
Malaka merupakan kota yang memiliki posisi unik dalam lanskap sejarah dan budaya Asia Tenggara. Dikenal sebagai kota peninggalan Portugis, Malaka bukan sekadar ruang geografis, melainkan simpul pertemuan peradaban Melayu, Tionghoa, Arab, Portugis, Belanda, hingga Inggris yang membentuk identitasnya hingga hari ini.
Dari sisi pembangunan modern, Malaka menunjukkan kemajuan yang seimbang. Penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai mencerminkan keseriusan pemerintah kota dalam menjamin kualitas hidup masyarakat dan wisatawan.
Malaysia menyadari pentingnya wisata kesehatan disiapkan dengan baik oleh kerajaan melengkapi Johor, Penang, Kuala Lumpur. Ketika masuk ke hotel, saya ditanya apakah sedang berobat? “Tidak berobat cuma sedang rindu dengan Malaka saja saya jawab kepada resepsionis hotel di sekitar Dataran Merdeka.” Malaka jadi kota tujuan wisata kesehatan bagi warga Indonesia.
Rumah sakit, klinik, serta layanan kesehatan yang relatif mudah diakses menjadikan Malaka bukan hanya kota tujuan wisata, tetapi juga kota yang nyaman untuk ditinggali, terutama bagi keluarga dan lansia.
Namun, kekuatan Malaka tidak berhenti pada infrastruktur. Kuliner khas Melayu, khususnya asam pedas, menjadi representasi kuat identitas lokal. Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi narasi rasa yang memadukan pengaruh Melayu pesisir dengan rempah-rempah yang dahulu diperdagangkan melalui Selat Malaka.
Asam pedas mencerminkan karakter kota itu sendiri: tajam, berani, dan kaya lapisan sejarah. Kehadiran kuliner tradisional ini juga berperan penting dalam ekonomi lokal dan pariwisata berbasis budaya.
Daya tarik utama Malaka tetap terletak pada warisan sejarahnya. Bangunan kolonial, benteng, gereja tua, kawasan kota lama, dan museum menjadi medium kolektif untuk mengenang masa lalu. Tidak banyak kota di kawasan ini yang mampu menghidupkan sejarahnya secara nyata seperti Malaka.
Wisata sejarah di kota ini tidak hanya bersifat visual, tetapi juga reflektif mengajak pengunjung memahami proses kolonialisme, perdagangan global, dan pembentukan identitas regional.
Secara keseluruhan, Malaka adalah contoh kota yang berhasil menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Ia tidak menanggalkan sejarah demi kemajuan, dan tidak pula terjebak nostalgia semata.
Dengan memadukan fasilitas publik yang memadai, kekayaan kuliner Melayu, serta narasi sejarah yang kuat, Malaka menjelma menjadi kota yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga bermakna untuk dipahami.
Pembicaraan dengan supir taksi di sana, Malaka tak seperti Johor yang memiliki raja. “Karena Sultan tak kembali lagi,” katanya.
Mencontoh Malaka
Tanjungpinang sebagai Ibu kota Provinsi Kepulauan Riau setidaknya bisa mencontoh Malaka. Perkuat keunggulan kota yang tak dimiliki Batam dari sisi sejarah dan cultural sehingga wisman dan wisnus punya pilihan selain Batam.
Jika mengandalkan potensi yang sama sama ada di Batam, maka Tanjungpinang sampai kapanpun akan menjadi kota tua yang tak mampu bersaing. Kota yang ditinggal anak-anak muda guna mencari kerja ke daerah yang potensial menyediakan lapangan pekerjaan non pemerintahan.
Malaka, memasang target 16 juta kunjungan dari 40 juta kunjungan di seluruh Malaysia. Hampir 50 persen kunjungan wisman ke Malaysia disumbangkan Malaka.
Ketika balik ke Tanjungpinang, saya bertemu dengan enam orang wisatawan asal Kuala Lumpur ke Tanjungpinang. Dia tak tahu soal Tanjungpinang karena terbatas informasi yang dia peroleh. Dia tahu cuma Batam. Akan dan ke Batam pada liburan hari keempat dan kelima. Sementara di Bintan dia habiskan waktu ke Bintan khususnya Trikora dan Lagoi.
Mereka ke Tanjungpinang mengikuti karibnya yang jadi penunjuk jalan karena pernah tau Tanjungpinang dengan bermodalkan medsos. Belum tahu nginap di hotel mana? Dan mau makan di mana?
Dari kasus turis asal Malaysia itu, mereka perlu informasi yang komprehensif soal potensi Tanjungpinang yang tak mudah di peroleh oleh turis mancanegara.
Dia mengenal wisata Tanjungpinang salah satunya Pulau Penyengat. Itupun dari TikTok. “Pulau apa yang kita disebut tak sampai Tanjungpinang jika tak menginjak kaki ke sana? Dia berkata ke saya. “Pulau Penyengat,” langsung saya informasikan ke warga Malaysia tersebut. “Itu pulaunya,” jari saya menunjukkan ke Pulau Penyengat dari tempat duduk kami di tempat duduk terbuka di belakang feri.
Pulau Penyengat dia kenal mungkin lebih populer dari destinasi lainnya di Tanjungpinang. Namun, ketika dia bertanya ,”Kita bisa lihat apa di sana?
Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur supaya wisman tak kecewa. “Encik bisa lihat masjid Sultan Riau yang sudah berusia lebih dari 200 tahun dan makam makam pahlawan Indonesia.”
Belajar ke Malaka saya kira menjadi alternatif yang baik bagaimana kota tua itu mempromosikan wisata mereka sehingga jadi destinasi favorit wisman dari pelbagai negara di dunia yang rindu kota yang asri dan penuh dengan peninggalan sejarah.
Tulisan asam pedas sahut menyahut di puluhan ruko di depan Menara Taming Sari. Kita tinggal pilih mau masakan model apa saja. Begitukah Malaka memanjakan kuliner tradisional Melayu yang tak perlu banyak merogoh kocek dan terjangkau. Lebih mudah dari seporsi asam pedas di restoran restoran seafood di Kepri.*