Indeks

Kritik Lewat Puisi

Peringatan 23 tahun Provinsi Kepulauan Riau dimaknai para penyair di Tanjungpinang dengan membaca puisi puisi di pelataran Tepi Laut Tanjungpinang yang saat ini dalam proses lelang itu.

Sebanyak 23 penyair tampil membacakan puisi karangan mereka sendiri dan juga karya karya penyair besar tanah air. Pembaca puisi pertama dilakukan Dicky, mahasiswa semester 1 Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UMRAH. Dia membaca karya sastrawan Kepri Rida K Liamsi.

Yang menarik kritik kritik terhadap kinerja pemerintahan Kepri selama 23 tahun tak lepas dari sorotan para penyair pada malam itu.

Ada Erizal Norman, penyair yang lama tenggelam, kini muncul lagi menyoroti soal pelbagai persoalan termasuk mulai terkikisnya tanah tanah warga yang diambil alih oleh pihak lain. Erizal dengan motor tuanya menerobos malam kembali ke Tanjung Uban setelah membaca puisi.

Ada penyair Priyo Handoko menyoroti soal sejarah Provinsi Kepri dari awal rencana mendirikan memisahkan hubungan dengan Provinsi induk Riau. Hingga 23 tahun Kepri menjadi daerah otonom.

Zainal Takdir yang menutup pesta membaca puisi dengan baik. Dalam puisinya tersimpan dan mengandung pesan pesan moral bagaimana Provinsi ini harusnya dijalankan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat.

Ada Afitri Susanti, Sabri juga tak kalah menampilkan karya sendiri yang mengetarkan.

Bahkan Sabri tampil dengan baju compang camping seolah olah berpesan, bahwa provinsi ini sudah 23 tahun, yang sejahtera elitnya.

Sementara rakyatnya biasa biasa saja lebih kurang seperti 23 tahun ketika masih bergabung dengan Riau. Mereka yang nelayan tetap masih jadi nelayan. Mereka dulunya petani dan kontraktor, sampai sekarang masih jadi petani. Mereka yang dulu jadi tukang ojek, tetap masih jadi ojek.

Ada teman yang sebelum pemekaran dari Provinsi Riau mereka sudah jadi kontraktor dan banyak dapat proyek dari Pemprov Riau, eh setelah jadi provinsi malah bercerita susah dapat proyek.

Karena proyek proyek dikendalikan orang orang tertentu atau kartel proyek. Sehingga dia memutuskan berhenti jadi kontraktor. Kini menikmati masa masa tua sambil menikmati kedai kopi yang harganya Rp6.000 per gelas di Bintan Centre.

Memang ada perubahan nasib lebih baik yakni kalangan elitnya yang jadi amtenar atau pegawai pemerintah atau pelayan rakyat. Karena 23 tahun pejabat pejabat di Dompak diberikan tunjangan yang melimpah. Kepala dinas tunjangan mereka di atas sekitar Rp38-42 juta per bulan.

Kepala bidang di dinas provinsi di angka Rp21 juta. Sedangkan pejabat eselon IV atau kasi di angka Rp12 juta. Sekretaris Daerah diberikan tunjangan di atas Rp75 juta per bulan.

Jangan heran lapangan kantor gubernur layaknya kontestasi mobil mobil berjejer terpajang. Melambangkan kemakmuran elitnya. Makanya pemerintahnya suka membangun proyek proyek mercusuar yang tak membumi.

Ya, jembatan Batam Bintan dikejar kejar dari tahun 2004 sampai 2025 juga tak jadi jadi. Puluhan miliar pembebasan tanah dibayarkan tapi tanahnya belum dilalui jembatan.

Mengapa protek itu hanya dijanjikan? Karena proyek itu tak penting bagi pusat dan tak penting bagi rakyat, makanya dibiarkan dan hanya dijanjikan saja. Pemerintah pusat ingin proyek yang bersentuhan langsung dengan rakyat dirasakan rakyat yang dapat membuat dapur berasap.

Misalnya proyek makanan bergizi gratis yang nilainya terbesar di APBN Indonesia tahun 2026 menembus Rp268 triliun. Lebih besar dari proyek Kementerian PU yang dipakai untuk pembangunan infrastruktur hanya Rp118 triliun.

Lekingan suara penyair malam itu dengan bait bait kata yang mengandung pesan moral membuat penonton yang hadir di Tepi Laut tak beranjak. Mereka yang tengah melintasi Tepi Laut ada yang berhenti. Menonton anak anak muda hingga penyair tua tetap kritis menyampaikan lewat kata kata yang indah dan irama yang turun naik serta diiringi musik.

Kata kata itu melekat ke ingatan yang bisa merubah cara pandang kita terhadap sesuatu masalah.

Wan Syamsi, dan Abdul Kadir Ibrahim penyair senior di Kepulauan Riau turut serta membaca puisi. Kedua pejabat ini tak membacs puisi kritis, namun puisi romantisme soal cinta kepada Sang Pencipta.

Selain penyair penyair yang sudah berkarya puluhan tahun, ada juga penyair muda muncul membaca puisi dengan baik.

Perhimpunan Penulis Kepulauan Riau (PPKR) menargetkan setiap bulan membaca puisi untuk tetap terus membudayakan Tanjungpinang sebagai kota yang hidup tumbuh bidang sastranya.

Sebelum saya membacakan puisi, saya mengingatkan teman teman yang hadir, terus berkarya. Jangan pernah lelah menulis karya sastra dan membaca puisi. Meminjam kata Sri Mulyani, jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Kita pinjam jangan lelah mencintai karya sastra.

Walaupun terkadang untuk mempersiapkan pembacaan puisi, mereka yang tergabung di dalam group WhatsApp PPPK urunan mulai dari 50 ribu hingga Rp500 ribu. Dana yang terkumpul digunakan untuk mencetak spanduk, hingga sewa penggeras suara.

Bulan Oktober 2025, Tanjungpinang akan kedatangan penyair penyair top Indonesia. Dan dari Singapore dan Malaysia. Setidaknya hampir 90 penyair akan tampil membacakan puisi dari pagi hingga malam hari pada akhir Oktober mendatang.

Ada Presiden Penyair Indonesia asal Kepulauan Riau Sutarji Calzoum Bahri, yang jadi bintang bersama penyair besar lainnya.

Pembacaan puisi dengan persiapan seadanya harus dilestarikan karena puisi itu termasuk sebuah harta kekayaan sastra.

Mungkin generasi saat ini tak menghasilkan karya sebesar Raja Ali Haji melalui Gurindam 12. Namun dengan membaca karya Raja Ali Haji, kita dapat mengambil pelajaran berharga bagaimana karya sastra mempengaruhi kehidupan.

Maka tak ada cara lain, pemerintah harusnya memberikan dukungan terhadap anak anak daerah untuk terus menelurkan karya karya sastra mereka dan memfasilitasi mereka untuk membacakan, membukukan karya mereka.

Biaya yang dikeluarkan untuk semua itu tak sebesar seluruh biaya perjalanan dinas Pemprov Kepri yang bisa tembus Rp 143 miliar di tahun 2024. Tentu saja dihabiskan oleh elit elit daerah yang jadi amtenar. *

 

Oleh: Robby Patria 

 

Exit mobile version