Panel surya terpasang di atap gedung perusahaan jasa kontruksi Migas lepas pantai, McDermott Batam. f-ist
Transformasi dan integrasi pembangunan Batam berjalan, menuju Batam Kota Baru. Energi transisi, gas bumi dan surya sebagai energi terbarukan, menjadi penyokong. Ditargetkan, tahun 2027 Batam menjadi kota gas bumi. Pada tahun yang sama, EBT jenis tenaga surya, mencapai 25 persen di Batam.
Laporan Martua, Batam
Via Yuni, memutar katup pipa disamping rumahnya. Terlihat pipa yang melekat didinding samping rumahnya. Menjulur sampai ke arah dapur rumahnya dan tersambung dengan kompor gas miliknya. Tidak lama kemudian, ia menghidupkan kompor gas miliknya.
Saat ditemui, Sabtu (3/8/2024), Via yang tinggal di Perumahan Tunas Regency, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), heblndak memasak. “Sekali klik, api berwarna biru keluar dan memanaskan kuali, diatasnya,” katanya.
Sudah sekitar satu tahun, ia dan warga di kota industri, yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia itu, menikmati gas bumi, yang dikategorikan sebagai energi transisi.
Diakui, selain lebih hemat, gas bumi tidak repot antar jemput tabung, juga pembayaran bisa dilakukan secara elektronik. Pembayaran bisa menggunakan e-banking. Kemudian, tidak harus selalu was-was, saat mengganti tabung.
“Setelah mendapat jaringan gas (jargas) dari PGN subholding gas Pertamina di rumah kami ini, kami merasa dimudahkan. Tidak repot cari gas dan tidak khawatir bocor tabung. Tinggal gas,” terang Via.
Via merupakan satu dari 5.774 rumah tangga, yang kini sudah menikmati gas bumi, sebagai energi transisi. Gas bumi menjadi energi transisi, selain energi baru terbarukan (EBT) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), pendukung kota di perbatasan ini, menuju Kota Baru.
Dimana, Wali Kota, juga Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, mencanangkan Batam menjadi Kota Baru, pada tahun 2029 mendatang. Batam menjadi Kota Baru, dengan infrastruktur lebih baik, modern, ekonomi berkembang terus dari pertumbuhan 7,04 persen tahun 2023, diikuti teknologi lebih maju.
“Semua masyarakat diharap, bisa menikmati energi transisi seperti gas bumi dan industri menikmati EBT, saat Batam menjadi Kota Baru,” kata Rudi.
Respon Rudi itu juga, salah satu faktor yang memudahkan PGN membangun jaringan distribusi di Batam. Tim PGN yang dipimpin Sales Head Area PGN Batam, Wendi Purwanto, juga sudah menemui Muhammad Rudi di kantornya.
Sehingga saat melakukan pembangunan pipa induk jaringan gas bumi di area baru, tidak mengalami kendala. Masyarakat juga menyambut dan menunggu sambungan baru gas bumi ke dapur. Saat ini pembangunan pipa menuju, 167 kawasan perumahan di Batam sudah dilakukan. Ditargetkan November 2024 sampai 2025 mendatang, aliran gas bumi sudah tersambung.
“Di 167 perumahan itu, akan 20 ribu sambungan pelanggan baru. Sampai awal tahun 2025, akan tersambung. Itu perumahan di Kecamatan Batuaji, Sagulung dan Batam Kota,” jelas Wendi
Jumlah itu diluar 5.774 jaringan rumah tangga yang sudah tersambung. Belum termaksud 170 sambungan untuk industri, komersial, usaha kecil dan pembangkit listrik. Sehingga, total pelanggan gas bumi di Batam, hingga saat ini sekitar 5.944.
“Kementerian ESDM dan PGN, menargetkan, pada tahun 2027 mendatang, pengguna gas bumi mencapai 250 ribu. Sesuai target pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM, gas bumi akan menopang transisi energi di Batam,” beber Wendi.
Gas bumi dikembangkan, dalam memenuhi kebutuhan energi Batam kedepan. Termaksud industri, yang saat ini sebagian sudah menggunakan gas bumi untuk mendukung produksi. Seperti perusahaan asal Jepang, Tomoe Valve Batam.
Perusahaan yang beroperasi di Kawasan Industri Latrade Industrial Park, Batam, menggunakan gas bumi, untuk membentuk valve atau katup. Batangan-batangan timah dilebur dan dibentuk menjadi valve, dengan menggunakan gas bumi. Katup itu diekspor ke Jepang, selain Taiwan, Singapura, Philippina, Thailand, Cina dan Amerika Serikat itu.
“Energi untuk melebur timah dan mengeringkan katup yang baru dibentuk, menggunakan pakai gas bumi dari PGN,” Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam, Herguntata Agus.
Pemanfaatan energi sehat ini juga diterapkan PT PLN Batam. PLN Batam mengelola lebih dari 90 miliar british thermal unit per hari (MBBTUD). Gas bumi dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tanjung Uncang dengan daya 2 x 35 Megawatt (MW).
Kemudian, PLTG Panaran 1 memiliki kapasitas 2×27,75 MW dan PLTG Panaran 2, memiliki kapasitas 2×27,75 MW. Kemudian, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Baloi 30 MW.
Untuk Kawasan Industri Batamindo, Panbil Industrial Park dan Kawasan industri Tunas, pembangkit listrik dikelola sendiri. Pembangkit listrik di Batamindo Industrial Park menerima gas bumi sekitar 12,3 BBTUD per hari. Kemudian, Kawasan Industri Panbil sebesar 4.3 BBTUD dan Kawasan industri Tunas sekitar 1,5 BBTUD gas bumi.
- Industri Batam Nikmati EBT
PLTG-PLTG ini, kini mendapat dukungan energi baru terbarukan (EBT) yang dikelola PLN Batam. PLN membantu perusahaan industri di Batam, menerima energi terbarukan, dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Langkah ini juga menjawab penugasan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Dimana Kemen ESDM menjadikan Batam, sebagai percontohan daerah kepulauan, energi bersih atau EBT.
PLN Batam menjawab tantangan yang termuat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Sesuai Kepmen Nomor 93.K/TL.01/MEM.L/2023 tentang Pengesahan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN Batam, tahun 2023 sampai dengan tahun 2032.
Ditargetkan, bauran EBT di Batam, mencapai 25 persen, pada tahun 2027. Terus meningkat secara bertahap hingga mencapai 35 persen pada tahun 2032. Hingga tercapai Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 mendatang
Penguatan EBT yang dilakukan PLN, mendukung industri di Batam, menjawab tantangan saat tahun 2025, diberlakukan pajak emisi karbon, sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).
Dimana, PLN Batam membantu perusahaan industri, seperti, PT Sat Nusapersada Tbk di Kecamatan Lubuk Baja, Batam. Dengan pengelolaan ditangani PLN Batam, Sat Nusapersada, menjadi salah satu perusahaan, yang sudah menikmati EBT.
Menurut Legal PT Sat Nusapersada Tbk, Smaily Andi, Senin (12/8/2024), mereka memanfaatkan EBT, sebagai persiapan jelang tahun 2025. Dimana, industri yang berstatus Tbk, berkewajiban memanfaatkan EBT. Jika tidak, perusahaan akan dikenakan pajak karbon, yang berlaku mulai tahun 2025.
Hingga PLTS rooftop on grid dibangun PLN, sebagai sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan teknologi fotovoltaik, untuk industri-industri di Batam. “Pajak karbon sudah diberlakukan 2025. Sekarang mulai siapkan diri dan dukung kebijakan pemerintah,” tegas Andi.
PLTS yang dimanfaatkan industri manufakturing, PT Sat Nusapersada, sejak April 2023 lalu, dikelola PLN Batam, lewat anak perusahaannya, PT Pelayanan Energi Batam (PEB). Panel-panel surya dipasang diatas atap dua gedung pabrik PT Sat Nusapersada.
Diakui Andi, pemasangan yang dilakukan PLN Batam, atas permintaan perusahaan mereka. Sejalan dengan kebijakan ramah lingkungan di PT Sat Nusapersada.
“Daya itu dinikmati industri itu, sekaligus memberikan sumbangsih bagi penurunan emisi,” terangnya.
Energi yang dihasilkan PLTS diatap perusahaan itu, mampu mendukung keandalan listrik internal, dengan Peak Sun Hour (PSH) sekitar 4 Jam. Tercatat, pada jam irradiasi atau intensitas energi matahari yang mengenai panel surya di PT Sat Nusapersada, per bulan, menghasilkan 359 Kilo Watt peak (KWp).
“Tergantung cuaca juga, karena mempengaruhi panas yang dihasilkan. Nanti, daya dihasilkan PLTS, secara otomatis disinkronkan dengan daya yang disalurkan PLN dari pembangkit lain,” beber Andi
Pihaknya memilih bekerjasama dengan PLN Batam dalam penyediaan dan pengoperasian PLTS, karena lebih murah. Dimana, PT Sat Nusapersada tidak memerlukan biaya pemeliharaan. Kemudian tidak perlu menyediakan karyawan untuk mengoperasikan PLTS.
“Kita kerjasama dengan PLN Batam. Jadi bukan kita yang bangun dan mengoperasikan PLTS-nya. Kerjasama dengan PLN, kita lebih hemat. Mereka operasional dan biaya pemeliharaan,” ujar dia.
Perusahaan jasa kontruksi pabrik lepas minyak dan gas (Migas), asal Amerika Serikat (AS), McDermott Indonesia di Batuampar, Batam, juga menikmati PLTS. Diatas atap kantor perusahaan itu, kini terpasang ribuan panel surya. Sama seperti dilakukan PT Sat Nusapersada.
McDermott, memanfaatkan energi dari PLTS, yang dibangun PLN, dengan daya 180 KWp. PLTS ini beroperasi sejak 24 November 2023. “Kita manfaatkan atap jadi efisien. EBT ini sudah tuntutan global. Menurunkan emisi, dan mendorong industri hijau dengan energi terbarukan,” ungkap Manager Government Affair PT McDermott Indonesia, Syahrial.
Menanggapi respon perusahaan-perusahaan itu, Vice President of Public Relations bright PLN Batam, Bukti Panggabean mengatakan, pengembangan pemasangan panel surya terus dilakukan. Termaksud untuk daya yang dihasilkan PLTS di McDermott. Nantinya total daya yang akan dibangun di McDermott, berkapasitas 6.285 KWp atau 6,2 Mega Watt peak (MWp). Kemudian akan ada tambahan 2 MWp lagi pada pembangunan tahap selanjutnya.
Kedepan, PLTS atap McDermott, menggunakan sekitar 11.428 pcs modul panel surya dengan sistem Photovoltaic Rooftop atau terpasang di atap. Panel surya tersebar di 24 lokasi di area seluas area seluas 28.963 M2 milik McDermott.
Saat ini dan kedepan, pengembangan PLTS terus berjalan. Bahkan PLN Batam sudah menghadirkan anak perusahaan, PT Pelayanan Energi Batam (PEB).
PT PEB sendiri, bertanggungjawab atas pengelolaan PLTS di Batam. Sehingga ada satu unit usaha, yang khusus membangun hingga melakukan pemeliharaan PLTS di perusahaan-perusahaan di Batam.
PT PEB juga yang membangun memelihara PLTS di perusahaan lainnya. “Di perusahaan industri, disiapkan teknisi, sesuai kebutuhan pemeliharaan alat. Tapi, maintance PLTS tidak ribet seperti pembangkit listrik lain,” terangnya.
Diakui Bukti, saat ini pihaknya sudah menerima banyak permintaan pemasangan dan pengelolaan PLTS, dari perusahaan industri. Seperti pemasangan PLTS di PT Ecogreen Oleochemicals Batam (EOB), dengan daya parsial 338 kWp, yang sudah dilakukan.
Bahkan, Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, yang listriknya terkoneksi dengan Batam, sudah menikmati EBT. EBT disalurkan lewat PLTS Tanjung Uma, Batam, berkapasitas 1.000 kWp atau 1 MWp.
“Yang Tanjung Uma, masuk ke sistem interkoneksi Kota Batam-Kabupaten Bintan. PLTS Tanjung Uma menghasilkan 1.000 kWp,” beber Bukti.
PLN Batam melakukan proses menuju pembangunan PLTS, dengan PT Bandara Internasional Batam (BIB), PT Karya Teknik Utama di Sagulung, PT Karya Teknik Utama di Batuampar dan PT Bumi Abadi Tegarsakti.
Ada juga, ada PT Sinergy Oil Nusantara, PT Citra Lautan Teduh, PT Pasifik Karya Sindo Perkasa, PT Inti Karya Persada Tekhnik (IKPT), PT Servotech Indonesia, PT Tunas Group, PT Panasonic.
Kemudian, pembangunan PLTS floating Tembesi, dengan kapasitas 35 MWac, menggunakan skema Independent Power Producer (IPP) atau jual listrik ke PLN (IPP).
“PLN akan selalu mendukung program sehat lingkungan, termaksud dengan mengembangkan PLTS,” imbuh Bukti mengakhiri***
