LINGGA – Sore itu, halaman Gedung Nasional Dabo Singkep dipenuhi suara manusia dan harapan yang dipikul bersama. Namun bagi Masni, riuh itu terasa seperti gema yang jauh. Ia berdiri diam, mendengar, menunggu seperti yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.
Masni tidak menuntut banyak. Ia hanya seorang ibu. Ia hanya ingin anaknya pulang.
lebih kurang tiga tahun PT Tiansan Alumina Indonesia hadir di Pulau Singkep, namun belum pernah benar-benar hidup. Mesin-mesin tak berputar, pintu-pintu belum terbuka, dan bagi Masni, waktu terasa berhenti di satu titik yang sama, saat anak sulungnya berpamitan untuk mencari kerja di luar daerah.
Masni memiliki dua orang anak. Yang tertua pergi bersama suaminya, membawa koper kecil dan harapan besar. Mereka meninggalkan rumah bukan karena ingin merantau, tetapi karena kampung halaman tak lagi menyediakan ruang untuk bertahan. Di Singkep, pekerjaan adalah kemewahan. Kesempatan adalah sesuatu yang harus ditunggu atau ditinggalkan.
“Kalau di sini ada kerja, mengapa harus jauh?” Ungkap Masni lirih.
Harapan itu kembali ia suarakan di hadapan Media usai Rapat Akbar Terbuka Masyarakat Kabupaten Lingga yang digelar Aliansi Masyarakat Lingga, Minggu (21/12/2025).
PT Tiansan digadang-gadang menjadi jawaban. Sebuah pintu yang kelak terbuka bagi anak-anak di Kabupaten Lingga agar tak perlu menjadi tamu di tanah orang. Sebuah janji bahwa pulau kecil ini masih punya masa depan bagi warganya sendiri.
Namun janji itu terhenti di batas yang tak kasatmata garis imajiner bernama kawasan latihan militer.
Lokasi perusahaan yang berdampingan dengan daerah latihan TNI Angkatan Laut membuat rekomendasi dari Kementerian Pertahanan belum juga terbit. Padahal, menurut perusahaan, semua izin telah lengkap. Yang tersisa hanyalah satu kata yang terus menggantung di udara: menunggu.
Wakil Bupati Lingga, Novrizal, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah berikhtiar. Surat telah dikirim, jawaban telah diterima. Kementerian Pertahanan pada prinsipnya mendukung investasi tersebut. Namun dari tiga titik lahan pengganti yang ditawarkan untuk daerah latihan militer, belum satu pun disetujui.
Di sanalah dilema itu berdiam:
negara menjaga pertahanan,
rakyat kecil menjaga harapan.
Dan di antara dua kepentingan besar itu, ada Masni yang setiap pagi membuka pintu rumah dengan perasaan yang sama: sunyi.
Bagi Masni, PT Tiansan bukan sekadar proyek industri atau angka investasi. Ia adalah kemungkinan. Kemungkinan anaknya pulang. Kemungkinan makan bersama tanpa menunggu hari libur. Kemungkinan menjalani tua tanpa rindu yang ditahan di dada.
Ia tak berbicara tentang geopolitik, regulasi, atau strategi pertahanan. Ia hanya tahu satu hal: tanah ini adalah tempat ia melahirkan anak-anaknya, dan di tanah inilah seharusnya mereka bisa hidup.
Rapat berakhir. Orang-orang mulai beranjak. Masni melangkah pulang dengan langkah pelan. Tidak ada kepastian yang ia bawa, hanya harapan yang kembali ia lipat rapi di dalam hati.
Seperti banyak ibu di Singkep, Masni tetap menunggu.
Menunggu negara selesai berdiskusi.
Menunggu perusahaan mulai bekerja.
Menunggu anaknya pulang—
di tanah yang seharusnya tak pernah memaksa mereka pergi.
(Adhe Bakong)
