Indeks
Utama  

Lintas Kepri: Pilar Mobilitas dan Kebutuhan Mendesak Masyarakat Kabupaten Lingga

Kapal MV Lintas Kepri (Photo: istimewa)

LINGGA – ‎Di Kabupaten Lingga, laut bukan sekadar hamparan biru. Ia adalah jalur kehidupan, penentu akses warga terhadap pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan. Di tengah jarak antar pulau yang luas dan keterbatasan akses darat, transportasi laut menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat. Sejak beroperasi pada 2017, Kapal Feri Lintas Kepri telah menjadi penopang utama kehidupan pulau-pulau di Lingga.

‎Lintas Kepri hadir tidak sekadar sebagai moda angkutan. Kapal ini telah menjadi sarana vital dalam kegiatan sosial, termasuk membantu proses rujukan pasien ke rumah sakit tingkat provinsi. Bagi warga yang membutuhkan penanganan medis lanjutan, kapal ini kerap menjadi penghubung nyawa, memastikan masyarakat kepulauan tidak terhambat oleh keterbatasan transportasi. Kepastian jadwal, armada yang layak, serta pelayanan yang responsif membuat masyarakat merasa aman saat menghadapi situasi genting.

‎Ketua Ormas Gagak Hitam Lingga, Ribut Satriawan, menyampaikan apresiasinya terhadap pihak Lintas Kepri yang selama ini mendukung gerak sosial organisasinya.

‎“Lintas Kepri sangat membantu gerak sosial kami. Dalam beberapa kondisi, terutama rujukan rumah sakit ke tingkat provinsi, mereka hadir dan memberi kemudahan,” ujarnya.

‎Ribut menekankan bahwa dukungan transportasi laut menjadi faktor penentu keberhasilan aksi sosial di pulau-pulau. Tanpa kapal yang bisa diandalkan, banyak kegiatan yang sering terhambat, termasuk pelayanan kesehatan masyarakat.

‎Sementara itu, Ketua Geram Lingga, Juli Wahyudi, menegaskan pentingnya keberadaan Lintas Kepri bagi kebutuhan mendesak warga.

‎“Lintas Kepri bukan sekadar alat transportasi. Bagi masyarakat Kabupaten Lingga, kapal ini adalah kebutuhan mendesak. Mobilitas warga sangat tergantung pada layanan ini, baik untuk pendidikan, kegiatan ekonomi, maupun rujukan kesehatan,” jelasnya.

‎Juli menambahkan bahwa keandalan kapal ini membantu masyarakat merasa aman, sekaligus menjaga kesinambungan kehidupan sosial di pulau-pulau yang sering terisolasi.

‎Di sisi lain, Ketua Melayu Singkep, Marbeska, memberikan perspektif tentang harapan jangka panjang. Menurutnya konsistensi pelayanan harus terus dipertahankan.

‎“Kami berharap Lintas Kepri tetap menjaga konsistensi pelayanan dan jalur pelayaran yang sudah ada. Pola yang berjalan sekarang sudah sesuai dengan kebutuhan dan kehendak masyarakat,” ujarnya.

‎Marbeska menekankan bahwa kepastian jadwal dan rute pelayaran memberi rasa aman bagi masyarakat dan memungkinkan aktivitas sehari-hari, termasuk urusan sosial dan ekonomi, berjalan lancar.

‎Dampak keberadaan Lintas Kepri tidak hanya terbatas pada akses darat dan laut. Pelayanan yang konsisten membantu memperkuat jaringan sosial masyarakat, memperlancar distribusi kebutuhan pokok, serta mendukung kegiatan ekonomi lokal. Di saat yang sama, kapal ini menjadi mitra penting dalam pelayanan sosial, terutama ketika warga memerlukan rujukan kesehatan ke rumah sakit provinsi. Dengan hampir satu dekade operasional, Lintas Kepri telah menjadi simbol kehadiran negara yang nyata di kepulauan Lingga—bukan sekadar sarana transportasi, tetapi pilar mobilitas, harapan, dan keselamatan warga.

(Adhe Bakong) 

Exit mobile version