Indeks

Bedelau atau Pelalau

Husnizar Hood

Bukan main girang hati kawan saya Mahmud ketika kemarin ia mendengar kalau saya mengajak dia pergi menuju negeri Riau, kami akan ke Pekanbaru.

Habis solat Subuh tak lengah pesan singkatnyapun sudah masuk, “Saya sudah siap Tok”, begitu katanya di whatsapp padahal hari masih gelap dan kapal pertama ke Batam itu nanti jam 7.30.

Kami berdua memang nak ke Pekanbaru dan kalau ke Pekanbaru itu kami harus melalui bandara Hang Nadim Batam tak ada lagi kapal terbang yang langsung dari bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, dulu pernah ada tapi kemudian menghilang katanya tak ada penumpang, saya tak tahu apa penyebabnya apa orang Tanjungpinang masih berseteru dengan orang Pekanbaru.

Ada helat besar akan berlangsung disana sejak Tanggal 7 sd 10 Agustus 2025 ini, Festival Budaya Melayu Serumpun namanya, dibuat bersempena Hari Ulang Tahun Riau ke 68.

“Ha? Riau baru 68 tahun usianya?”, sempat kawan saya Mahmud setengah terpekik bertanya, waktu itu kami sedang berbual di kedai kopi kemarin sebab kawan saya itu sangat tahu kalau Riau Lingga Johor dan Pahang itu adalah sebuah emperium besar pada masanya berabad-abad dulu setelah emperium Malaka.

“Ini usia pemerintahan provinsinya Mud”, jawab saya. Kawan saya Mahmud itu nampak menoleh, wajahnya memandang jauh ke jalanan yang semakin hari semakin padat saja terasa, begitu juga kenangan di tahun 1957 – 68 tahun yang lalu ketika ibukota provinsi Riau berpindah dari Tanjungpinang ke Pekanbaru, yang membuat kawan saya Mahmud harus menarik nafas panjang serta dalam-dalam.

“Sejarah sudah dibuat dan sejarah juga mencatat akhirnya negeri ini harus berpisah jua dalam pemerintahannya tapi tetap satu dalam rampai budayanya”, begitu ujar Mahmud layaknya seperti seorang pujangga.

Hmmm, kalau dia agak lebay begitu saya kadang agak muak mendengarnya tapi kalau menengok semangat kemelayuannya kawan saya itu memang pantas saya ajak ke helat besar itu, Mahmud kawan saya harus melihat bagaimana mereka membawa kembali alat-alat kebesaran kerajaan Siak yang selama ini tersimpan di museum Jakarta itu kini dapat kembali ke kampung halamannya dan dipamerkan.

Bukankah kawan saya Mahmud sejak tahun 2001 pernah berfoto sambil menggengam alat kebesaran kerajaan Riau Lingga “Regalia Sirih Besar”, yang ada di museum yang sama di Jakarta dan niatnya hanya satu, bagaimana alat kebesaran itu dapat kembali ke kampung halamanya dan dapat disaksikan oleh semua orang dalam bentuk pameran.

“Mungkin awak salah seorang di zaman sekarang yang dapat memegang regalia itu Mud, ucap saya. Sebab saya tahu begitu bernilainya alat kebesaran itu karena jika tanpa regalia maka tak diakui orang itu sebagai pemimpin atau sultan dalam sebuah kerajaan. Ia harus ditabalkan.

Mahmud tersenyum-senyum bangga, tapi disebalik senyum-senyumnya itu dia sempat bertanya juga pada saya, “Katanya Riau defisit, banyak tunda bayar sampai-sampai karena heboh hal tunda bayar itu ada yang tersinggung dan akhirnya menunda berkawan”.

Uh, mak, agak lain pertanyaan kawan saya Mahmud ini, “Tunda bayar itu satu hal lain Mud, tapi jangan gara-gara alasan tunda bayar membuat kita menunda hal yang lain-lain, analoginya jangan karena alasan kita hidup susah kita tak mau besedekah”, balas saya agak meninggi.

Sebetulnya menjelaskan ke Mahmud ini menghabiskan waktu dan tenaga saja, dia bukan penentu kebijakan, dia bukan pemerintah dia bukan juga anggota dewan, yang jelas orang Riau itu sadar, kalau bercakap tentang Riau yang pertama itu budayanya dan yang kedua itu adalah alamnya karena dari alam itulah budaya itu lahir karena itu menjaga alam dan menjaga budaya itulah marwah tertinggi yang harus tetap terjaga di Riau. Siapa memilih jalan itu dia cerdas dan dia bernasib baik.

Mendengar ucapan saya, kawan saya Mahmud nampak terangguk-angguk, kapal Fery kami sudah mendekati pelabuhan Punggur Batam, saya tak tahu dia mengangguk-angguk itu antara paham atau dia mulai merasa mengantuk.

Dua hal ini yang ditiru kawan saya Mahmud, katanya beberapa kali dia bicara soal budaya dengan pemerintah di kampung tempat tinggalnya orang-orang dihadapannya itu hanya mengangguk-angguk saja.

“Cobalah awak bercakap pula soal alam Mud, maksud saya budaya dan alam itu adalah satu siapa tahu mereka jadi bersemangat”, cegat saya.

“Alam yang 95% laut penuh misteri walau hanya menyisakan 5% daratan tapi ia menghasilkan bijih bauksit 4,2 juta ton, bijih bauksit yang disita dan entah bagaimana dulu cara menambangnya dan harga per tonnya itu paling murah 12 dollar US, kalau dengan kurs 15 ribu, maka 20 ton cukuplah buat bantu baca puisi hari kemerdekaan nanti”, kawan saya Mahmud nampak ia bercakap seperti ingin berdiri.

Penumpang kapal pun memang sudah mulai berdiri itu berarti kapal sudah merapat karena kami harus bergegas naik taksi dan terus ke bandara agar tidak terlambat.

Ke Pekanbaru Riau itu laman tempat kami bermain dulu, ketika Riau dan Kepri masih menyatu dan kini panggilan itu datang lagi, memang orang bilang sejarah itu akan berulang.

Di dalam taksi kawan saya Mahmud menunjukkan saya ada status facebook seorang seniman yang bangga dengan Gubernur mereka yang menerbitkan sebuah buku kecil judulnya “Syair Negeri Bedelau”.

“Kalau kampung kita sedang buat apa Mud?”, tanya saya.
“Syair Negeri Pelalau”, jawabnya agak setengah bergurau.

Lama juga saya mencari makna kata “pelalau” itu, “Pelalau” dalam bahasa Indonesia merujuk pada penghalang, perintang, atau sesuatu yang digunakan untuk menghalangi, biasanya pada jodoh tapi kini mungkin bisa juga dipakai pada rekening, kalau 3 bulan tak aktif kena pelalau, diblokir.

 

Oleh : Husnizar Hood 

 

Exit mobile version