LINGGA – Agustus selalu datang membawa warna merah putih. Bendera berkibar di setiap sudut negeri, lagu-lagu perjuangan kembali menggema, dan bangsa Indonesia bersiap merayakan 81 tahun kemerdekaan.
Namun, di sebuah gugusan pulau kecil di Kabupaten Lingga, semangat kemerdekaan masih diiringi kenyataan yang getir.
Di Dusun Buyu, Desa Rejai, Kecamatan Bakung Serumpun, sebanyak 176 kepala keluarga masih menanti hadirnya listrik yang dapat dinikmati sepanjang hari. Saat jutaan warga Indonesia menyalakan lampu hanya dengan menyentuh sakelar, masyarakat Buyu masih menggantungkan cahaya malam pada deru mesin diesel milik warga.
Setiap hari, tepat sekitar pukul 17.30 WIB, suara mesin dompeng memecah keheningan kampung. Mesin-mesin itu menjadi “pembangkit listrik” swadaya bagi masyarakat. Mesin berkapasitas 6 PK yang dipadukan dengan dinamo 3 kilowatt mampu menerangi tiga hingga tujuh rumah, sedangkan mesin 24 PK dapat memasok listrik ke tujuh hingga dua puluh lima rumah, bergantung pada beban yang digunakan.
Tepat sekitar pukul 22.00 WIB, mesin dimatikan. Rumah-rumah kembali tenggelam dalam gelap. Aktivitas masyarakat pun ikut berhenti. Anak-anak harus menuntaskan pekerjaan sekolah sebelum lampu padam. Pelaku usaha kecil membatasi jam produksi. Kehidupan malam di Buyu seolah ikut berhenti bersama matinya mesin diesel.
Untuk menikmati listrik selama sekitar empat setengah jam itu, setiap rumah harus membayar iuran sekitar Rp7.000 setiap malam. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan bakar sekaligus menutup biaya perawatan mesin yang seluruhnya ditanggung secara swadaya oleh pemilik.
Ironisnya, harapan akan hadirnya listrik sebenarnya sudah terlihat di Buyu.
Sejumlah tiang listrik telah berdiri di kawasan permukiman, menjadi simbol bahwa pembangunan telah menyapa kampung ini. Namun hingga kini, tiang-tiang itu masih belum menghadirkan cahaya yang dinanti masyarakat. Bagi warga, tiang listrik menjadi lambang harapan yang belum sepenuhnya terwujud.
Berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, Pulau Buyu Besar dan Pulau Buyu Kecil pernah masuk dalam rencana program elektrifikasi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dalam dokumen tersebut, Pulau Buyu Besar direncanakan memperoleh PLTS berkapasitas 45 kWp untuk sekitar 39 pelanggan, sedangkan Pulau Buyu Kecil direncanakan memperoleh PLTS berkapasitas 130 kWp yang diproyeksikan melayani sekitar 111 pelanggan.
Data itu menunjukkan bahwa kebutuhan listrik masyarakat Buyu telah lama terpetakan dalam perencanaan. Namun bagi warga, perencanaan belum sama dengan kenyataan. Yang mereka hadapi setiap malam tetaplah suara mesin diesel, biaya bahan bakar, dan keterbatasan waktu menikmati listrik.
Padahal, listrik bukan lagi sekadar soal penerangan. Ia adalah denyut kehidupan. Listrik menentukan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pertumbuhan ekonomi, hingga kesempatan generasi muda untuk bersaing di era digital.
Di saat Indonesia berbicara tentang transformasi digital, hilirisasi industri, dan pemerataan pembangunan, Buyu masih berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar: cahaya yang menyala ketika malam tiba.
Bulan Agustus selalu mengingatkan bangsa ini tentang arti kemerdekaan. Tetapi bagi masyarakat Buyu, kemerdekaan belum sepenuhnya bermakna ketika akses terhadap layanan dasar masih menjadi penantian.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap anak-anak dapat belajar tanpa dibatasi waktu, nelayan dapat meningkatkan nilai hasil tangkapan, pelaku usaha kecil bisa berkembang, dan rumah-rumah mereka diterangi listrik yang andal sebagaimana jutaan rumah lain di Indonesia.
Di usia 81 tahun Republik Indonesia, Buyu tidak sedang meminta belas kasihan. Buyu sedang menagih janji pemerataan pembangunan agar cahaya kemerdekaan benar-benar menyala hingga ke pulau-pulau terluar negeri.
(Adhe Bakong)
