatu dengan alam.
Bagi masyarakat Suku Laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Sampan, laut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan elemen penting dalam proses kelangsungan hidup mereka. Praktik penambangan pasir tanpa izin yang kian marak di perairan Kepulauan Riau telah menghancurkan sebagian besar ekosistem laut di kawasan tersebut. Kehadiran kapal keruk berukuran besar bahkan kerap menabrak sampan sampan milik komunitas Suku Laut hingga hancur, tak jarang disertai korban jiwa.
Ditambah lagi, penangkapan ikan dalam skala besar, baik menggunakan alat modern maupun cara-cara illegal, turut melumpuhkan perekonomian keluarga yang menggantungkan hidup pada sampan kajang mereka. Sayangnya, tidak ada bentuk pertolongan nyata bagi persoalan ini, sehingga satu-satunya jalan yang tersisa bagi Orang Laut hanyalah kembali menjalankan ritual leluhur sebagai bentuk pengaduan kepada Sang Pencipta.
Menurut Tessa, sejumlah persoalan lingkungan lainnya juga tergambar dalam karya-karya fiksi AKIB. Dalam beberapa cerpennya, pengarang tampak berupaya mengangkat isu eksploitasi ilegal pasir laut yang digunakan untuk kepentingan reklamasi Singapura. Wilayah Singapura pada mulanya dikenal sangat kecil, bahkan jauh lebih kecil dari kondisinya saat ini. Dari sinilah muncul pertanyaan mendasar: mengapa luas wilayah Singapura terus bertambah besar dari waktu ke waktu?
Pertanyaan inilah yang kemudian dituturkan AKIB secara mengalir dan memikat dalam karya-karyanya. Tidak hanya menyoroti persoalan kerusakan lingkungan di kawasan laut, karya-karya prosa AKIB juga turut mengangkat isu eksploitasi sumber daya alam di wilayah daratan Kepulauan Riau. Terlihat pula bagaimana penambangan bauksit yang terus-menerus dilakukan oleh pihak asing (bekerja sama dengan penguasa atau pemerintah setempat) telah menimbulkan kerusakan lingkungan sekaligus merusak ekosistem di kawasan Bintan, Kepulauan Riau.
Selain itu, pada cerpen lainnya, digambarkan pula bagaimana eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan secara berlebihan dapat memicu bencana sekaligus menjadi bentuk kemarahan alam terhadap manusia.
Dosen FKIP Umrah itu menegaskan, penelitian yang dilakukannya berupaya mengkaji representasi eksploitasi sumber daya alam beserta dampak yang ditimbulkannya, peran kearifan lingkungan dan sains dalam upaya pelestarian lingkungan, serta kontribusi karya karya fiksi AKIB dalam menawarkan perspektif kritis yang relevan bagi upaya konservasi dan kebijakan lingkungan di Kepulauan Riau.
Penelitian ini menggunakan perspektif ekokritik untuk memahami bagaimana sastra tidak hanya merepresentasikan krisis lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran ekologis melalui pertemuan antara kearifan lingkungan masyarakat lokal dan pengetahuan ilmiah.
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sastra lingkungan, memperkaya studi ekokritik di Indonesia, serta menegaskan relevansi karya sastra sebagai media refleksi dan edukasi dalam upaya konservasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah Kepulauan Riau.
Identifikasi masalah berdasarkan latar belakang penelitian, kata Tessa, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan utama: 1) meningkatnya eksploitasi sumber daya alam di Kepulauan Riau, seperti penambangan bauksit, pengerukan pasir laut, eksploitasi minyak bumi, dan alih fungsi lahan, telah menimbulkan berbagai kerusakan ekologis yang memengaruhi keberlanjutan lingkungan pesisir dan maritime.
Selanjutnya, 2) dampak eksploitasi tersebut tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga meluas ke aspek sosial, ekonomi, dan budaya, seperti menurunnya kualitas hidup masyarakat pesisir, hilangnya mata pencaharian tradisional, marginalisasi kelompok lokal, serta memudarnya identitas dan budaya maritim masyarakat Melayu dan Orang Laut; 3) krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini banyak memberi dampak negatif terhadap perekonomian sebagian besar masyarakat di Kepulauan Riau.
Kemudian, 4) dibutuhkan solusi secara cepat dan tepat untuk mengatasi krisis iklim yang kian memburuk di wilayah Kepulauan Riau; 5) meskipun berbagai persoalan tersebut banyak direpresentasikan dalam karya-karya fiksi Abdul Kadir Ibrahim, kajian yang secara komprehensif mengungkap bentuk-bentuk eksploitasi sumber daya alam dan dampaknya dalam karya-karya tersebut masih terbatas.
Pada gilirannya, 6) peran kearifan lingkungan sebagai sistem pengetahuan ekologis lokal yang digunakan masyarakat untuk memahami, merespons, dan mengkritik kerusakan lingkungan belum banyak dikaji secara mendalam dalam penelitian sastra; 7) keberadaan unsur sains sebagai bentuk pengetahuan ekologis modern yang menjelaskan hubungan sebab-akibat berbagai kerusakan lingkungan dalam karya-karya Abdul Kadir Ibrahim juga belum memperoleh perhatian yang memadai.
Seterusnya, 8) belum banyak penelitian yang mengkaji secara terpadu hubungan antara eksploitasi sumber daya alam yang berdampak terhadap ekologis dan sosial-budaya yang ditimbulkannya, serta integrasi kearifan lingkungan dan sains sebagai dua sistem pengetahuan yang berperan dalam membangun kritik yang dapat memberikan perspektif kritis yang relevan bagi kebijakan lingkungan di Kepulauan Riau.
Oleh karena itu, tegas Tessa, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif bagaimana karya-karya fiksi Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) mengrepresentasikan eksploitasi sumber daya alam, mengkritik dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menawarkan alternatif melalui penggabungan kearifan lingkungan dan pendekatan sains sebagai alat konservasi.
Berdasarkan hasil analisis terhadap karya-karya fiksi Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) dengan menggunakan perspektif ekologi sastra, menurut kajian Disertasai Tessa Dwi Leoni, dapat disimpulkan bahwa kritik ekologis dalam karya-karya fiksi AKIB meliputi kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau. Kritik ekologis tersebut diarahkan pada eksploitasi sumber daya perikanan, terumbu karang, minyak dan gas, pasir laut, bauksit, serta penebangan hutan. Melalui berbagai cerpen dan novel yang dianalisis, AKIB menunjukkan bahwa aktivitas eksploitasi yang dilakukan atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius, baik pada ekosistem laut maupun daratan.
Alam dalam karya-karya prosa fiksi Akib tersebut, direpresentasikan bukan hanya sebagai sumber daya ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal. “Oleh karena itu, karya-karya fiksi AKIB mengandung kritik terhadap paradigma pembangunan yang bercorak antroposentris dan eksploitatif karena mengabaikan keberlanjutan lingkungan serta hak-hak masyarakat lokal yang hidup bergantung pada alam,” tegas Tessa Dwi Leoni. (Mul Ahkyar)
